Perjalanan Para Pemimpi

Perjalanan Para Pemimpi
Puncak Kekesalan


__ADS_3

" Vira." Seseorang memanggilku. Spontan aku menoleh.


"Vivi." Aku tersenyum padanya.


"Selamat pagi." Vivi menyapaku.


"Selamat pagi juga." Aku menyapa balik.


" Kamu juga baru datang." Vivi yang baru turun dari mobil, langsung menghampiriku.


"Iya, aku agak kesiangan tadi." Aku tertawa kecil.


" Sama dong." Bisik Vivi padaku.


Kami berjalan bersama menuju ke kelas. Saat kami sudah berada didalam kelas, mood ku langsung berubah melihat Ninda sudah berada di dalam kelas.


"Kenapa sih dia ada di sini." Ucapku kesal.


" Inikan kelasnya juga." Vivi yang mendengar ku agak heran.


"Hummm." Aku tersenyum kecut.


"Pagi maling." Ninda menyapa sinis.


"Pagi tukang fitnah." Aku balas menyapa.


" Eh, berani nantangin." Ninda yang terlihat kesal karena aku tidak diam lagi menerima kata katanya.


" Beranilah, yang penting bukan aku yang mulai duluan." Aku menatap sinis.


"Dasar gak sadar diri." Ninda terlihat kesal.


"Dasar kepedean." Aku balas setiap perkataannya yang membuatnya menjadi seperti ingin meletus.

__ADS_1


Dia maju menghampiriku dengan tangan dikepal. Saat dia begitu dekat denganku. Dia mendorongku. Aku agak mundur kebelakang. Tentunya aku tidak terima dengan perlakuannya. Aku bukan objek bully.


Aku maju dan mendorongnya lebih keras hingga dia terjatuh.


" Ninda." Seorang anak laki laki masuk kedalam kelas kami.


" Kamu apakan adikku." Anak laki laki itu menatapku tajam.


" Dia yang mulai dulu." Aku menunjuk Ninda yang masih tersungkur di lantai.


" Haru, dia mendorongku kuat sekali, tubuhku terasa sakit." Ninda yang tadinya begitu ganas. Tiba tiba berubah jadi bayi yang direbut permennya.


"Ninda, kau baik baik saja kan." Anak laki laki itu membantu Ninda berdiri.


" Haru, sakit." Ninda terlihat begitu kesakitan.


"Sesakit itu." Anak laki laki itu bertanya.


" Ih, iyalah. Orang aku di dorong keras bangat." Ninda kesal karena anak laki laki itu terlihat heran.


"Ah sudahlah kau menyebalkan, kalau aku bilang sakit yah sakit." Ninda sangat kesal.


Sontak anak laki laki itu melihat sinis diriku. Dia maju dengan tangan dikepal.


"Dramanya udah selesai kan." Vivi yang sejak tadi bengong akhirnya bicara.


" Udah deh Nin, gak usah sok jadi korban, orang kamu yang mulai." Vivi bicara tanpa beban.


" Salahmu sendiri mendorong Vira, Vira gak terima yah balik mendorong kamu." Vivi menceritakan kronologis kejadian.


Anak laki laki itu balik menatap Ninda. Ninda yang ditatap tajam lansung menunduk.


"Ninda !" Anak laki laki itu meminta penjelasan Ninda.

__ADS_1


" Benarkah itu Ninda." Anak laki laki itu menghampiri Ninda. Ninda hanya menunduk.


"Memalukan, kau merengek setelah kau ber ulah, jangan cari aku jika kau memulai masalah." Anak laki laki itu keluar dari kelas.


" Haru !" Ninda terlihat panik.


Ia keluar dan mengejar anak laki laki itu. Vivi dan aku saling bertatapan.


"Benarkah itu Ninda yang sok garang." Vivi mengejek.


Aku hanya menanggapinya dengan anggukan kecil. Aku dan Vivi akhirnya bicara hal hal yang secara random terlintas di otak kami.


" Vira !" Seseorang meneriaki ku.


Aku berbalik dan ternyata Tiva sudah berada di dalam kelas dengan Ninda yang ada di sampingnya.


" Tidak puas kah kau mengambil tanda pengenal ku, sekarang kau membuat adik kakak bertengkar." Tiva terlihat marah.


" Maksudmu apa, datang langsung marah marah." Aku menanggapi Tiva, aku sudah tidak sabar menghadapi kelakuan mereka.


" Kau membuat Ninda dan kakaknya bertengkar bukan." Tiva menunjukku.


" Mikir dong, apa juga untungnya aku membuat Ninda bertengkar dengan kakaknya, buang waktu, pikiran dan tenaga." Aku membalas Tiva.


" Kau memang suka mencari masalah yah." Tiva memakiku.


" Bukannya kalian yang suka cari masalah." Aku memaki balik.


"Mau mu apa sih, pertama kau mengambil kartu pengenal ku hingga aku tidak bisa mengikuti audisi, sekarang aku mendorong Ninda dan membuatnya bertengkar dengan Haru." Tiva terlihat tidak sabar.


" Untuk apa aku mengambil tanda pengenal mu, aku menemukannya jatuh dari tasmu, salahmu sendiri sehingga tasmu terbuka membuat tanda pengenal mu jatuh, dan soal pertengkaran Ninda dengan kakaknya tersebut, apa salaku jika aku mengatakan bahwa dia yang mulai mendorongku, mikir dong, jangan main tuduh aja." Aku melampiaskan semua amarahku.


Tiva mulai melirik Ninda dan menariknya keluar.

__ADS_1


"Kuharap ini sudah selesai." Vivi menatapku.


" Yah kuharap." Aku berjalan menuju kursiku.


__ADS_2