
Hari hari kami lewati seperti siswa sekolah biasanya. Sudah beberapa Minggu ini aku dan Tiva selalu bersama kemanapun kami pergi. Sekarang Ninda menjadi lebih pendiam. Sepertinya dia begitu takut pada kakaknya sendiri. Tapi itu cukup menguntungkan kami. Dia tidak lagi mencari masalah dengan kami.
"Ke kantin yuk." Tiva meminta persetujuan dariku.
" Yaudah ayuk." Aku merapikan buku buku pelajaran ku dan memasukannya ke dalam tas.
" Owh iya. Minggu ini kamu ada rencana gak ?" Tiva tiba tiba bertanya.
" Gak ada sih. Ada apa emang ?" Aku menatap heran Tiva.
" Sebenarnya aku agak kesulitan belajar beberapa hari. Mau belajar bareng gak. Aku juga agak kesepian di rumah." Tiva tersenyum kecil.
" Boleh sih cuman belajarnya di mana ?" Aku bertanya.
" Di rumahku mau gak." Tiva menawarkan.
" Boleh, cuman aku gak janji. Aku harus izin ke ibuku dulu." Tersenyum canggung.
" Oke, kutunggu kabarnya yah, aku berharap loh." Tiva menatap serius.
" Iya." Aku tertawa melihat ekspresi wajah Tiva yang terlihat serius. Tapi dibuat buat.
Kami berjalan menuju ke kantin sekolah.
PARK….
Aku menabrak seseorang di depanku. Karena asyik berbicara dengan Tiva.
"Duh, maaf yah. Gak sengaja." Aku buru buru meminta maaf.
" Gak papa kok, aku juga gak liat jalan tadi." Dia berdiri dan merapikan seragamnya.
" Vira, Vira kan ?" Anak itu mengangkat wajahnya dan menatapku.
" Iya, kenal aku ?" Aku menatap dengan seksama wajah anak itu.
Sepertinya gak asing. Tapi siapa yah. Selama aku bersekolah di SMP Z aku hanya pergi ke. Kelas,WC, kantin dan perpustakaan. Itupun hanya kenal beberapa teman. Paling cuman teman sekelas.
" Astaga aku Jay-yum. Masa gak ingat sih." Anak itu cemberut.
__ADS_1
" Owh iya, aku baru ingat." Aku tertawa kecil.
" Ih, aku ingat kamu tapi kamu gak ngingat aku." Jay-yum terlihat kecewa.
" Maaf, daya ingat ku memang buruk. Hehe." Aku menggaruk garuk kepalaku yang gak gatal.
" Dah lah, aku marah, aku pergi dulu." Jay-yum pergi dengan muka yang kesal tapi dibuat buat.
" Kenal ?" Tiva menatapku penasaran.
" Iya, dia juga masuk dengan jalur beasiswa. Aku ketemu dia pas pengumuman hasil tes masuk." Aku menatap Jay-yum yang pergi.
" Owh." Tiva mengangguk.
"Ih buruan, aku lapar nih." Tiva menarik ku menuju kantin sekolah.
" Yaudah ayok." Aku berjalan dengan tangan di tarik Tiva.
Kami menikmati waktu istirahat dengan pergi ke kantin.
"Owh iya, besok kalo kamu jadi ke rumah ku. Kabarin aku yah." Tiva mengingatkan.
"Kutunggu yah." Tiva menatapku.
"Iya." Aku menyakinkan.
"Awas loh aku berharap nih." Tiva menatapku serius.
"Iya." Aku menekan ucapan ku.
Tiva hanya mengangguk.
...○•┈┈┈┈••❁ 🌸🌷🌸 ❁••┈┈┈┈•○...
Aku masuk ke dalam rumah setelah pulang dari sekolah. Seperti biasa aku hanya menghabiskan waktu pulang sekolah di rumah. Aku paling malas bepergian kemana mana. Lagian aku mau kemana sih. Gak ada tempat yang ingin aku datangi.
"Udah pulang Vi ?" Ibu datang dari arah dapur.
"Belum, aku bolos dari sekolah." Aku menatap ibu.
__ADS_1
"Udah tau aku udah pulang, masih aja nanya, ibu ini gimana sih." Aku tertawa kecil.
"Kirain kamu bolos." Ibu berjalan kembali dari sekolah.
"Astaga, kenapa juga aku harus bolos, gak ada kerjaan banget dah." Aku menepuk jidat.
" Ganti bajumu !" Ibu berteriak.
"Iya !"
Aku meletakan sepatuku di rak sepatu dan berjalan menuju kamarku.
"Owh iya bu." Aku berjalan menuju dapur.
"Apa." Ibu melirikku sekilas.
" Ibu salah satu teman sekelas ku mengajakku untuk belajar di rumahnya besok." Aku mendekati Ibu.
" Terus ?" Ibu tetap cekatan memasak.
"Boleh gak ?" Aku meminta ijin.
" Rumahnya dimana ?" Ibu bertanya.
" Gak jauh kok di perumahan Q." Aku mengingat alamat rumah Tiva.
" Perumahan Q ? Itukan perumahan orang kaya." Ibu berhenti sejenak saat aku menyebut alamat Tiva.
"Yah emang, siswa siswi SMP Z memang orang kaya semua, siswa siswi jalur beasiswa dikecualikan." Aku terkekeh.
" Tapi, jangan macam macam ya, dan juga jangan sembarangan memegang barang, kadang barang tak berguna di rumah orang kaya harganya selangit, padahal gak ada gunanya." Ibu mengingatkan.
"Iya, tau kok." Aku mengiyakan.
" Yaudah, pergi aja, tapi pulang jangan ke sore an." Ibu menatapku serius.
" Iya." Aku mengiyakan.
" Sana ganti baju." Ibu menatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut.
__ADS_1
Aku berjalan menuju kamarku, untuk mengganti bajuku. Aku mengambil hp ku dan mengabari Tiva bahwa aku akan kerumahnya besok.