
"VI,TEMANMU DATANG." Terdengar suara ibu dari halaman depan.
Aku berjalan menuju pintu rumah.
" Hai." Terlihat sosok cantik Tiva di depan pintu rumah.
" Kamu datang ?" Aku menghampiri Tiva.
" Gak, cuman mau numpang kamar mandi." Tiva terlihat kesal.
"Udah tau aku datang masih aja nanya." Tiva terlihat cemberut.
" Liat deh bu. Tiva itu orangnya suka marah." Aku tertawa.
"Kau juga sama." Ibu menatapku. Dan Tiva sudah menahan tawanya.
"Ih ibu." Aku kesal, ibu malah balik mengejekku.
" Kita jadi ke taman ?" Tiva bertanya.
" Ibu, apa aku boleh ketaman kota ?" Aku menatap penuh harap pada ibu.
" Humm, ingat pulang sebelum jam makan siang." Ibu mengingatkan.
" Kau sudah dengar, ayo pergi." Aku menatap Tiva.
__ADS_1
" Humm, ayo." Tiva berjalan menuju gerbang rumah.
" Aku pergi bu." Aku menyalami ibu.
"Humm, hati hati. Ingat pulang tepat waktu." Ibu mengingatkan untuk kedua kalinya.
"Woke." Aku berjalan keluar.
...○•┈┈┈┈••❁ 🌼🌼🌼 ❁••┈┈┈┈•○...
" Kau ingat minggu lalu, waktu kau datang ke rumahku ?" Tiva memulai pembicaraan.
" Humm, kenapa ?" Aku menatap Tiva penasaran.
" Memang hanya Ninda yang pernah ke rumah mu." Aku bertanya.
"Iya, itu sebabnya rumah jadi heboh." Tiva tertawa terbahak-bahak.
"Sungguh ?" Aku penasaran.
"Sungguh, ayah bahkan mengintrogasi aku tentang dirimu." Tiva mengatur nafasnya.
" Waw." Aku bertepuk tangan.
"Aku setengah hidup menahan tawa dan kau hanya bilang, sungguh, waw ?" Tiva menatapku.
__ADS_1
"Setengah hidup ? Orang bilangnya setengah mati bukan setengah hidup." Aku menggelengkan kepalaku.
" Kalo setengah mati, setengah nya lagi apa ?" Tiva menatapku.
"Kalo setengah mati, berarti setengahnya lagi hidup, jadi mau setengah mati kek, setengah hidup, serah aku lah, Tinyo gitu loh." Tiva dengan gaya yang dibuat buat.
" Iya juga sih, serahnya non Tinyo deh." Aku mengalah.
"Kok ada kata, deh. Di belakang." Tiva terlihat cemberut.
" Yaudah, serah non Tinyo." Aku mengulang perkataanku dengan penekanan.
" BTW, aku kan pengen jadi penyanyi terkenal, kalo kamu ?" Tiva terlihat penasaran.
"Aku ingin menjadi orang yang mengangkat derajat keluarga. Sekarang keluargaku di kenal sebagai keluarga yang biasa saja. Tapi suatu saat nanti keluargaku akan di kenal sebagai keluarga luar biasa yang membesarkan seorang anak yang luar biasa bernama NADIA VIRA QONITA." Aku menatap langit.
" Humm, kalo aku, aku ingin menjadi orang yang bisa membuktikan, aku bisa hidup bahkan tanpa pengaruh orang tuaku. Orang tuaku orang terkemuka, orang besar. Dimata orang lain aku hanya putri dari keluarga Qori. Aku ingin di kenal sebagai Ativa Rasyida, seorang penyanyi terkenal yang tidak menggunakan pengaruh orang tuanya untuk sukses, bukan sebagai Nona keluarga Qori yang hidup di bawah bayang bayang keluarga." Tiva menatap lurus ke depan.
" Meskipun aku menjadi sebutir mutiara, jika itu jerih payahku sendiri. Itu lebih berkesan dari pada aku menjadi sebuah intan permata tapi menggunakan pengaruh nama keluarga." Tiva menekan ucapannya.
" Aku memang berasal dari keluarga biasa saja tapi keluarga luar biasa akan berasal dari diriku. Dan aku akan membuktikan perkataanku." Aku menatap Tiva.
" Dan kita akan buktikan bersama, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini." Tiva tersenyum.
" Dan kita akan buktikan bersama, tidak ada bintang yang begitu tinggi yang tidak bisa di raih." Aku membalas senyum Tiva.
__ADS_1