
"Nadia Vira Qonita." Aku menoleh. Haru membaca nama di sampul buku catatanku.
" Udah belum ?" Ucapku mengambil bukuku.
"Belum." Dia mengambil kembali bukuku.
"Semalam kan udah ku kirim." Aku mengerutkan kening.
"Buram."
"Kenapa gak minta lagi kalo buram ?"
"Soalnya kau itu pemarah." Ucapnya sambil sekilas menatapku.
"Aishh, kau pinjam buku Jay-yum aja kalau begitu. Aku kan pemarah." Aku mengambil paksa bukuku.
"Astaghfirullah kepalaku pening melihat kalian." Jay-yum memegang kepalanya.
"Pinjamkan bukumu padanya." Aku menunjuk Haru yang menghela napas.
"Kau pun tau aku belum selesai nyatat. Ibu Ayu guru matematika itu cepat keluar dan Ibu Sari guru ipa itu cepat masuk, alhasil catatan di papan mau gak mau harus di hapus. Aku belum selesai." Jay-yum memperlihatkan bukunya.
"Nih, pinjam bukuku aja." Aku menyerahkan bukuku.
"Trus aku ?" Haru menunjukkan dirinya.
" Trus aku?" Ucapku mengejek.
" Sudah pemarah pelit lagi." Ucap Haru pelan tapi masih bisa ku dengar.
"Aku dengar yah !"
"Masa bodoh." Haru menghampiriku mendorong kepalaku pelan lalu pergi begitu saja.
" Aduh." Aku memegangi kepalaku.
" Sakit goblok."
" Gak peduli." Ucapnya sambil berjalan keluar dari kelas.
...○•┈┈┈┈••❁🏫📚🏫❁••┈┈┈┈•○...
" Viiiii !" Jay-yum memanggilku kesal.
"Apa ?"
"Aku panggil dari tadi gak nyawut!"
Ujarnya kesal.
"Maaf aku gak dengar."
__ADS_1
" Ishh sudahlah gak jadi." Jay-yum pergi dengan kesal.
"Kenapa sih ?" Aku mengejarnya.
"Gak jadi." Ucapnya kesal.
"Pemarah!" Ucapku pelan.
"Lama lama kau mirip Haru." Ucapnya menunjukku.
"Mirip dari mananya ?"
"Mirip dari segi menyebalkannya."
"Terserah kau mau bilang apa." Ucapku lalu meninggalkan Jay-yum.
" Bisa diam gak sih !" Aku dan Jay-yum terkejut. Kami menoleh dan di belakang kami Aiden terlihat kesal.
"Kalian ini yah. Ini perpustakaan gak usah berisik. Kalian dari tadi aku dengar berisik mulu." Aiden menunjukku dan Jay-yum.
"Maaf." Ucapku lirih
" Siapa sih Ai ?" Seseorang menghampiri Aiden.
"Mereka ? Teman sekelas ku." Aiden bicara sambil membaca buku yang ia pegang.
"Kek kenal yah." Dia melihatku seksama.
"Yang mana ?" Dia menatap Haru penasaran.
"Yang aku ceritakan waktu itu, yang berani membentak ku." Haru mengambil buku di sebuah rak.
"Maksudku orangnya yang mana ?" Anak itu menepuk jidatnya.
"Dia." Haru melihat sekilas padaku.
" Dia." Anak itu menunjukku. Haru hanya mengangguk.
Ada apa ini. Aku merasa tidak aman. Apa lagi anak itu menatapku heran.
"Kau sekelas dengannya bukan ?"
Tanyanya padaku sambil menunjuk Haru.
"Iya." Jawabku lirih.
" Baiklah, mungkin beberapa bulan yang akan datang kau tidak akan berani lagi membentaknya." Ucapnya sabil tertawa kecil.
Memang kenapa ini. Mencurigakan.
"Tapi aku seperti sering sekali melihatmu tapi di mana yah ?" Anak itu menatapku.
__ADS_1
"Di perpustakaan ini." Jawab Aiden singkat.
"Lah, kok tau ?" Anak itu menatap Aiden heran.
" Setiap kita datang ke sini. Dia selalu terlihat disini."
"Beneran? Aku gak merhatiin sih. Kok kamu tau banget?" Anak itu bertanya pada Aiden.
"Aku perhatiin soalnya. Cuman beberapa hari ini dia datangnya sama Jay-yum. Bukan teman yang biasanya datang." Aiden menunjuk Jay-yum.
" Aku gak merhatiin mereka. Cuman sekilas. Tapi kok kamu bisa merhatiin banget." Ucap anak itu tertawa kecil.
"Ishh mulai lagi. Soalnya mereka itu sukanya ngambil buku yang tinggi tinggi. Pernah sekali harus aku ambilkan karena terlalu tinggi."
"Ohhhh."
"Itu Tiva bukan aku." Ucapku pelan.
"Tiva ?"
"Ativa Rasyida Qori?" Anak itu mengerutkan keningnya.
"Kenal ?" Aku menatapnya.
"Yah kenal lah. Siapa sih yang gak kenal seorang Ativa Rasyida Qori." Anak itu menggelengkan kepalanya.
"Apa lagi aku dan dia sekelas." Dia melanjutkan perkataannya.
"SUNGGUH !" Aiden terlihat terkejut.
"Iya, kenapa masalah buat loh." Anak itu tertawa kecil.
"Enggak enggak kok." Aiden terlihat tidak tau harus bilang apa.
"Jika kau memperhatikan kami jika kami di perpustakaan. Kenapa waktu perkenalan kau terlihat tidak mengenaliku." Aku heran mengingat sikap Aiden waktu kami pertama kali masuk kelas baru.
"Nah, itu kenapa." Anak itu menunjuk Aiden.
"Ahh, itu… itu kerena aku… aku-" Aiden terbata bata.
"Mungkin karena yang kau perhatikan bukan dia dan Tiva tapi hanya Tiva saja. Itu sebabnya kau hapal betul dengan Tiva tapi tidak dengan dia." Anak itu menunjukku sambil tertawa.
"Ishhh enggak gitu." Aiden terlihat kesal.
"Aku mau ke kelas. Vira, Jay-yum kalian hanya akan menjadi nyamuk di situ. Kalian tidak akan mengerti jalan pikiran mereka." Haru meletakkan bukunya dan berjalan pergi.
Aku dan Jay-yum bertatapan lalu mengikuti Haru pergi.
"HEI TUNGGU." Aiden berlari menyusul.
Drama persahabatan laki laki emang beda. Sulit dimengerti.
__ADS_1