
Semester ini berlalu begitu cepat. Tidak di sangka setahun sudah berlalu sejak aku bertemu Jay-yum. Kehidupan sehari-hariku seperti biasa. Tidak ada yang terlalu istimewa. Hanya saja di semester ini, aku lebih banyak belajar di banding semester semester lalu. Bukan tanpa sebab, ini semester terakhirku.
Pekan semester telah berlalu. Artinya? Huhum kalian pasti tau bukan ? Ini artinya pembagian raport. Lagi lagi,
Lagi lagi aku berharap dengan sangat. Tolong! Nilai tolong bekerja sama lah.
"Ayah !" Panggilku.
"Vii."
"Bagaimana?"
" Itu, di rumah saja yah."
" Tidak. Katakan di sini. Aku tidak ingin menundanya lagi."
"Apa turun lagi ?"
"Vii."
"Jika dilihat sepertinya iya bukan." Tanyaku bergetar.
" Berikan Raport ku ayah !"
Ayah memberikan Raport ku. Aku membukanya. Hah, aku tidak tau harus bilang apa sekarang. Bodohnya aku masih percaya kalau semua akan baik baik saja. Lihat, nilai naik sedikit sekali. Padahal usaha mendapatkannya sangat berbeda. Ada apa ini ?
Sesulit itukah mendapat hasil yang bagus.
Akhh, angka !
Angka sudah seperti oksigen sekarang. Aku harus mendapatkannya. Aku harus mendapatkannya.
Bendungan air mata meluap. Air mata jatuh tak dapat di hentikan.
"Kepala sekolah bilang kalau kau punya satu kesempatan lagi. Semester depan. Jika semester depan nilaimu tidak lebih tinggi lagi. Kau-"
"Di cabut beasiswanya bukan ?"
"Kenapa tidak sekarang yah ?" Tanyaku berlinang air mata.
"Kepala sekolah bilang kalau kau anak yang pintar. Hanya saja nilaimu itu sangat sulit naik. Kau di beri satu kesempatan. Tapi, beasiswa mu hanya setengah."
"Maksudnya ?"
"Ayah harus membayar setengahnya lagi ?"
" Itu sama saja dengan membayar penuh jika di sekolah biasa. Jadi tidak apa apa Vi."
" Lalu bagaimana jika semester depannya tetap seperti ini ayah ?"
"Jika dicabut seutuhnya. Ayah harus membayar seutuhnya. Sebaiknya pindahkan aku ke sekolah biasa sebelum terlambat. Menunggu semester depan akan ribet. Pindah di semester depan hanya akan mengganggu ujian akhir nanti."
" Apa kau yakin ?"
" Aku tidak mau membebani ayah dengan biaya sekolah SMP Z."
"Masih ada sekolah lain ayah !"
" Vii !"
"Ayah pulanglah terlebih dahulu. Aku akan pulang sebentar lagi. Jangan cemaskan aku. Aku akan baik baik saja. Aku berjanji."
" Ayah mengerti." Ayah berjalan ke gerbang sekolah.
Aku ingin melihat sekolah ini sebelum aku di pindahkan. Aku,
Aku sudah sangat nyaman di sini. Kenapa ?
Kenapa harus begini ?
Teman teman aku akan merindukan kalian !
Aku berlari ke belakang sekolah. Belakang sekolah adalah tempat yang jarang di datangi. Setidaknya aku bisa menangis puas di sana.
__ADS_1
Sakit !
Sakit sekali !
Dadaku terasa sesak. Kenapa harus begini ?!
Tidak bisakah aku mendapat hasil bagus. Kapan ?!
Kapan ganjaran yang tertunda itu akan aku dapatkan ?!
Aku membohongi diriku dengan mengatakan jangan khawatir ! Semua akan baik baik saja. Kau akan mendapatkan yang pantas kau dapatkan semester depan! Itu yang ku katakan pada diriku setahun yang lalu. Tapi semester lalu ?
Apa aku mendapatkannya ?
Tidak! Lagi lagi aku membohongi diriku sendiri. Berharap ada perubahan.
