Perjalanan Para Pemimpi

Perjalanan Para Pemimpi
Filosofi Favoritmu menjadi favoritku juga


__ADS_3

Sehari, dua hari, tiga hari, berlalu dengan cepat. Tidak ku sangka bahwa sudah seminggu berlalu dengan aku menjadi pendiam. Khumm, iya diam. Coba bayangkan seorang Vi yang tidak bisa diam dan tidak bisa yang namanya kalem, menjadi pendiam. Sulit di percaya, itu yang dapat digunakan untuk menanggapi sikapku akhir akhir ini.


" Vii !" Jay-yum menghampiriku.


"Apa ?"


" Ke perpustakaan yuk !"


" Malas !"


" Kalau ke kantin ?" Tiva menatapku.


" Tidak terima kasih."


" Ayolah Vi. Kenapa kau seperti ini?"


" Kau bukan tipe orang yang seperti ini."


" Owh !"


Aku menatap Jay-yum dan Tiva yang terlihat khawatir.


"Aku melihat cemilan baru di kantin. Sepertinya itu enak, ayo pergi ke sana." Ian mengajak Haru dan Aiden.


"Aku mau ke ruang musik." Aiden menolak.


" Aku ingin bermain gitar sekarang."


" Gitar ?" Tiva menatap Aiden.


"Mau ikut ?"


" Tapi,"


"Pergilah Tinyo !" Aku menatapnya, aku tau dia ingin pergi tapi tidak enak denganku.


" Baiklah, jangan menyiksa dirimu sendiri Vi !"


"Tentu."


Tiva dan Aiden keluar dari kelas.


"Cemilan apa itu ?" Haru menatap Ian.


" Sepertinya wafer Keju."


" Aku tidak tertarik."


" Aku ingin coba tapi tidak mau pergi sendiri."


" Pergilah dengan Jay-yum, dia sepertinya suka keju." Haru menunjuk Jay-yum.


"Aku ?" Jay-yum menunjuk dirinya sendiri.


" Pergilah jika kau mau pergi Jay-yum !" Ucapku sambil meliriknya sekilas.


" Mau pergi ?" Ian meminta persetujuan.


" Humm, baiklah aku juga penasaran."


"Ayo !"


Jay-yum pergi bersama Ian. Tinggal aku sendiri di sini.


"Mau melihat sesuatu yang keren ?" Haru membuatku terkejut dengan tiba tiba bicara.


"Aku tidak mau."


" Sungguh ?"


" Iya."


" Sungguh ?"


"Kubilang iya !"

__ADS_1


" Baiklah aku akan menikmati keindahan itu sendiri."


Dasar !


Dia tau saja aku tidak suka yang namanya penasaran dan sekarang dia sengaja membuat aku penasaran.


" Baiklah aku pergi sendiri." Ucapnya berdiri dan berjalan keluar kelas.


"Tunggu!"


" Apa lagi ?"


"Aku ikut !"


"Katanya tidak mau ikut ?"


" Diam kau ! "


"Aku penasaran." Ucapku lirih.


" Kau yang mau di ajak dan kau yang marah marah."


"Isshh."


"Baiklah, mau pergi bukan ?"


"Ayo !"


Dia berjalan di depan ku. Aku penasaran apa yang dia maksudkan tadi. Awas memang jika itu ternyata tidak sebagus yang dia katakan.


Dia pergi ke halaman belakang sekolah. Itu area yang agak terbengkalai. Mau apa dia membawaku ke sini ?


"Apa yang keren di sini ?"


"Kau lihat itu ?" Haru menunjuk sebuah rumput yang kalau tidak salah adalah dandelion.


" Kenapa dengan itu?"


" Kau tau ? Aku pernah membaca sebuah buku yang berjudul setangguh Dandelion."


"Awalnya aku tidak terlalu paham, apa hubungan tokoh utama dengan bunga dandelion."


"Akhirnya aku menemukan sebuah filosofi yang sampai sekarang adalah filosofi favoritku."


"Apa itu ?"


"Filosofi bunga dandelion."


"Seperti apa filosofi bunga dandelion?"


