
Hari ini begitu melelahkan. Tugas yang lumayan banyak menguras tenaga dan pikiran. Membuat tubuh kehilangan tenaga.
Aku berjalan menuju halte bus untuk pulang. Tapi sebuah adegan membuatku terhenti. Tiva dan Ninda sedang berdebat. Entah apa yang mereka debatkan. Tapi sepertinya sangat serius. Awalnya aku tidak ingin ikut campur urusan mereka. Tapi aku begitu penasaran mengapa mereka berdebat di gang yang lumayan sepi. Bahkan aku paling benci lewat jalan ini. Tapi karena aku terlalu lelah untuk lewat jalan yang biasa ku lewati. Aku memilih jalan tercepat, meskipun jalan ini agak seram di lewati. Jarang orang yang menggunakannya sehingga sangat rawan kejahatan. Ih aku agak ngeri jika harus lewat jalan ini.
" Ninda, tega kau yah." Suara Tiva menggelegar.
" Huhh, kalau kau gagal jangan jadikan aku pelampiasan kemarahan mu." Ninda tak kala sengit.
Astaga seserius itukah masalah mereka ?
Aku tidak ingin berlama lama di tempat ini. Tapi aku begitu penasaran. Duh aku harus apa sekarang. Pulang tidak yah.
'Ah pulang aja deh. Bukan urusanku juga'. Aku melanjutkan perjalanan. Tapi tak lama kemudian aku berhenti.
' Duh penasaran. Balik tidak yah.' Aku merasa dilema.
' Dahlah pulang aja pokoknya pulang. Gak boleh ikut campur urusan orang. ' aku menyakinkan diri sendiri.
Saat sampai di halte bus, ternyata bus yang akan aku naiki sudah pergi jauh.
' gara gara tinggal dilema sih tadi.' aku menggerutu dalam hati.
__ADS_1
Dari jauh aku melihat sesosok Haru yang berlari dan terlihat bingung
' dia kenapa yah.' aku penasaran.
'dih keponya diriku.' aku berusaha tidak peduli.
Aku menunggu bus berikutnya yang masih 5 menitan lagi. Aku melirik ke arah Haru yang berjalan dengan lesu.
'dia kenapa yah.' aku bertanya dalam hati. Dia terlihat begitu lesu. Aku ingin bertanya tapi, ah sudah lah. Bukan urusanku juga.
" Hei apa kau melihat Ninda, kalian satu kelas bukan." Aku tersentak saat ada yang tiba tiba berada di depanku.
Aku mengangkat kepalaku dan kulihat wajah cemas Haru.
" Iya, katanya dia pulang lebih dulu, tapi aku tidak tau dia dimana." Haru bicara dengan nada putus asa.
" Aku melihatnya bersama dengan Tiva di sana barusan." Aku menunjuk jalan yang aku lalui barusan.
" Sungguh ? Bisakah kau menunjukan tempatnya padaku." Haru terlihat lebih bersemangat sekarang.
" Sebenarnya aku mau tapi bus yang yang akan ku naiki akan segera tiba, butuh waktu lama jika aku menunggu bus berikutnya." Aku tersenyum gugup.
__ADS_1
" Aku akan mengantarmu pulang jika kau menunjukan tempat kau melihat Ninda." Haru melirik ke arah sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari halte.
" Tapi." Aku agak ragu.
" Ayolah, tunjukan di mana Ninda berada." Haru melihatku dengan ekspresi wajah yang datar.
" Baiklah, tapi janji yah, aku tidak ingin berada di halte sendirian hanya karena ketinggalan bus ini." Aku menatap Haru dengan tatapan Tajam.
" Janji." Haru mengangguk.
Aku berjalan kembali ke tempat di mana aku melihat Ninda dan Tiva bertengkar barusan.
"Apa Ninda benar ada di sini." Haru bertanya sambil melihat lihat sekitar.
" Bukan di sini tapi di sana." Aku menunjuk ke depan. Aku kesal, sudah tau Ninda tidak disini masih saja bertanya.
"Noh disana." Aku menunjuk Ninda dan Tiva yang masih adu mulut.
"Astaga ni anak yah sukanya nyari masalah." Haru menatap Ninda tajam.
' Drama keluarga nih ' aku menatap Haru yang berjalan menuju ke arah Ninda dan Tiva.
__ADS_1
' ngomong ngomong mereka bertengkar karena apa sih.' aku penasaran jadi aku menyusul Haru.