Perjalanan Para Pemimpi

Perjalanan Para Pemimpi
Saudaraku ?!


__ADS_3

Tinyo syantik 🖤


Na, kau dimana ? Yang lain udah pada nyampe di rumah. Tinggal kau yang belum datang.


Pesan dari Tiva membuatku segera bergegas. Gara gara ketiduran saat pulang sekolah, aku jadi terlambat pergi ke rumah Tiva. Ahh kenapa juga aku ketiduran. Sekarang jam menunjukan jam 03.10 artinya aku terlambat 10 menit dari yang dijanjikan.


Aku menekan bel rumah Tiva, aku menarik napas dalam dalam. Aku lelah sekali berlari dari halte ke sini.


"Loh, kamu kenapa ?" Tiva mengerutkan keningnya.


"Gak, cuman capek lari aja tadi." Aku ngos-ngosan.


" Lari ?"


"Iya, aku telat makanya bergegas. Jadi harus lari dari halte ke sini." Aku tersenyum dengan masih mengatur napas.


" Kenapa juga harus lari, santai aja kali." Tiva menggelengkan kepalanya.


" Ayo masuk, yang lain ada di dalam."

__ADS_1


Aku masuk ke rumah Tiva dengan Tiva di depanku.


"Mereka di atas." Tiva menunjuk tangga menuju ke lantai dua rumahnya. Kami berjalan beriringan menuju ke kamar Tiva.


" Hai Vira !" Vivi langsung menyapa begitu aku masuk ke dalam kamar Tiva.


" Hai, maaf yah teman teman. Aku telat datang, ketiduran soalnya." Aku tersenyum canggung.


"Santai aja, telat dikit doang juga." Fia tersenyum.


" Yaudah kita mulai aja biar bisa cepat pulang." Ninda mengambil bukunya.


"Ayo." Vivi juga mengambil bukunya.


" Bukan gitu, kau tau sendiri aku punya kakak super cerewet di rumah, telat pulang dikit langsung di pidato 100 kata perdetik. Udah kayak perempuan aja. Sekalinya keluar rumah, langsung berubah seketika. Hemat kata sehemat hematnya bukan hemat lagi tapi pelit kata." Ninda memegangi kepalanya terlihat sangat pusing.


" Mirip kakakku itu. Kalau udah ngomel. Duh melebihi Omelan mama." Tiva terlihat ngeri.


"Kenapa ? Kalian kok menatapku gitu ?" Ninda menatap aku,Vivi dan Fia bergiliran.

__ADS_1


"Aku cuman penasaran gimana rasanya punya kakak laki laki. Aku punyanya kakak perempuan. Kalau liat rumah berantakan. Wuss, langsung berubah jadi singa kelaparan." Vivi memperagakan bagaimana jika kakaknya marah.


"Aku malah penasaran gimana rasanya punya kakak. Aku anak sulung jadi gak punya kakak. Tapi aku punya adik laki laki yang super ngeselin. Dia kalo main gak kenal tempat. Semua tempat dia berantakan ." Fia juga bercerita.


"Apa ? aku ? Aku penasaran gimana rasanya punya kakak dan adek." Aku menunjuk diriku saat mereka semua menatapku.


"Aku anak tunggal." Aku melanjutkan kalimatku saat mereka semua terlihat bingung.


" Gimana rasanya jadi anak tunggal ?" Vivi mendekatkan dirinya padaku.


"Rasanya ?"


"Mantap." Aku menatap Vivi dengan mengacungkan jempol.


"Gak ada yang gangguin, ngomel, gak ada yang ngeselin. Semua perhatian hanya tertuju padaku." Aku membuat mereka semua iri.


"Tapi kesepian juga sih, gak ada teman bermain. Gak ada yang bisa di ajak bercanda. Pokoknya rumah tuh sepi bangat kalo aku gak ada. Dan jenuh bangat di rumah main sendirian." Aku menceritakan kekurangan menjadi anak tunggal.


"Bagaimana pun saudara kita. Mereka tetap saudara kita. Jadi sayangi mereka karena tidak ada yang akan bisa menggantikan seorang saudara. Mau kita musuhan saling benci. Ujung ujungnya yang menemani kita adalah saudara. Hubungan pertemanan bisa putus. Tapi hubungan persaudaraan dan darah tidak bisa putus. Mau bagaimana pun  kita ingin memutuskannya." Ninda tersenyum kecil. Disambut senyum lebar kami semua.

__ADS_1


"Sudah curhat tentang saudara ? Kalau sudah kita akan melanjutkan kerja kelompoknya." Tiva menatap kami satu persatu.


"Ayo, kerja jangan cerita mulu." Fia mengambil bukunya.


__ADS_2