
Hari ini. Tidak seperti biasanya. Aku melangkah masuk ke sekolah dengan perasaan yang berbeda. Yah, jika saja Aiden tidak ngotot akan mencari tau orang itu. Aku tidak akan berada di sekolah ini hari ini. Dia bahkan membayar biaya sekolahku selama satu semester. Humm, anak orang kaya emang beda. Uang sangat mudah dia dapatkan. Dia dapat membayar biaya satu semester hanya demi kepuasan dan rasa penasarannya. Tapi setidaknya itu lumayan berguna bagiku.
Aku, aku bahkan sudah mengubur niatku untuk bersekolah di sini. Hatiku hancur setiap melihat gedung gedung SMP Z. Tapi, semua akan aku lewati. Seperti kata Haru, aku tidak puas jika belum mencapai titik terakhir. Namun tetap saja. Harapanku di sekolah ini sudah hancur. Jika bukan karena si kutu buku penasaran itu membayar satu semester..
Akhh, aku jadi merasa bersekolah demi kepuasan dirinya saja. Menjengkelkan sekali. Saking jengkelnya, rambutku bahkan memendek.
Bercanda, aku memotong rambutku sebahu karena malas melihat rambutku yang sering acak acak bukan karena depresi. Aku tidak segila itu.
Ruang kelas 9.4. Itu yang tertulis di depan sebuah ruang kelas yang akan aku tempati selama setahun, atau mungkin cuma setengah tahun ?
Aku tidak tau bagaimana nantinya ?!
" Vii ?!" Aku termenung saat aku memasuki ruang kelas ini. Di dalamnya sudah ada Tiva dan Jay-yum. Bukan mereka saja, tiga sekawan menyebalkan juga ada di dalamnya. Aku keluar untuk memastikan bahwa aku tidak salah masuk kelas.
"Kau tidak jadi pindah?" Ucap Jay-yum antusias.
"Menurutmu aku akan berada di sini saat aku pindah sekolah ?"
" Ye, aku pikir kau benar benar pindah." Jay-yum berlari dan memeluk ku.
" Apa yang kau katakan dasar menyebalkan ! Kau bicara soal pindah ?" Tiva terlihat kesal.
" Jay-yum sudah menceritakan semuanya padaku. Kau benar benar membuat aku kesal."
__ADS_1
"Intinya aku tidak pindah bukan ?"
" Aku tau kau tidak akan menyerah begitu saja."
"Huhum, btw. Kalian di kelas ini juga ?"
" Jelas lah. Aku dan Tiva datang lebih awal. Kami agak terkejut tapi, kami tidak lebih terkejut melihat tiga sekawan menyebalkan ini juga ada di kelas ini." Jay-yum menunjuk tiga manusia yang entah kenapa seperti latihan menjadi patung perunggu.
" Ini jaket mu. Jaket mu hampir membuat aku mati di rumah !" Aku mengembalikan jaket Haru.
" Bentar !"
"Otakku tidak bisa berfikir sekarang. Kau masih bertindak seperti ini meski sudah setahun bersamanya?" Ian menatapku heran sambil menunjuk Haru.
" Bukankah sudah kubilang dia terlalu keras kepala untuk di kendalikan ?"
"Emang ada yang salah dengan perlakuanku ?"
"Kau bertanya seperti ini ?" Ian semakin heran.
" Haru tidak pernah membiarkan orang orang yang berlaku tidak baik dan melawannya hidup dengan tenang. Dia akan seperti Hantu yang gentayangan. Mengganggu dan membuat orang orang tunduk minta maaf. Dan sekarang kau bicara dengan santuy kepadanya, tentu saja aku terkejut !"
" Terserah, kau mau bilang apa tentangnya aku tidak terpengaruh."
__ADS_1
" Apa salah jaketku sampai kau hampir mati ?" Haru tiba tiba bicara.
" Aku tidak mau bicara padamu !" Ucapku buang muka.
" Owh!"
"Owh ? Kau hanya bilang owh ?"
" Terus aku harus bilang apa ?"
" Gak usah bicara deh. Aku tidak mau bicara lagi padamu."
"Tapi dari tadi kau membalas ucapan ku. Jadi itu sama saja kau bicara padaku bukan ?"
"Owh !"
" Itu kau bicara padaku lagi."
Astaga, gimana sih buat dia menyesal atau apa kek ? Lama lama pengen pindah beneran deh !
"Kau belum menjawab pertanyaan dariku !"
" Aku tidak akan bicara padamu !"
__ADS_1
"Terserah kau saja deh !"
Kata kata andalan. Terserah! Terserah ! Terserah kau aja ! Bosan aku mendengarnya. Tapi, jika dia tidak mengatakan kata tersebut. Pertengkaran tidak akan berhenti.