Perjalanan Para Pemimpi

Perjalanan Para Pemimpi
Kita Senasib


__ADS_3

"Sebenarnya, nilaiku turun semester lalu." Ungkap Jay-yum dengan sedih.


"Aku sangat kecewa, kenapa nilai raport ku seperti itu, sedangkan teman sekaligus sahabatku yang selalu bergantung padaku mendapat nilai yang lebih tinggi." Jay-yum menghela nafas.


"Dan yang lebih mengenaskan lagi." Jay-yum menatapku.


"Dia bertingkah seperti tidak membutuhkanku. Seperti aku yang membutuhkannya."


"Aku sangat kesal, aku harus memperbaiki nilaiku dan berusaha agar tidak anjlok." Ungkap Jay-yum kesal.


"Kita sama Jay." Ucapku membuat Jay-yum menatapku heran.


"Nilaiku semester lalu juga hancur. Aku tidak tau kenapa. Aku menangis dan menangis meratapi raport ku."


" Tapi, aku kemudian sadar. Menyesal dan menangis tidak akan memperbaiki keadaan. Masih ada kesempatan untuk memperbaikinya. Jangan terlalu lama berada dalam kesedihan. Bangun dan berusaha lah lebih keras lagi."


"Kau tau, nenekku pernah berkata."


"Aku tidak tau kenapa nenekku punya ratusan kata kata bijak. Dan hampir sebagian dari kata kata itu telah dia beri tahukan padaku." Ucapku tertawa kecil.


"Apa kata nenekmu ?" Jay-yum tersenyum kecil.


" Jatuh itu bukan lah sesuatu yang memalukan tapi yang memalukan adalah tetap berada di tempat kau jatuh."


"Jangan biarkan nilai kita tetap seperti ini, kita harus buktikan bahwa kita bisa mendapatkan yang lebih baik lagi."


"Waw Vira. Kau membuatku menjadi semangat sekarang." Jay-yum tersenyum senang dan terlihat bersemangat.

__ADS_1


"Ada satu lagi !" Ucapku serius.


"Apa itu ?" Jay-yum terlihat bersemangatnya.


"Kau tidak akan merasakan indahnya puncak gunung yang tertinggi jika kau belum pernah berada di bawah lembah yang paling bawah. Kau tidak akan merasakan indahnya keberhasilan yang paling manis  jika kau belum pernah mengalami kegagalan yang paling pahit." Ucapku menirukan nenek.


"Wuih keren !" Jay-yum bertepuk tangan kecil karena kami masih berada di dalam perpustakaan.


"Ke kelas yuk, waktu istirahat udah mau habis." Ucapku sambil melirik jam dinding.


"Ayo !" Jay-yum mengembalikan buku yang dia baca ke rak buku.


...•┈┈┈••✵🏡✨🏡✵••┈┈┈•...


Lelah sekali. Aku ingin tidur siang tapi kenapa tidak bisa. Hah, sebaiknya aku ketaman. Aku merasa bosan di rumah.


"Ibu dimana ?" Panggilku.


"Vi !" Aku terkejut ada yang menyentuh pundak ku.


"Ibuuu, ibu bikin kaget aja." Ucapku kecut.


"Ibu dari mana ?" Tanyaku sambil menunjuk kantong plastik yang ibu pegang.


"Hahhh, kaget yah. Ini ? Ibu dari minimarket." Ibu mengarahkan kantong plastik yang ia pegang ke depan mukaku.


"Kenapa cari ibu ?" Ibu berjalan ke dapur.

__ADS_1


"Anu. Aku ke taman dulu yah."


"Buat apa ? Ketemu siapa ? Sama siapa ke sana ?"


"Buat jalan jalan. Gak ketemu siapa siapa. Dan sendirian kesana." Jawabku bertubi tubi seperti pertanyaan ibu yang bertubi tubi memusingkan kepala.


"Owh." Balas ibu singkat.


"Cuman owh doang ?"


"Terus apa Vi ?"


"Boleh gak bu ?"


"Yaudah sana pergi. Makin cepat kau pergi makin bagus." Ucap ibu menatapku.


"Astaga, aku di usir nih ceritanya. Udah kek beban rumah aja aku." Aku mengelus dada.


"Emang realitanya kau itu beban rumah. Kalau ada kau rumah. Rumah itu berisik dengan suaramu itu." Ucap ibu.


" Tapi kalo aku pergi rumah jadi sepi kan ? Rumah ini akan kesepian kalau aku pergi. Ibu ini tega padaku yah." Ucapku mendramatisasi keadaan.


"Tak berperikemanusiaan !" Ucapku acuh.


" Mau pergi apa enggak nih ? Bentar lagi sore kamu gak boleh pergi kalau udah sore !" Ibu menatap sinis.


"Owh, aku pergi dulu. Bye bye bu." Aku berjalan keluar rumah.

__ADS_1


__ADS_2