" Hidup lah seperti bunga Dandelion, dandelion tidak secantik mawar, tidak seindah lili , tidak se abadi edelweis. Dandelion tidak punya mahkota yang membuatnya tampak menarik. Dandelion juga tidak sewangi melati. Tapi, Dandelion adalah bunga yang paling tangguh dan berani. Dia mampu tumbuh di manapun dan kondisi manapun bahkan di sela sela batu. Bunga dandelion berani menantang sang angin. Dia tidak takut kemana angin akan membawanya karena dia tau, dimanapun dia di jatuhkan angin. Dia akan tumbuh menjadi tumbuhan baru."


" Aku suka filosofi itu, aku tidak pernah mendengar filosofi se keren itu." Ucapku tersenyum.


"Bukankah aku bilang kalau aku akan menunjukkan hal keren ?"


" Tapi ini tidak cukup untuk membujukku, aku tau seminggu ini kau berusaha meminta maaf bukan ?" Aku melihat dia refleks menatapku.


" Hanya karena aku diam bukan berarti aku tidak tau !"


"Huhum."


What ? Haru tersenyum ? Sungguh ? Hal langka baru saja terjadi. Dia tersenyum ? Meskipun senyum tipis. Tapi itu tetap senyum bukan ?


"Bagaimana?"


"Apa ?"


"Menyenangkan bukan ?"


"Apa ?"


"Menyenangkan jika kau tau sesuatu tapi seolah tidak tau apa apa. Kau mengerti tapi seolah tidak mengerti."


" Menyebalkan, kau akan di kira bodoh kalau begitu."

__ADS_1


"Tidak, bagaimana perasaanmu ketika kau tau aku berusaha meminta maaf tapi kau seolah tidak peduli ?"


" Gimana yah ?"


"Aku punya permainan, mau coba?"


"Permainan?"


" Pura pura lah untuk tidak peduli, pura pura tidak mengerti, pura pura tidak tau, pura pura tidak peka. Kau akan tau betapa menyenangkannya ketika orang orang berfikir kita bodoh tapi sebenarnya kita yang tau kebodohannya."


"Kadang menyebalkan tapi, sekali kau mengerti maksud permainan kau akan tau seberapa serunya permainan ini."


"Kau mengajariku hidup dalam kepalsuan."


" Kepalsuan yang menyenangkan."


"Mau coba ?"


" Kepo."


"Artinya ia bukan ?"


"Maksudmu ?"


"Kau mau ikut dalam permainan bukan ?"


"Permainan apa ?"


" Itu-" ucapnya terhenti.


"Owh, kau sudah mulai yah ? Curang !" Ia mendorong kepalaku pelan.


"Eh, kau bilang pura pura tidak mengerti bukan ?"


" Bagaimana menyenangkan?"


" Apa ?"


"Isshh."


"Hahahaha, melihat mu kesal membuatku tidak bisa mengendalikan tawaku."


"Kau tertawa, artinya mood mu sudah bagus."


"Sepertinya kau tidak butuh cokelat lagi, kau sepertinya lebih butuh aku sekarang."


"Dihhhhhhhh, kepedean dari manakah itu ya Allah ?!"


" Aku mau kembali ke  kelas, susu pisang ku tertinggal di kelas. Padahal aku mau minum di sini."


" Sepertinya sebentar lagi jam istirahat akan usai." Aku melihat jam tangan.


"Jadi kau sudah mau bicara padaku ?"


"Apa maksudmu?"


" Gak gitu juga konsep permainannya!"


" Owh !"


"Lain kali, aku tidak akan mengajak dirimu ke tempat menarik lainnya ?"


"Siapa ?"


"Kau."


"Yang nanya maksudnya?"


" Dasar !"


"Hahahaha, kesal yah ? Akhirnya setelah lama mencoba aku bisa membuatmu kesal lagi."


" Aku akan membuatmu tidak berani mengerjai ku suatu saat nanti."


"Suatu saat nanti di dalam mimpi maksudnya?"

__ADS_1


"Serah kau aja."


Nah kata kata legend telah keluar. Serah kau aja.


__ADS_2