Perjalanan Para Pemimpi

Perjalanan Para Pemimpi
Kalian berdua Sahabat Terbaikku


__ADS_3

Sudah dua bulan berlalu tapi aku dan Aiden belum juga mengetahui siapa anak dari Ridwan Arum R. Anak yang ingin di tonjolkan sampai harus membuat aku di korbankan. Sangat dramatis dan lebay. Hanya untuk membuat anaknya menonjol dia mengorbankan orang lain. Bagaimana aku harus menyatakan betapa anehnya situasi ini ?


Kami sudah mencoba mencarinya. Saat ini ada satu orang yang dapat kami curigai. Yaitu anak bernama Lidya Natalia. Anak bernama Lidya ini sangat menonjol di kelas. Dia anak yang cerdas dan aktif. Tapi karena dia sangat menonjol dalam segala hal membuat aku dan Aiden curiga padanya. Selama dua bulan ini dia sangat di banggakan oleh guru di kelas.


" Apakah kau berhasil menemukan siapa orang tua Lidya?" Tanyaku pada Aiden saat kelas sedang kosong dan hanya kami berdua di dalamnya.


" Iya, tapi menurut informasi yang ku dapatkan. Ayah Lidya bernama Badran Adinata, bukan Ridwan Arum."


" Kalau begitu bukan Lidya. Setelah di pikir pikir sudah dari lama nilaiku di manipulasi, dan aku baru mengenal Lidya selama dua bulan jadi kemungkinan bukan dia."


" Kapan pertama kali kau merasa nilaimu tidak sesuai ?"


" Saat naik ke kelas 8. Saat itu aku tidak menyangka bahwa nilai raport ku turun."


" Itu berarti kita harus mencari tau anak anak yang dekat denganmu sejak saat itu."


"Tapi siapa ? Aku agak kesulitan dalam hal bergaul. Selama ini aku hanya bersama dengan Tiva dan Jay-yum."


" Apakah Tiva waktu itu menonjol darimu ?"


" Tidak juga. Biasa saja, aku tidak lebih menonjol di banding Tiva dan Tiva tidak lebih menonjol di banding aku."


"Lagi pula nama ayahnya bukan Ridwan Arum R."


" Bagaimana dengan Jay-yum ? Apa kau sadar dia sangat menonjol darimu sejak hari hari pertama di kelas 8 ?"


"Iya sih. Aku juga sempat kepikiran tentangnya. Tapi itu tidak lama karena menurut dia anak penerima beasiswa sepertiku. Membayar biaya sekolah saja terasa sulit. Bagaimana mungkin dia menyuap sekolah demi terlihat menonjol."


"Iya juga yah. Lalu siapa yah ?"


" Ridwan Arum ini pasti orang yang sangat kaya karena rela menyuap sekolah demi menonjolkan anaknya."


" Begitulah."

__ADS_1


" Bukankah biasanya orang orang kaya akan menyertakan nama keluarga di belakang nama anaknya ?"


" Iya, biasanya begitu."


" Seperti Tiva. Dia dari keluarga Qori. Lalu kau ?"


"Apa kau dari keluarga Rasyad?"


"Iya, itu nama ayahku."


" Jadi kita harus mencari anak yang memakai nama Ridwan Arum di belakangnya?"


" Sepertinya ide yang bagus tapi tidak semua orang kaya menggunakan nama keluarga. Seperti Lidya ini. Dia anak orang kaya tapi tidak memakai nama ayahnya. Hanya Lidya Natalia bukan Lidya Natalia Adinata atau Lidya Natalia Badran Adinata."


" Akan sangat membantu jika anak di Ridwan ini memakai namanya di belakang."


" Aku akan memberi tau mu jika ada kabar terbaru. Jadi bersabarlah Vira."


" Aku akan menanti kabar tersebut Aiden !"


"Vii !" Tiva masuk ke dalam kelas.


"Lah kalian dari tadi di kelas ?"


"Iya. Kepalaku agak pening jadi aku malas keluar. Nah kalau dia. Kau taulah kalau Aiden itu kutu buku. Dia hanya ke perpustakaan sebentar lalu kembali kesini."


"Iyakan Ai !" Aku menekan perkataanku.


"Humm." Aiden hanya mengagungkan kepalanya.


" Dari tadi aku nyari kamu !" Tiva duduk di kursinya.


" Kenapa ?"

__ADS_1


" Aku bosannnn. Ke kantin malas, ke perpustakaan baca buku malas. Gak tau harus apa."


" Emang tadi kau dari mana ?"


" Tadi dari toilet. Aku gak kepikiran kau di kelas. Aku juga gak liat Jay-yum di mana. Aku ke perpustakaan nyari kamu dan dan Jay-yum. Tapi gak ada. Karena malas dan gak tau harus apa aku balik ke kelas. Ehh kau ada di sini."


"Huhum, Jay-yum tadi ke kantin. Karena kepalaku pening akhirnya Jay-yum pergi deh sama Lidya."


"Owh."


" Aku bosan gak tau harus apa. Kepalamu lagi pening. Jay-yum pergi sama Lidya. Trus aku harus apa dong ?"


" Mau belajar main gitar ?" Aiden menatap Tiva.


" Boleh, tapi bagaimana dengan Vi ? Dia sedang tidak enak badan."


" Tidak apa apa Tinyo. Kepalaku hanya pening. Gak parah. Pergilah aku baik baik saja. Jay-yum dan Lidya pasti akan segera datang."


" Kau yakin kau akan baik baik saja. Aku akan menemanimu di sini."


"Pergilah jika kau ingin pergi. Lagi pula aku sedang tidak ingin banyak bicara. Dan jika kau menemaniku disini aku akan terus bicara seharian."


"Huhum, baiklah Vi. Jaga dirimu baik baik aku akan segera kembali."


"Baiklah, pastikan agar kau menyanyikan sebuah lagi sambil bermain gitar untukku nanti."


"Sip, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh. Jadi pastikan kau mendengar aku bernyanyi nantinya."


"Aku akan menunggu saat itu Tinyo."


" Aku usahakan tidak lama lagi untuk saat itu."


"Huhum, pergilah sana."

__ADS_1


Tiva dan Aiden keluar dari kelas. Kini hanya ada aku di dalam kelas sendirian. Sebenarnya kepalaku tidak pening. Hanya saja, aku tidak ingin Tiva berfikir yang tidak tidak karena aku hanya berdua dengan Aiden di dalam kelas. Teman teman yang lain hilang entah kemana.


__ADS_2