Perjalanan Para Pemimpi

Perjalanan Para Pemimpi
Aku Ingin


__ADS_3

" NANA !"


Aku menoleh ke belakang mencari sosok yang memanggilku.


" Na, mau kemana ?" Tiva mendekatiku dengan senyum menawannya.


'akh senyumannya itu loh, manisnya.'


" Woiiiiiii, melamun mulu." Tiva membuyar lamunanku.


" Hehe, ngelamunin kamu soalnya."


"Dih, aku merasa spesial." Tiva tersenyum senang.


" Kamu emang spesial."


"Semua orang spesial Nana Vi."


" Iya, semua orang spesial di mata orang yang tepat." Aku menatap Tiva yang masih mempertahankan senyum manisnya.


" Contohnya mata kita sendiri." Aku menunjuk mataku.


"Hahahaha…. Bisa aja kamu." Tiva tertawa.


" Di Mataku kamu itu spesial." Tiva menatapku.


"Berarti mata kamu juga tepat."


"Yahhhh… mata siapa dulu dong. Tinyooo." Tiva menunjuk matanya.


"Matamu itu indah, terlihat bersinar dan memancarkan sinar kasih sayang."


"Ehh, aku salting nih." Tiva menyembunyikan wajahnya.


" Serius, bukan hanya matamu. Bentuk wajahmu, bibirmu, hidungmu, rambutmu, badanmu indah. Orang tidak akan bosan melihatmu Tinyo." Aku memperhatikan Tiva dari ujung rambut sampai ujung kaki.


" Ah sudahlah. Eh kita mau kemana ini. Bicara dari tadi sampai tidak sadar kita udah jalan jauh." Tiva melihat sekeliling.

__ADS_1


" Eh, tadinya aku mau ke perpustakaan. Kenapa malah nyasar ke kelas orang." Aku melihat tanda di depan kelas yang berada di samping kami.


" Yaudah ayo ke perpus." Tiva menarik tanganku.


...•┈┈┈••✵🏫📚🏫✵••┈┈┈•...


" Na, ambilkan buku itu dong." Tiva menunjuk sebuah buku di salah satu rak perpustakaan.


Aku berjinjit ingin mengambilnya. Tapi tinggi ku juga tidak mendukung.


" Gak nyampe." Aku menatap Tiva.


" Aku juga gak bisa." Tiva berjinjit.


" Trus gimana dong ?" Tiva cemberut.


" Yah mau gimana lagi, aku belum cukup tinggi untuk mengambilnya."


" Yah, padahal aku mau baca buku itu." Tiva menghela nafas.


Pandanganku tertuju pada seorang anak laki laki yang muncul dari balik rak di belakang kami. Dia terlihat kesal dan menghampiri kami.


" Maaf."


" Kalian ini kenapa berisik ?"


" Kami tidak bisa meraih buku itu." Aku menunjuk buku yang ingin di ambil Tiva.


Anak itu mengangkat kepalanya menatap buku yang aku tunjuk.


" Ini ?" Dia mengambil buku tersebut.


" Iya."


" Ini ambil. Jangan berisik lagi." Dia memberikan buku tersebut padaku lalu pergi begitu saja.


" Ini Nyo." Aku memberikan buku tersebut kepada Tiva.

__ADS_1


" Makasih." Tiva mengambil buku tersebut.


" Kenapa terima kasih padaku. Kan yang ngambil anak itu."


"Tapi dia udah pergi sebelum aku sempat terima kasih." Tiva menatap ke arah anak itu berjalan tadi.


" Yaudah kita cari tempat duduk yuk." Aku berjalan mencari kursi yang di sediakan di perpustakaan.


" Tuh disana." Tiva menunjuk sebuah kursi panjang di dekat jendela.


" Nana kamu belum ngomong cita cita kamu apa."


Aku menutup buku yang aku baca lalu melihat ke luar jendela.


" Menjadi penulis yang menginspirasi banyak orang." Aku tersenyum.


" Penulis ? Penulis buku ?"


" Iya, penulis. Seorang pengarang novel yang karya banyak di baca orang."


" Harus banyak banyak  imajinasi dong. Kan novel itu biasanya hasil imajinasi."


" Hummm, novel. Aku ingin menjadi pengarang yang mengubah pandangan orang orang tentang novel. Novel di mata orang orang biasanya tentang percintaan. Kehidupan liar anak muda. Novel di mata orang orang tidak baik di baca oleh anak anak. Novel di mata orang orang hanyalah sebuah buku cerita yang tebal."


"Tapi, tidak semua orang sadar kalau novel itu ada yang mengandung pelajaran hidup. Novel itu adalah sarana belajar yang menyenangkan. Novel bukan hanya untuk orang dewasa. Novel itu untuk semua kalangan. Novel meningkatkan keinginan membaca. Novel, secara tidak langsung memberikan nasihat yang berguna. Sayangnya novel novel yang banyak di jumpai hanya tentang percintaan, perselingkuhan, penghianat, dan tindakan tindakan tak bermoral. Aku tidak tau apakah penulisnya menargetkan pembacanya orang dewasa, atau bagaimana, padahal anak anak juga suka membaca dan punya banyak waktu luang untuk membaca di banding orang dewasa. Aku tidak mengerti apa yang ada di benak penulis penulis yang sangat suka membuat karya karya yang terdapat hal hal yang tidak boleh di ketahui anak anak. Dan itulah yang menimbulkan pemikiran orang dewasa bahwa novel itu tidak cocok untuk anak anak. Mereka melarang anak anak mereka untuk membaca novel. Agar anak anaknya tidak terpengaruh kelakuan kelakuan karakter dalam novel."


"Itu sebabnya. Karya karyaku kedepannya tidak akan aku tujukan hanya kepada orang dewasa. Karya karyaku akan ku buat sebagai sarana edukasi orang orang. Karya karyaku akan ku buat untuk menginspirasi orang orang. Bukan hanya untuk menghibur tapi juga untuk memotivasi."


" Wah, niat yang bagus. Aku nantikan buku bukumu." Tiva menepuk tangannya.


" Doakan agar suatu hari nanti buku bukuku banyak beredar." Aku tertawa.


" Pasti. Semoga kau mendapatkan yang terbaik kedepannya."


" Baiklah kita akan terus disini atau kita ke kelas. Sebentar lagi jam istirahat selesai."


Aku menatap jam di dinding perpustakaan.

__ADS_1


" Ayo ke kelas." Tiva berdiri dan membawa buku yang tadi di bacanya.


__ADS_2