Perjalanan Para Pemimpi

Perjalanan Para Pemimpi
Mata Tidak Bisa Berbohong


__ADS_3

" Tinyo ?" Aku melihat Tiva yang sudah ada di dalam kelas saat aku datang.


" Pagi Vi !"


"Pagi juga. Kau datang dari tadi ?"


"Iya, kau taulah kalau aku datang ke sekolah di tentukan oleh papaku. Kalau papaku cepat ke kantor, yah aku juga cepat ke sekolah."


" Owh. Terus kau lagi apa ?"


" Ini ?"


"Yah, bentar kan ada ulangan harian. Yah aku baca baca buku catatan."


"Owh, si rajin memang andalanku."


" Yeh, si rajin katanya."


"Iya, diantara kita bertiga kan kau yang paling rajin. Tiap ada tugas kau selalu selesai duluan."


"Itu karena di antara kita bertiga aku paling cepat kalau nulis."


" Iya, aku baru satu baris kau sudah satu paragraf. Kan di antara kita bertiga aku paling lambat nulisnya. Tapi kerajinan itu salah satu faktor kau selalu selesai duluan."


"Kalau soal menulis aku emang selalu selesai. Tapi kalau soal menjawab itu keahlian Jay-yum. Nah yang aneh itu kau."


" Aku ?"


" Iya kau. Secara kau itu paling malas yang namanya mikir. Kau tidak suka repot repot mikir itu sebabnya kau sangat ceroboh. Tapi sekalinya kau mikir, apalagi mikir yang pake rumus gitu. Entah itu matematika atau Fisika. Dihh, aku lebih memilih mencari masalah dengan Haru di banding mencari masalah denganmu."


" Aku cuman nanya,"


" Vi ini langkah selanjutnya aku harus apa kan?"

__ADS_1


"Kau akan langsung bilang."


"Bentar ! "


"Diam Tinyo !"


"Aku sedang mikir ! "


"Jangan ganggu !"


"Sumpah, aku paling gak bisa ngomong sama kamu kalau kami lagi ngerjain tugas matematika. Aku ngomong dikit aja. Kau akan kesal sampai ke ubun ubun."


"Kau mikir pakai konsentrasi yang luar biasa yah ?"


"Mau gimana lagi Tinyo. Aku tidak bisa mikir kalau ada yang ajak ngobrol, aku paling susah yang namanya konsentrasi. Nah kalau aku mikir aku butuh konsentrasi."


"Maaf Tinyooooo."


" Huhumm gak papa kok."


" Iya juga yah. Secara dia si paling cepat. Segala galanya dia selalu lebih awal."


" Lengkap dah ni circle. Tinyo si paling rajin, Jay-yum si paling cepat, Vi si paling lemot."


" Huhum, lemot katamu ?"


" Iya lemot. Kadang aku sering dengar orang menyebut diriku. Bodoh, lemot, gak peka, gak peduli atau apapun itu."


"Cuman mereka tidak tau di balik muka polos dan lugu ini. Ada hal yang sedang di sembunyikan."


"Apa yang kau sembunyikan Vi ?"


" Katakan jika kau muak dengan seseorang, katakan jika kau kesal dengan seseorang, katakan jika kau lelah. Aku akan siap mendengarkan keluh kesahmu."

__ADS_1


"Aku tidak bisa terlalu menyembunyikan sesuatu darimu Tinyo."


" Walau aku berusaha. Kadang kau dapat mengerti diriku hanya dengan melihat mataku. Aku sering memperhatikan bagaimana caramu mengetahui kondisi seseorang."


"Kau melihat mata mereka bukan ?"


" Wah, kau memperhatikan itu ?"


"Iya."


" Huhum, kau benar Vi. Aku bisa tau apa yang dirasakan orang lain hanya dengan melihat matanya. Meski kadang tidak terlalu tepat. Tapi itu efektif. Kenapa ?"


"Karena meski mulut,hidung,telinga,tangan,kaki,rambut dan apapun itu dapat berbohong."


"Mata tidak dapat berbohong!"


" Mata seperti cerminan hati seseorang. Hanya dengan melihat mata seseorang kau dapat mengerti apa yang sedang dia rasakan."


" Kau mau tau seseorang tulus atau tidak ? Lihat matanya kau akan merasakan ketulusannya lewat matanya. Kau mau tau seseorang berbohong atau tidak ? Lihat matanya kau akan merasakan kebohongan nya. Sungguh Vi, meski tidak selalu tepat seperti perkiraan kita. Tapi itu selalu memberikan bayangan."


" Kau harus mencobanya sekali kali."


" Bahkan aku tau kau sering melakukannya padaku bukan ?"


"Hei Vii, kau sungguh memperhatikan hal itu ?"


" Lihat mataku. Apa aku sedang membual sekarang."


" Hahaha sepertinya tidak."


" Kau benar Vi. Aku tau lirikan matamu ketika sedang kesal dengan seseorang. Meski kau tersenyum tapi matamu mengatakan kalau kau tidak menyukainya."


"Seperti aku harus memakai kacamata hitam mulai sekarang."

__ADS_1


"Hahaha, kalau begitu aku tidak bisa menafsirkan perasaanmu lagi."


__ADS_2