Tapi lihat sekarang !
Apa aku mendapatkannya?
Satu kesempatan lagi katanya !
Bagaimana jika kesempatan itu gagal lagi !
"Vii ?!" Jay-yum menghampiriku.
Ku angkat kepalaku. Mataku pasti sudah sangat merah sekarang.
" Kalian?!" Ucapku melihat Jay-yum yang datang bersama Aiden.
" Vii, aku sudah mengetahui semuanya."
"Vii, jangan menyerah kumohon !"
" Yum, selamat tinggal ! Mungkin tahun ajaran berikutnya aku gak akan ada di sini lagi."
"Apa yang kau katakan Vi !" Teriak Jay-yum kesal.
" Aku akan pindah."
" Ini bukan omong kosong Yum."
" VII!" Jay-yum memelukku.
" Aku sudah gagal Yum. Ini saatnya aku pergi." Tangisku.
" Jangan !" Aiden mendekat.
"Jangan sekarang."
"Kenapa ?"
" Kau masih punya satu semester bukan ?"
" Tapi untuk apa ?"
"Gagal lagi ! Bagaimana jika gagal lagi ! Ayahku tidak akan sanggup membayar semuanya."
" Kau pasti bisa !"
"Kata kata itu !"
"Huhum, kalian pikir kenapa selama ini aku bertahan !"
" Aku membohongi diriku dengan kata kata itu !"
"Vira !"
" Kali ini berbeda."
"Apa yang berbeda ?"
" Aku akan membantumu."
__ADS_1
"Membantu apa hah ?"
"Tidak ada yang bisa kau bantu sekarang."
"Bertahan lah."
" Hentikan Ai !"
"Dia terlalu keras kepala untuk mau mendengar mu."
" Haru ?!"
" Bangun !" Ucapnya melempar jaketnya padaku.
" Kau mau pulang dengan tampilan seperti ini ?"
" Aku belum mau pulang !"
" SIAPA YANG MEMBERIMU HAK MEMBENTAK KU HAH !" Teriak Haru padaku.
" Haru ?!" Aiden menahan Haru yang seperti ingin memukul.
" SIAPA ?! SIAPA KAU ?!"
"KATAKAN ?!" Teriak Haru penuh amarah.
" Siapa namamu ?!"
"Apa maumu ?"
"Katakan siapa namamu ?!"
"Apa maksudmu Haru?!"
"Aku tidak mengenalmu jadi katakan siapa namamu." Katanya lebih tenang sekarang.
" Kita sekelas selama setahun jadi kau pasti sudah tau kalau namaku Vi. Nadia Vira Qanita."
" Bukan !"
"Kau bukan Vi yang kami kenal !"
"Vi yang kami kenal tidak akan mengalah dengan keadaan !"
"Vi yang kami kenal tidak akan berhenti sebelum mencobanya."
"Apa yang kau tau tentangku ?!"
"Siapa yang memberimu hak memotong perkataanku ?!" Ucapnya menarik kerah bajuku.
"HARU ?!" Jay-yum mendorongnya. Dan Aiden menariknya.
"Kau bukan Ninda atau pun Vira yang ku izinkan membentak atau memotong perkataanku!"
"Vira ?!"
"Yah, Vira. Anak entah kenapa tidak bisa aku kendalikan meski sudah setahun lebih aku mencobanya."
"Katakan! Katakan siapa kau berani membentak dan memotong perkataanku !"
"Karena kau bukan Vira." Ucapnya melepas kerah bajuku.
" Kau bukan Vira yang sangat sulit di kendalikan."
"Kau bukan Vira yang suka bermimpi tinggi."
"Kau bukan Vira yang ingin mewujudkan impiannya."
"Kau bukan Vira yang akan mencoba sampai titik terakhir."
"Jika memang Vira yang aku kenal. Bangun !"
" Ada derajat yang harus kau angkat !"
__ADS_1
Aku termenung. Apakah aku harus menyerah sekarang ? Setelah 2 tahun mencoba. Apa aku harus menyerah sekarang ?