Perjalanan Para Pemimpi

Perjalanan Para Pemimpi
Kok Dia ?!


__ADS_3

"Udah gak nangis ?" Aku terkejut ketika aku baru masuk kedalam kelas.


" Apaan sih ?" Ucapku acuh. ASTAGA! Kenapa Haru tau sih. Kan jadi malu.


"Sok tau banget sih."


" Mata mu merah tadi." Aiden menahan tawa sambil tetap membaca. Kutu buku menyebalkan.


" Cengeng!" Haru berjalan kembali ke bangkunya.


"Emang masalah buat loh."


"Kau gak cocok pake aksen loh gue."


"Suka suka gue lah." Ucapku menggunakan aksen loh gue.


Agak kaku sih tapi apa sih yang enggak demi membuat si Haru kesal. Meskipun setelah semua cara telah dilakukan satu satunya cara buat dia kesal adalah terlibat masalah dengan adiknya. Huhummm, kakak yang baik gak tuh.


" Serah kau aja." Ucapnya sambil mengambil buku Aiden. Aiden yang di ambil bukunya diam keheranan.


Tukan. Apa aku bilang dia gak bakalan terlihat kesal kalau bukan menyangkut adiknya. Sangat membosankan untuk menjahilinya.


"Bu Zahra datang." Seorang anak masuk kedalam kelas. Sontak anak anak yang ada di dalam kelas duduk di bangkunya.


Jay-yum terlihat buru buru masuk kedalam kelas.


"Ibu Zahra datang." Ucap Jay-yum sambil ngos-ngosan.


Tak lama kemudian ibu Zahra masuk kedalam kelas. Dia mengamati kami satu persatu kemudian duduk.


"Anak anak. Beberapa hari yang lalu kalian sudah mengikuti ulangan harian bukan ?"


"IYA BU."


"Baiklah kalau begitu. Sekarang ibu akan membagikan hasil ulangan kalian."

__ADS_1


Dan seperti biasa. Penyataan itu akan memecah belah kelas menjadi beberapa versi.


Dan seperti biasa pula aku akan gugup menantikan hasil ulanganku. Entah kenapa selalu begitu.


Satu persatu nama telah disebut. Dan beragam nilai telah disebutkan. Mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi. Dan yang terendah. Apes sekali buat Davin. Anak yang waktu itu mau menyontek punyaku. Dia ketahuan dan itu berimbas pada nilainya. Dan yang tertinggi. Yah si cerdas  di kelas ini selain Jay-yum. Siapa lagi jika bukan si kutu buku Aiden lalu di susul di urutan kedua yaitu Haru si manusia mulut di lem.


"Nadia Vira Qonita!" Panggil Ibu Zahra.


Aku berdiri dan hendak mengambil lembar jawabanku.


Semoga gak Remedy. Itu doa sejuta umat ketika nilai ulangan di bagikan.


"Bagus Vira. Nilai kamu yang tertinggi." Ucap bu Zahra sambil tersenyum senang.


"Terima kasih bu." Aku mengambil lembar jawabanku.


"What nilai sempurna?" Aku terhentak ketika melihatnya. Padahal aku gak belajar.


"Selamat Vi !" Jay-yum tersenyum.


Satu persatu nama telah disebutkan. Dan Jay-yum terlihat gugup ketika namanya sudah semakin dekat.


"Jay-yum Mida Khumaira!" Panggil bu Zahra.


Jay-yum berjalan ke arah Bu Zahra. Dia mengambil lembar jawabannya.


"Bagus Jay-yum. Meskipun bukan nilai tertinggi tapi nilaimu sudah mendekati nilai nilai sempurna. Pertahankan prestasimu." Ibu Zahra terlihat sangat senang.


"Terima kasih bu." Jay-yum tersenyum senang.


"Berapa nilaimu ?" Tanyaku penasaran.


" 95."


"Owh. Selamat yah." Balasku singkat.

__ADS_1


Entahlah apa ini hanya perasaanku atau gimana. Jay-yum selalu menonjol di bidang studi manapun.


"Aiden !"panggilku sambil menggoyangkan kursinya.


"Humm." Gumamnya tetap melihat kedepan.


"Berapa nilaimu ?"


"95."


"Owh." Perasaan tadi pas Aiden biasa aja deh, Padahal nilai mereka sama.


' kerja bagus Aiden !' ucap Bu Zahra sambil tersenyum. Senyuman biasa pula.


"Haru !" Panggil pelan.


"Humm." Gumamnya tetap melihat ke depan. Haru dan Aiden emang se hati.


Dipanggil pun reaksinya sama.


"nilaimu berapa ?"


" 90."


" Owh." Balasku singkat.


Sama aja. Reaksi bu Zahra terhadap aku,Haru dan Aiden tuh biasa aja. Tapi ke Jay-yum ?


Ini juga terjadi pada pak Karto beberapa hari yang lalu. Perasaan kami sekelas biasa aja. Tapi giliran Jay-yum. Kok menonjol banget yah ?


Bukan hanya pak karto dan ibu Zahra. Hampir setiap guru yang masuk di kelas ini selalu terlihat menonjolkan Jay-yum.


Dah Lah. Mungkin cuman perasaanku aja.  Teman teman yang lain tidak pernah bahas. Jadi mungkin.


Hanya perasaanku saja. Hanya perasaanku.

__ADS_1


__ADS_2