Perjalanan Para Pemimpi

Perjalanan Para Pemimpi
Si Pintar


__ADS_3

Hari hari telah berlalu dengan cepat tanpa kita sadari. Ini sudah sebulan sejak aku naik ke kelas 8. Aku mulai akrab dengan Jay-yum. Bisa di bilang kedekatan kami ini mirip dengan kedekatanku dan Tiva waktu kelas 7. Kemana mana selalu berdua. Mulai dari pagi hari saat kami datang sampai siang hari saat kami pulang.


"Vi ?" Jay-yum membuyar lamunanku.


"Kenapa ?"


"Kau gak pusing gitu lihat tugas yang sudah meng gudang ini ?" Jay-yum menumpuk bukunya di mejaku.


" Yah pusing sih tapi mau gimana lagi. Mau gak mau harus dikerjain."


" CBL CBL. Capek Banget Loh." Jay-yum memegang kepalanya.


"Issh gak boleh gitu. Yang ikhlas dong kerjainnya. Kalo terpaksa kan rasanya berat. Tapi kalo ikhlas rasanya ituuuuuu."


" Sama aja cuman lebih nyaman dikit."


"Issh, kirainnnn." Jay-yum meniru gaya bicara ku barusan.


"Bakal lebih ringan ternyata sama aja." Ucap Jay-yum 


"Hehehehe." Aku menggaruk kepalaku yang gak gatal.


Pak Karto memasuki kelas. Anak anak berhamburan kembali ke bangku masing masing. Jay-yum bergegas mengambil buku bukunya tadi dan kembali ke bangkunya.


"Anak anak, hasil ulangan kalian akan bapak umumkan sekarang." Ucap pak Karto sambil memperlihatkan setumpuk kertas.


Ucapan pak Karto itu ditanggapi dengan berbagai versi.


Ada yang 'riang gembira bagai dapat uang kaget' dan ini adalah golongan anak anak pintar dan 'kepedean banget'.


Ada yang 'b  aja tuh' dan ini adalah golongan yang gak peduli dengan nilainya bagus atau tidak yang penting 'sudah ulangan '.


Ada yang 'dag dig dug ser' dan ini adalah golongan yang gak yakin dengan jawabannya dan 'suka banget yang namanya kepikiran'.


Dan ada yang keringat dingin dan ini adalah golongan yang waktu ulangan  pakai jurus 'asal jawab yang penting ada'.


Aku dan Jay-yum saling tatap. Entahlah aku tidak tau dengan dia tapi aku masuk ke golongan dag dig dug ser alias golongan suka banget kepikiran.


Kepikiran nilaiku berapa yah ?


Tinggi gak yah ?

__ADS_1


Bagus gak yah ?


Gimana kalau jelek ?


Aku mulai berpikir untuk kemungkinan terburuk.


"Nadia Vira Qanita!" Pak Karto akhirnya memanggil namaku.


"Ehh, iya pak." Aku berdiri dan berjalan hendak mengambil lembar jawabanku.


Aku mengambil lembar jawabanku yang sudah diperiksa. Di sudut kiri atas tertera angka 95 yang ditulis dengan tinta merah dengan ukuran yang lumayan besar.


"Kerja bagus Vira." Pak Karto menatapku sekilas.


"Terima kasih pak." Aku tersenyum kecil lalu kembali ke bangku ku.


Setiap yang di maju mengambil lembar jawabannya selalu di tanggapi pak Karto dengan dua cara. Mengangguk atau menggelengkan kepala. Dengan ekspresi wajah yang sama saja. Terlihat biasa saja dan tegas. Sejauh ini nilaiku yang paling tinggi di antara yang lain.


"Jay-yum Mida Khumaira." Pak Karto menyebut nama Jay-yum. Jay-yum terlihat gugup.


"Wah Jay-yum nilai kamu yang paling tinggi di kelas. Kau mendapat nilai 98 hebat sekali." Ucap pak Karto tersenyum senang.


"Sungguh pak, wah terima kasih pak." Jay-yum sangat senang mengambil lembar jawabannya.


"Anak anak, coba lah untuk meniru Jay-yum dia anak yang pintar." Ucap pak Karto bangga.


"Vira ?" Aiden berbalik.


"Apa ?"


"Berapa nilaimu ?" Aiden melihat lembar jawabanku.


"Beda tiga poin yah." Ucap Aiden sambil manggut-manggut.


"Kenapa ?"


"Enggak ada kok." Aiden menggelengkan kepalanya.


"Selamat yah Jay." Ucapku ketika Jay-yum kembali ke bangkunya.


"Iya terima kasih."

__ADS_1


"Kamu juga pasti bisa kalau berusaha lebih keras lagi." Ucap Jay-yum sambil tersenyum.


"Hah ? Maksudnya ?"


"Owh iya lain kali aku akan berusaha lebih keras lagi." Ucapku canggung.


Pak Karto memulai pelajaran. Aku menyimak dengan seksama setiap kata yang pak Karto ucapkan. Pak Karto jika menjelaskan selalu bersikap tegas. Membuat siapapun yang di ajari akan menjadi diam dan tidak banyak bicara.


"Baiklah anak anak. Bapak akhiri pertemuan kali ini semoga ilmu yang kalian dapat hari ini bisa digunakan untuk kebaikan." Pak Karto keluar dari kelas di ikuti suara ribut di dalam kelas.


"Vi ke perpustakaan yuk ! Suntuk nih." Jay-yum menarik tanganku.


"Aduh sakit Jay." Aku menarik tanganku.


"Upss maaf aku gak sengaja." Jay-yum melepas tanganku.


"Udah gak papa kok." Aku tersenyum kecil.


"Emang kau udah belajar ? Sebentar ulangan kan ?" Suara Aiden terdengar di dalam kelas.


Aku menoleh ke belakang. Aiden sedang bicara dengan Haru.


"Aku lupa ada ulangan sebentar. Aku semalam belajarnya cuman sebentar." Jay-yum masuk kedalam kelas lalu duduk di bangkunya sibuk dengan hafalannya.


Aku menyusul kemudian membuka buka buku ku dan hanya membaca. Hanya membaca saja. Aku malas jika harus menghafal. Kepalaku tidak akan baik baik saja saat ulangan jika aku menghafal.


"Vira kelihatan tidak ikhlas belajar. Seperti hanya sekedar belajar doang." Aiden tiba tiba terdengar.


" Maksudnya?"


"Gak ada. Haru ayo kita pergi tiba tiba aku malas untuk belajar." Aiden berjalan keluar.


"Mending pergi liat pertandingan basket anak kelas 9." Aiden menatap Haru.


"Basket ?" Aku menengadahkan kepalaku.


"Aku juga ingin ikut." Aku berdiri ingin menyusul Aiden dan Haru.


"Kau tidak ingin ikut ?" Aku menatap Jay-yum.


"Tidak aku harus belajar." Jay-yum tersenyum kecil.

__ADS_1


"Owh baiklah." Aku berjalan keluar menyusul Aiden dan Haru yang sudah keluar lebih dahulu.


__ADS_2