
"Apa yang kalian lakukan di sini ?" Ian menghampiri kami.
" Kenapa? Gak boleh?" Tanya Jay-yum.
"Yah kan cuma nanya. Ngerti konsep nyapa gak sih ?"
" Owh, kirain gak boleh. Yah biasalah, aku kalau udah ketemu dengan dua manusia ini. Kau ngerti aja deh." Jay-yum menunjuk ku dan Tiva.
"Kau sendiri kenapa disini ?"
" Nah karena aku melihat kalian. Dan si galak Vira akan memakan ku jika aku basa basi. Jadi langsung ke intinya, Tiva bisakah kau membantuku ?"
"Aku ?" Tiva menunjuk dirinya.
"Iya kau, Aiden keknya lagi sedih deh. Hari ini aku ajak olahraga gak mau. Biasanya dia semangat gitu."
"Terus apa hubungannya denganku ?"
" Dia bawa gitar tadi. Bisakah kau menemaninya agar dia tidak sendirian?"
" Aku sedang tidak ingin bermain gitar sekarang."
" Kumohon Tiva. Bisakah kau temani dia sebentar saja ?"
" Aku sedang tidak ingin."
" Ayolah Tiva. Andai aku tau tentang musik, mungkin dari tadi aku menemaninya. Dan jika kau mengharapkan dia." Ian menunjuk Haru yang agak jauh dari kami.
" Manusia datar itu tidak tau cara menghibur orang."
" Tapi aku kesini bersama teman temanku Ian. Mana mungkin aku meninggalkan mereka !"
" Jangan khawatirkan teman temanmu. Aku akan menemani mereka."
" Tapi tetap saja. Temani temanmu dan ku temani temanku."
"Aiden ingin bermain gitar dan aku tidak mengerti. Satu satunya yang bisa di harapkan adalah dirimu."
" Kecuali jika Jay-yum atau Vira bisa bermain gitar."
" Hahamm, kau mengharapkan orang yang salah Ian. Aku tidak mengerti tentang musik." Jay-yum tertawa.
" Jangan lihat aku. Aku paling tidak bisa seni musik dan olahraga." Ucapku menatapnya.
"Tivaaaa!" Ian menatap Tiva memohon.
" Huh, baiklah. Tapi pastikan kau tidak meninggalkan kedua temanku begitu saja." Tiva menunjuk kami berdua.
"Iya tenang saja." Ian mengangguk kepalanya.
__ADS_1
Tiva pergi mencari Aiden dan Ian menarik Jay-yum.
" Aku lapar. Ayo ke warung."
" Ian ! Lalu bagaimana dengan Vii ?"
" Dia sepertinya tidak mau ikut denganku. Dia akan terus bertengkar denganku."
" Jadi kau akan meninggalkan dia disini ?"
" Ian, aku tidak mau pergi jika Vi tidak ikut."
" Jay-yum !" Ian menatap Jay-yum.
Jay-yum menatapnya juga. Mereka berdua bertatapan selama beberapa saat.
"Owhh, aku mengerti maksudmu. Seharusnya kau katakan dari tadi !" Jay-yum tertawa.
" Baiklah ayo kita pergi. Vii aku pergi dulu yah. Jangan merasa sedih. Kau tidak sendirian. Masih ada manusia datar di sana." Jay-yum tertawa sambil menunjuk Haru.
"Kau sungguh akan pergi ?"
"Maafkan aku Vii."
Jay-yum pergi dengan Ian. Mereka kenapa sih ? Saling tatap aja langsung satu pikiran. Telepati ?
Dan apa yang harus aku lakukan di taman sekarang ?
Sepertinya begitu. Aku tidak tau harus apa sekarang.
Aku berdiri dan mengambil sampah sampah kemasan cemilan ku barusan. Aku harus membuangnya di tempat sampah agar kebersihan taman ini terjaga.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku pada Haru yang terlihat mencari sesuatu di semak semak dekat tempat sampah yang aku tempati membuang kemasan cemilan ku barusan.
" Aku mencari jepit rambut." Ucapnya sambil melirikku sekilas.
" Jepit rambut ?"
" Jepit rambut Ninda jatuh di sini tadi."
"Kenapa jepit rambutnya bisa di sana ?"
" Aku tidak sengaja menjatuhkannya."
"Mau ku bantu ?"
" Kenapa tidak. Kemari dan bantu aku mencarinya. Atau aku akan mendengar rengekan saat pulang."
" Seperti apa jepit rambut itu ?"
__ADS_1
" Jepit rambut dengan bentuk Beruang."
Aku mencari di antara semak semak. Tapi aku tidak menemukannya sama sekali.
"Aku menemukannya. Kau bisa berhenti mencari." Ucapnya memperlihatkan sebuah jepit rambut.
" Boleh aku lihat ?" Tanyaku.
Dia memberikan jepit rambut tersebut padaku. Jepit rambut itu sangat menggemaskan. Berbentuk beruang teddy yang imut sekali. Aku jadi ingin memilikinya satu.
"Ini menggemaskan sekali. Di mana Ninda membelinya ?"
" Aku yang membelinya."
"Kau ?"
"Iya aku, dia mengatakan padaku bahwa dia melihat jepit rambut di dekat taman kemarin. Dia ingin aku membelikannya saat aku mau kemari."
"Wah, aku juga ingin satu. Apa jauh dari sini ?"
" Tidak juga. Tapi kau jarang memakai jepit rambut."
" Ah, sebenarnya aku memakai jepit rambut. Lihat ini. Tidak kentara bukan ?" Ucapku menunjuk jepit rambut kecil berwarna hitam yang menyatu dengan rambut hitamku.
" Owh, aku tidak terlalu memperhatikan rambutmu. Dulu kau lebih sering mengikat rambut dan tidak memakai jepit rambut."
" Sekarang aku tidak bisa mengikat rambut. Lihat sejak aku memotong rambut. Aku tidak bisa mengikatnya. Bisa di ikat tapi akan terlihat aneh."
" Jadi bisakah kau memperlihatkan tempat kau membeli jepit rambut itu ?"
" Baiklah. Mungkin tidak butuh waktu 5 menit ke sana."
"Sungguh?"
"Iya."
"Antar aku kesana sekarang, boleh yah ?"
" Ayo."
Dia berjalan di depanku. Menuju ke luar taman. Taman ini sangat besar dan luas. Nyaman dan tenang. Itu sebabnya orang orang sering menghabiskan waktu di sini.
"Bukankah itu Tiva dan Aiden ?" Ucapku menunjuk Tiva dan Aiden yang ada di sebuah bangku taman menyanyi sambil bermain gitar.
" Mereka sepertinya harus tampil bersama kedepannya." Haru berhenti dan menatap mereka
" Sepertinya menarik."
" Aku akan menonton di barisan paling depan jika begitu." Ucapku antusias.
__ADS_1
" Humm terserah kau saja. Ayo kita pergi !"
" Ayo !"