
" Kalian dari mana ?!" Sesosok suara yang begitu tegas terdengar. Dan lagi lagi sih mulut di lem dan kutu buku nyebelin.
" Kami dari halaman sekolah kenapa?" Jay-yum menatap tiga sekawan yang entah kenapa selalu nongol di tiap part.
"Tuh mata merah kenapa ?" Ucap heran salah satu dari mereka yang belum aku kenal.
" Kemasukan debu." Ucapku mengucek mataku. Ni anak kenapa dah. Kepo banget.
" Kok merah banget. Masa iya debu." Ungkapnya heran sambil menatap mataku.
" Gak kemasukan debu. Tapi kemasukan kerikil." Jay-yum menutup mataku dengan tangannya.
" Abis nangis ?" Haru dengan nada yang sulit di katakan. Di bilang penasaran. Tapi nadanya gak kayak bertanya. Di bilang mengejek. Tapi nadanya gak kayak nahan ketawa. Jadi gimana aku mendeskripsikannya.
"Bukan urusanmu!" Aku melepas tangan Jay-yum dari mataku.
"Mata dan hidung merah. Fix abis nangis." Haru menatap wajahku.
" Bukan urusanmu!"
"Kenapa nangis ?"
" Bukan urusanmu!"
" Aiden, Haru. Dan kau. KBL KBL. Kepo Banget Loh." Jay-yum mengeluarkan kata kata andalannya.
"Kau kau. Namaku Ian lah. Bukan kau kou kuw." Anak itu terdengar kesal.
" Ian. Baiklah I-an. Gak usah kepo deh. Bukan urusanmu juga." Jay-yum menarik ku.
"Mereka kenapa yah ?"
" Gak usah ladenin. Mereka trio ngurusin hidup orang." Jay-yum terlihat kesal.
...○•┈┈┈┈••❁🏫✨🏫❁••┈┈┈┈•○...
"Yum !"
"Apa ?"
" Makasih."
"Buat ?"
" Makasih udah dengerin ceritaku, curhatan ku, dan tangisanku."
"Puttss, santai aja kali."
" Lagian. Kau tau ?"
" Gak tau. Kau belum ngasih tau Yum."
"Belum selesai Vira !"
__ADS_1
"Nana Vi ! Aku ingin kau menjadi salah satu orang istimewa yang memanggilku Nana Vi!"
" Nana ?"
" Panggilan sayang nenekku padaku. Dan juga panggilan khusus Tiva padaku. Dan aku ingin kau juga menggunakan panggilan khusus itu !"
" Baiklah. Aku merasa istimewa."
" Kau memang istimewa."
"Ibuku, ayahku, nenekku, Tiva dan kau."
"Istimewa bagiku."
"Baiklah Nana Vi ! Berhenti membuat kau salting dengan kata kata manismu itu !"
" Manis gak tuh ?"
" MBL MBL. Manizzzz banget loh."
" Huhum."
"Bu Zahra datang !" Pekik salah satu teman sekelas ku.
Sontak hal itu membuat yang lain berhamburan masuk ke dalam kelas. Di ikuti oleh ibu Zahra.
Ibu Zahra menjelaskan dengan sangat menyenangkan. Caranya mengajar tidak membuat kita menjadi bosan.
"Anak anak. Ibu ingin kalian mengerjakan tugas ini berkelompok."
"Bangku 1 dan 2 dari kiri pertama dari depan satu kelompok dengan bangku di belakangnya."
"Bangku 1 dan 2 dari kanan pertama dari depan satu kelompok dengan bangku di belakangnya."
"Bangku 1 dan 2 dari kiri ke 3 dari depan satu kelompok dengan bangku di belakangnya."
"Bangku 1 dan 2 dari kanan ke 3 dari depan satu kelompok dengan bangku di belakangnya."
Apes. Bangku 1 dan 2 dari kanan pertama dari depan di isi oleh Haru dan Aiden. Dan bangku di belakang mereka. Adalah Davin di belakang Haru dan Aku di belakang Aiden. Artinya aku satu kelompok dengan Haru,Aiden,Davin.
"Bu ?"
"Bagaimana bagian tengah ?"
"Bangku pertama masuk di kelompok pertama."
"Bangku kedua masuk di kelompok kedua."
"Bangku ketiga masuk di kelompok ketiga."
"Bangku keempat masuk di kelompok keempat."
"Jelas ?"
__ADS_1
"Iya bu."
Kami kelompok dua. Dan bangku kedua adalah Jay-yum. Huh, akhirnya. Aku terbebas dari tiga manusia yang seperti bukan manusia.
"Bagus, aku terjebak di antara empat anak yang paling pintar di kelas." Davin tersenyum kecut.
" Setidaknya aku terbebas dari yang namanya Remedy."
"Baiklah anak anak, tugas ini akan di kumpulkan di pertemuan berikutnya."
"Karena jam ibu sudah habis. Silakan menunggu pelajaran berikutnya. Ingat tugasnya !" Bu Zahra keluar dari kelas.
"Kita ngerjainnya di mana ?" Tanyaku pada mereka berempat.
" Terserah." Haru memeluk mukanya di meja.
" Taman gimana ?" Jay-yum mengusulkan.
" Aku ngikut." Ucapku hampir bersamaan dengan Haru.
" Terserah kalian aja." Ucap Aiden ketika kami menatapnya untuk minta persetujuan.
" Aku juga ngikut kalian aja. Paling aku jadi beban." Davin tersenyum kecil.
"Fix taman. Jam berapa ?" Tanya Jay-yum.
" Jam 3 gimana ?" Aku mengusulkan.
" Terserah!" Haru dan Aiden bersamaan.
" Aku ngikut." Ucap Davin.
" Baiklah taman jam 3. Kapan ?" Aku menatap mereka.
" Nanti siang gimana ?" Usulku.
" Paling bilang, terserah dan aku ngikut." Jay-yum menatap kesal Haru,Aiden dan Davin.
" Iya." Ucap mereka serentak.
"Tuh kan !" Jay-yum menggelengkan kepalanya.
"Masih untuk jawabnya terserah. Gimana kalau di tanya jawabnya, kamu nanya !" Davin tertawa kecil.
...----------------...
Thanks for Reading (◍•ᴗ•◍)✧*。
Davin terdampar di circle penganut "ngikut aja." 🤣
kalau kalian jadi Davin kalian mau ngapain ?
^^^Salam panda bulan :^^^
__ADS_1
^^^♡ Vera Zaira ^^^