
Aku berjalan memasuki perumahan Q, mencari rumah Tiva. Deretan rumah rumah mewah sejauh mata memandang. Tentu saja, ini rumah para orang kaya. Aku mencari cari alamat rumah Tiva.
'ah ini dia.' aku mencocokkan nomor rumah di hadapanku dengan alamat Tiva. Setelah yakin bahwa ini rumah Tiva. Aku membunyikan bel. Tak lama kemudian gerbang masuk rumah Tiva yang begitu tinggi perlahan terbuka.
"Vira." Tiva melambaikan tangannya dari depan pintu rumahnya.
" Ayo masuk." Tiva tersenyum.
Aku masuk dan berjalan ke arah Tiva.
" Ini rumahmu ?" Aku menatap sekeliling.
" Bukan, ini rumah ayahku. Aku hanya numpang." Tiva terkekeh.
"Ayo masuk, jangan disini mulu." Tiva berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Rumah Tiva terlihat megah. Barang barangnya juga terlihat berkelas dan pastinya mahal. Tidak heran. Tiva anak orang kaya. Pastinya rumah dan segala hal tentangnya itu tidak main main harganya. Itu tentu berbeda dengan rumahku. Sederhana dan barang barangnya murah. Tapi, meskipun sederhana. Aku bahagia dan nyaman di rumah itu. Segala kebutuhan dan fasilitas memang tidak mewah, tapi itu cukup untuk memenuhi kebutuhan kami.
" Woi, ngayal yah." Tiva membuyar lamunanku.
" Ayo, entar kesandung loh kalo gak liat jalan." Tiva tertawa.
Kami berjalan ke lantai dua rumah Tiva. Kami berjalan melewati beberapa ruangan. Hingga tiba di kamar Tiva.
" Ini kamarku, ayo masuk." Tiva membuka pintu kamarnya.
Didalamnya terdapat barang barang yang bagus dan mewah.
"Owh iya, kamu udah selesai pr kemarin ?" Tiva mengambil beberapa buku dari sebuah meja.
" Belum, kalo kamu ?" Aku menatap Tiva.
" Belum juga, kamu bawa bukunya ?" Tiva bertanya.
" Iya, tadinya aku mau kita kerja bareng, makanya belum ku kerjain." Aku menahan tawa.
" Aku juga pikirnya begitu, cuman aku khawatir kamu gak bawa buku itu, kan kita gak janjian mau ngerjain bareng, tapi baguslah kamu bawa bukunya." Tiva membuka bukunya mencari jawaban tugas yang di berikan kemarin.
__ADS_1
Kami mengerjakan tugas bersama. Berdiskusi dan menyelesaikannya bersama. Hingga waktu berlalu begitu saja tanpa disadari.
"Akhirnya selesai." Tiva meregangkan tubuhnya.
" Yaudah aku pulang yah." Aku mengemas barang barang ku kedalam tasku.
" Kok mau pulang sih, nanti aja, kapan lagi kamu ke sini, kalo kamu mau pulang sekarang besok harus datang lagi." Tiva terlihat kecewa.
" Tapi, bentar aja yah." Aku melihat jam.
" Terserah kamu, asal jangan pulang sekarang." Tiva menyimpan bukunya.
Klik..
Seseorang membuka pintu kamar.
"Ketuk pintu napa." Tiva terlihat kesal.
" Ups, marah yah." Laki laki yang membuka pintu itu tertawa. Sepertinya dia kakak Tiva.
" Woi, kak, keluar gak." Tiva menunjuk keluar.
" Mau apa sih kak." Tiva melihat sinis.
" Mau liat, teman baru kamu, katanya aku bawa teman, tapi bukan Ninda, makanya kakak penasaran siapa teman baru mu itu." Kakak Tiva menatapku.
"Kepo." Tiva mendorongnya keluar.
" Kenapa si Nyo, kan cuman mau liat." Kakak Tiva mengintip ngintip.
"Nggak perlu." Tiva menutup mukanya.
" Tinyo, gak bisa liat nih." Kakak Tiva melepas tangan Tiva.
"Nggak usah liat." Tiva tertawa dan menutup mata kakaknya sampai kakaknya keluar kamar.
Saat kakak tiva keluar kamar, Tiva menutup pintu kamar.
__ADS_1
"Tinyo,Woi Tinyo, buka pintunya dong." Kakak Tiva mengetuk pintu.
"Nggak mau." Tiva tertawa.
Saat kakak Tiva sepertinya sudah pergi aku bertanya pada Tiva.
"Tinyo ?" Aku bertanya kenapa Kakak Tiva memanggilnya Tinyo.
" Pasti karena kakakku, manggil aku Tinyo kan ?" Tiva tersenyum.
Aku hanya mengangguk.
"Kau liat boneka unicorn di foto itu ?" Tiva menunjuk sebuah foto di dinding kamar, dimana seorang anak perempuan terlihat tertawa bahagia dengan sebuah boneka unicorn di tangannya.
" Itu bonekaku, saat aku masih di taman kanak kanak." Tiva menatap foto itu.
" Namanya Nyoldi, aku sangat menyayangi boneka itu, aku tidak bisa tidur jika tidak ada nyoldi." Tiva tersenyum kecil.
" Bahkan saat nyoldi terjatuh ke dalam laut saat kami di kapal pesiar, aku tidak berhenti menangis hingga aku sakit karena tidak mau makan." Tiva terlihat sedih.
" Karena rasa sayangku pada nyoldi, ayah memanggilku dengan gabungan namaku dengan nyoldi." Tiva menatapku.
"Tiva dan Nyoldi, Tinyo." Tiva mengeja namanya.
"Dan sampai sekarang, seisi, rumah ini memanggilku Tinyo." Tiva tersenyum.
"Aku juga punya nama panggilan dalam keluarga." Aku menatap Tiva.
" Aku dulu di panggil dengan sebutan, nona Vira, kemudian menjadi Nona Vi, lalu lama kelamaan karena aku belum fasih menyebut kata nona. Aku menyebutnya dengan kata nana, dan sampai sekarang nenekku memanggilku nana Vi." Aku mengingat cerita nenek tentang asal panggilannya padaku.
" Nana, bolehkah aku memanggilmu dengan panggilan itu ?" Tiva meminta persetujuan dariku.
"Sebenarnya hanya nenekku yang memanggilku begitu, tapi kau boleh memanggilku dengan nama itu jika kau mau." Aku tersenyum.
" Baiklah, dan sebenarnya juga aku tidak mengizinkan siapapun memanggilku Tinyo selain orang rumah, tapi aku mengecualikan dirimu." Tiva tertawa.
" Humm, Aku merasa terhormat, nona Tinyo." Aku terkekeh.
__ADS_1
" Baiklah, Nana dan Tinyo." Tiva mengingat.
" Humm, baiklah Tinyo dan Nana." Aku ngulang ucapan Tinyo alias Tiva.