
" Na, sore ini kita ke taman lagi yuk."
" Aku gak janji, kalo ibuku ngizinin yah aku pergi. Lagian kalo bosan di rumah aku selalu izin ke taman. Di sana itu asri, nyaman, dan tenang." Aku membereskan barang barang ku kedalam tas.
" Oh, kalo kamu ketaman ajak aku. Bosan juga kalo di rumah terus. Papa mamaku kerja sampai malam. Dan kakakku sibuk dengan tugas tugas sekolahnya. Jadinya bosan deh di rumah." Tiva terkekeh.
"Oke, lain kali aku kabarin."
" Pulang yuk." Tiva mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas.
Kami berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Disana mobil yang menjemput Tiva sudah kelihatan.
" Aku duluan yah." Tiva melambaikan tangan.
" Dah."
"Sampai jumpa besok." Aku melambaikan tanganku.
Tiva naik ke mobil dan mobil tersebut melaju pelan meninggalkan sekolah. Saat mobil Tiva sudah tidak kelihatan aku berjalan menuju ke halte bus.
" Vira ?"
" Oh hai. Apa kabar ?" Aku menyapa Jay-yum yang baru keluar dari gerbang.
" Kabar baik. Kalau kamu ?"
"Baik juga."
"Aku kok jarang bangat liat kamu di sekolah ?" Jay-yum terlihat heran.
"Humm, aku ke sekolah terus kok, cuman aku lebih sering di kelas atau perpustakaan sekolah. Jadi jarang terlihat."
__ADS_1
"Owh, pantesan aja aku jarang melihatmu. Dan kau, berteman dengan Tiva bukan ?"
"Iya, memang kenapa ?" Aku menatap Jay-yum dengan sinis.
Ini kesekian kalinya aku ditanya tentang persahabatanku dengan Tiva.
"Tidak ada, hanya saja. Kita orang sederhana jika berteman dengan orang kaya sering di katain ada maunya. Apa kau tidak masalah dengan hal itu ?"
"Tidak, karna aku berteman dengan Tiva karena dia itu berhati baik dan tidak sombong. Bukan karena dia kaya atau terkenal." Aku tersenyum kecil lalu pergi.
Kenapa sih aku selalu di tanya.
' kau berteman dengan Tiva ?'
'kok bisa kau berteman dengan Tiva ?'
Atau
Pertanyaan yang membuatku merasa muak. Apa salahnya sih aku berteman dengan Tiva. Aku tau Tiva itu orangnya kaya dan terkenal. Tapi apa karena itu aku tidak boleh berteman dengannya.
...○•┈┈┈┈••❁ 🚌🚏🚌 ❁••┈┈┈┈•○...
Ninda ?
Kenapa Ninda ada di sini ?
Aku memperhatikan Ninda yang duduk sendirian di halte.
"Ninda ?"
" Humm, oh Vira. Ada apa ?" Ninda terkejut dan terlihat gugup.
__ADS_1
" Apa yang kau lakukan di sini ? Bukankah kau biasanya pulang naik mobil?"
" Ah tidak, aku hanya ingin duduk di sini sebentar." Dia terlihat gugup.
" Benarkah ?"
"Iya." Dia tersenyum canggung.
" Bagaimana jika kau si cari lagi oleh kakakmu ?"
" Dia, dia tidak akan tau aku pulang terlambat." Ninda terlihat kecewa.
" Kenapa ?" Aku semakin penasaran. Tidak biasanya Ninda berada di halte.
" Dia sedang sibuk, oh iya apa kau." Dia menghentikan kata katanya.
"Ada apa ?"
" Apa kau sudah punya teman untuk kerja kelompok." Dia terlihat ragu ragu.
" Maksudku mau kah kau menambah satu teman lagi. Aku tau kau sudah berkelompok dengan Tiva,Vivi, dan Fia. Jadi bisakah aku menjadi teman kelompok kalian." Ninda menunduk.
" Aku tidak bisa menentukan. Aku harus bertanya dulu kepada mereka. Jadi aku akan mengabari mu jika mereka setuju."
Aku berusaha mencari alasan untuk Ninda.
Bukan karena aku tidak ingin Ninda masuk di kelompok kami. Tapi, yah. Siapa sih yang tidak tau di kelas kalau Ninda dan Tiva sudah tidak bicara selama 3 bulan. Yah sudah tiga bulan sejak mereka bertengkar. Dan mereka tidak saling bicara lagi sejak saat itu.
"Baiklah aku mengerti."
" Aku pulang dulu yah, busnya sudah datang." Aku berdiri saat bus yang akan aku naiki berhenti di depan halte.
__ADS_1
" Dah." Aku melambaikan tangan ke arah Ninda. Dan dibalas senyum kecil.