
Libur semester telah usai. Tapi, aku masih memendam kesedihan.
"Vii !" Jay-yum menghampiriku.
" Kok kamu melamun terus sih ?" Jay-yum terlihat sedih.
" Gimana nilaimu ?" Jay-yum menatapku antusias.
"Kau tau ? Nilaiku naik drastis. Aku sampai terkejut loh. Tidak aku sangka akan begini. Aku sangat senang." Jay-yum sangat antusias menceritakan keberhasilannya.
Dan aku ?
Bagaimana denganku ?
Gagal !
Hanya satu kata saja, gagal !
"Vii ?!"
"Kamu kok melamun gitu."
" Aku gagal Yum. Aku gagal." Tangisku pecah.
" Vii ?"
" Hah, nilai tidak turun tapi tetap. Tapi itu akan tetap di anggap turun bukan ?!" Ucapku bergetar.
"Kau bisa tapi kenapa aku tidak ?"
"Vii ?" Jay-yum memelukku.
"Yum, hatiku sakit. Sakit sekali. Sebentar lagi."
"Sekali lagi Yum !"
"Sekali lagi angka."
"Angka tidak bernapas,angka tidak bergerak. Tapi angka membuat hancur hidupku." Tangisku di pelukan Jay-yum.
__ADS_1
"Vii ?"
" Aku tau kau bisa. Satu semester lagi Vi !"
"Satu semester lagi. Kenapa kau putus asa. Apa ini Vi yang aku kenal. Apa ini Vi yang tetap tegar meski hari harinya kadang tidak menyenangkan. Kau sering menangis Vi. Tapi aku tau kau akan bangkit setelah kau puas menangis. Menangislah. Keluarkan semuanya. Kemudian bangkit lagi !" Ungkap Jay-yum bergetar. Aku tau dia sedang menangis sekarang. Aku tau itu !
"Yum, yang nangis tuh aku bukan kau." Aku berkacak pinggang.
"Kau sih pake acara nangis segala. Kan ikut mewek jadinya." Ucapnya kesal menunjuk matanya yang mulai memerah.
" Maklumi aja lah. Gak usah ikutan segala."
" Yah mau gimana lagi. Turun dengan sendirinya."
" Jadi kepengen cokelat."
" Ya Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ni anak yah."
"Aduh tidak bisa berkata kata lagi." Jay-yum menepuk jidatnya.
" Diam aja kau begitu. Diam lebih baik saat tidak di butuhkan."
"Apa kau tau. Lama lama kesal deh dengan kehidupan. Aku diam ngelunjak aku bertindak di bilang kasar, tak berperasaan atau gimana gitu."
"Kenapa orang orang pada aneh ?"
" Pura pura bego demi orang senang eh dikira bego beneran. Dan apes seribu apes. Orang yang di senangi itu malah ikutan ngira bego."
"Orang bilang, kok kamu berubah sih. Kok kamu gak kayak dulu lagi sih. Atau apa lah gitu."
"Orang tidak berubah. Dia hanya menunjukan sifat aslinya."
"Orang menunjukan sifat aslinya karena beberapa penyebab."
"Dia sudah muak, dia bertemu yang sesuai dengan dirinya. Dan dia sudah bosan dengan orang lain." Ucapku tersenyum kecut.
Lengang sejenak
"Kok kita malah ngomong gituan yah." Ucapku menatap Jay-yum heran.
__ADS_1
" Gak tau. Mungkin kau sedang muak dengan seseorang atau mungkin author sedang pengen curhat tapi tidak punya orang yang bisa mendengarnya."
"Hanya Tuhan dan author yang dapat menebak isi hati si Author yang suka banget bikin kita terjebak masalah." Aku menggelengkan kepala.
" Setidaknya dia yang selesaikan. Dia ribet nyari in kita masalah. Dia sendiri yang ribet nyari in kita solusi." Jay-yum menanggapi.
( Author : trus, trus,omongin aja terus. Puas puasin sebelum ku buat kalian menderita di part selanjutnya )
"Perasaanku kok gak enak yah ?" Jay-yum terlihat cemas.
" Sama. Kek akan ada bencana deh." Balasku.
" Kek sinetron yah. Biasanya di sinetron sinetron kalau tokoh utama berfirasat buruk bakal ada sesuatu." Jay-yum menatapku cemas.
" Yaelah, sinetron itu mah. Gak nyata." Aku menepuk jidat.
"Kau pikir kita nyata ?"
"Iya juga sih. Kita cuman bahan gabutan author."
"Dah lah, mau cokelat kan. Aku traktir mau ?" Jay-yum berdiri.
" Bihh, gassss !"
" Aku belikan kau susu cokelat, kau belikan aku roti keju."
" Dih. Afaaan tuh ?"
...----------------...
*Thanks for Reading (◍•ᴗ•◍)✧。
sebenarnya ini agak gabut yah ngetiknya 🤣
ciri ciri kehabisan ide, jadi hasilnya gaje alias gak jelas kek gini. jadi maafkanlah author yang gaje ini 🙏. Tapi tolong jangan cepat bosan dengan tulisannya yah.
^^^Salam panda bulan :^^^
^^^♡ Vera Zaira** ^^^
__ADS_1