Perjalanan Para Pemimpi

Perjalanan Para Pemimpi
Hampir Berkelahi


__ADS_3

" Kalian ini kenapa sih." Haru merelai Tiva dan Ninda yang terlihat mulai main tangan.


" Dia yang lebih dulu menarik ku ke sini untuk bertengkar." Ninda berteriak marah.


" Enak saja, aku memintamu untuk berbicara sebentar tapi kau malah banyak bac*t." Tiva membela diri.


" Hah, kau  yang memancingku untuk marah." Ninda ingin memukuli Tiva tapi di tahan oleh Haru.


" Yang mancing kau tuh siapa, kau nya aja yang bertingkah baik di depan tapi bicara di belakang." Tiva berteriak pada Ninda.


" Penghianat." Tiva menatap tajam Ninda.


" Kau yang sok baik tapi mau menang sendiri." Ninda balas menatap tajam.


" Diam !" Haru yang berada di tenga mulai bicara.


"Kalau ada masalah itu bicara baik baik, kalian berdua sama saja, sama sama suka bicara ngegas, kalian itu sahabat, kenapa bertengkar kayak gini." Haru bicara dengan ekspresi wajah datar.


"Tapi,"


"Tidak ada tapi tapian Ninda." Haru menekan perkataannya.


" Kami bukan sahabat lagi." Tiva membuang muka.


" Kalian ini sudah pakai seragam putih biru, tapi kelakuan kayak anak seragam kuning hijau." Haru menarik napas.


" Buat apa bersahabat dengan orang yang mau menang sendiri, pahlawan kesiangan lagi." Ninda berjalan mundur.


" Buat apa pula bersahabat dengan orang yang bicara di belakang, muka ku tuh di depan, kenapa bicara di belakangku." Tiva tersenyum sinis.


" Kubilang diam." Haru memegangi kepalanya.

__ADS_1


'itu orang apa kulkas pintu sepuluh, dingin benner." Aku melihat Haru yang terlihat begitu dingin dan tegas.


" Sekarang pulang kalian berdua." Haru menunjuk jalan yang kami lewati barusan.


Tiva mengambil tasnya yang tergeletak tak jauh dari tempatnya dan berjalan pulang.


" Ninda pulang sekarang, pak Suryo sudah menunggu." Haru menarik tangan Ninda pergi.


Aku hanya menyusul mereka dari belakang. Ninda yang di tarik hanya bisa pasrah.


Kami berjalan menuju halte. Tanpa bicara sedikit pun.


"Naik." Haru melepas tangan Ninda.


" Iya iya." Ninda terlihat kesal.


" Pak antar Ninda pulang, aku ada keperluan sebentar." Haru bicara dengan orang yang berada di dalam mobil.


Mereka kan orang kaya jadi wajar punya sopir.


Setelah mobil yang di naikin Ninda pergi. Haru berjalan meninggalkan halte.


" Hkumm, haahhh, aku harus menunggu seharian untuk bus berikutnya, menyebalkan, andai aku tidak melewatkan bus tadi, sekarang aku harus berjalan kaki." Aku sengaja setengah berteriak agar Haru ingat janjinya barusan.


' astaga dasar, hanya bisa janji tapi gak bisa nepatin.' aku kesal karena Haru pergi begitu saja.


" Taksi." Haru memberhentikan sebuah taksi.


" Naik." Haru menatapku.


Aku berjalan menuju taksi tersebut dan naik.

__ADS_1


" Antarkan dia pulang yah pak." Haru mengeluarkan uang dari sakunya dan memberikannya pada pak sopir taksi.


" Terima kasih." Aku berterima kasih dengan muka malu, aku baru saja berburuk sangka padanya.


" Humm, terima kasih kembali." Haru mengangguk.


Saat Haru berjalan pergi. Pak sopir taksi menatapku.


" Alamatnya." Pak sopir taksi bertanya.


" Owh iya aku lupa." Aku menepuk jidat, aku lupa memberikan alamatku pada pak supir taksi.


Aku menyebutkan alamatku pada pak sopir taksi dan pak supir taksi mengantarku pulang sampai ke rumah.


A/N


gimana ? lanjut ?


gimana menurut kalian tentang novel ini ?


komen di bawah yah !


Insya Allah up 2 chapter tiap malam. jadi akan selesai dalam 50 hari. sekedar informasi novel ini sebenarnya sudah selesai cuman Author ngetiknya di aplikasi lain jadi copy paste ke Noveltoon. mungkin ada yang lupa di perbaiki ejaannya atau kerapiannya. jadi mohon dimaklumi. jadi kalau ada yang lupa di bold atau italic, lupa di perbaiki tata letaknya. mohon di maklumi yah.


Perjalanan Para Pemimpi tamat di chapter 100. jadi kalau lancar 2 chapter tiap malam. Insyaallah selesai ± 2 bulan.


see you in the next Chapter !


salam panda Bulan :


^^^Vera Zaira ♡^^^

__ADS_1


__ADS_2