
"Aku ingin pulang !" Ucapku berjalan pergi.
"Dengan tampilan seperti ini?" Haru menatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Yah tampilan ku sangat hancur. Rambut acak acakan, baju keluar, mata dan hidung memerah.
"Pakai jaketku !" Ucapnya mengambil jaketnya lalu memberikannya padaku.
"Pakai !" Ucapnya sambil berjalan mendekati ku.
Aku mengambil jaketnya tanpa bicara sedikitpun. Aku pernah melihatnya marah. Tapi tidak pernah melihatnya semarah tadi. Aku takut, dia bahkan menarik kerah bajuku. Aku tidak ingin membuat dia semakin marah. Meskipun sekarang dia terlihat sudah tenang. Tapi siapa yang dapat menebak isi hatinya. Bagaimana jika dia memukulku nanti.
"Terlalu besar untukku." Ucapku saat aku memakai jaketnya.
" Pakai saja sampai di rumah !" Ucapnya sambil berjalan pergi.
Dia berhenti lalu berbalik.
" Mau di antar ?"
__ADS_1
"Aku tidak mau di antar olehmu." Ucapku tertunduk.
"Biar aku yang antar, kau sih pake acara marah segala. Kau selama ini selalu mengalah padanya. Dia terkejut tiba tiba kau begitu." Aiden menarik tanganku.
"Aku bisa sendiri." Aku menarik tanganku.
"Sebaiknya kau di antar Aiden. Dari mana kami bisa menjamin kau tidak macam macam karena depresi." Haru menarik nafas dalam-dalam.
" Heh, sembarang kalo ngomong !"
" Tuh kan, bagaimana pun caraku membuat dia tunduk. Tidak akan berhasil. Bahkan versi terkasar pun tidak mempan padanya. Buktinya dia masih berani memarahiku meski sudah ku ancam akan aku pukul tadi." Haru menggelengkan kepalanya.
"Kasar sekali." Ucapku lirih.
"Ayo !" Aiden mendorongku pelan.
"Haru memang begitu. Dia tidak sika di bentak atau di potong pembicaraannya. Tapi dia tidak akan pernah main tangan. Meskipun tadi dia menarik kerah bajumu. Dia tidak akan senekat itu untuk memukul perempuan. Dia tidak akan sanggup memukul perempuan. Jika dia berkata akan memukulmu. Itu hanya ancamannya saja. Tapi, jika kau bukan Vira yang dulu berani menantangnya dan berani mendorong Ninda, mungkin dia tidak akan membiarkanmu hidup tenang mulai sekarang."
"Kenapa denganku ?"
__ADS_1
"Kau tau ? Sejak dia bertemu denganmu. Dia mengatakan padaku bahwa dia harus membuat kau tidak akan berani menatapnya lagi. Itu sebabnya sejak kelas 7 dia sudah mengawasi mu. Tapi, saat kau berhasil membuat adik kesayangannya itu berubah. Dia begitu kagum padamu. Dia penasaran kenapa kau bisa membuat anak yang bandel dan sulit di atur. Dapat berubah hanya dalam beberapa bulan. Dan itu membuatnya begitu memperlakukanmu dengan baik. Jika selama ini kau selalu menang darinya. Dan dia selalu mengalah darimu. Itu bukan berarti dia mudah mengalah. Dia paling keras kepala jika soal berdebat. Dia tidak mau kalah bagaimana pun caranya. Siapa yang berani membentak seorang Haru lebih dari sekali ? Itu adalah kau dan Ninda."
" Tapi tetap saja aku tidak suka dia seperti itu tadi ! Dia membuatku takut. Aku hampir menangis tadi." Aku tertunduk.
"Memang pada dasarnya kau sudah menangis bukan."
"Tapi tadi aku hampir menangis ketakutan. Itu dua tangisan yang berbeda."
"Tutupi wajahmu jika kau tidak ingin di perhatikan orang orang. Meskipun kau sidah jadi pusat perhatian dengan jaket yang kau jadikan daster."
" Kau lihat sendiri tadi. Dia seperti akan membunuhku jika aku tidak memakainya."
" Hoho, apa akhirnya Haru berhasil membuat Vira menurut padanya."
"Tutup mulutmu !"
" Isshh, sekarang aku tau kenapa Haru tidak bisa mengendalikan mu."
" Kubilang tutup mulutmu itu !"
__ADS_1