
Sesuai yang di harapkan dari mereka. Mereka datang tepat waktu. Haru dan Aiden berjalan barengan, Aiden terlihat membawa gitar, Jay-yum menyusul agak jauh sambil. Ah, makan. Yah makan. Ngemil. Jay-yum tidak bisa berpisah dengan kripik keju. Sedangkan Davin, dia datang sebelum aku datang.
" Kalian sudah datang." Ucap Jay-yum saat dia sampai.
" Baiklah karena kalian sudah datang semua mari kita kerjakan agar kita cepat pulang." Davin mengambil bukunya.
" Ayo." Jay-yum duduk di salah satu bangku.
"Kok bawa gitar ?" Tanyaku pada Aiden.
" Aku mau belajar disini setelah kerja kelompok."
"Owh."
Kerja kelompok itu berjalan baik. Tentu dengan beberapa lelucon. Tapi, yah mau bagaimana pun kau berusaha. Jangankan tawa, senyum Haru dan Aiden aja sepertinya lebih mahal dari ginjal.
"Tugasnya sudah selesai kan." Davin bertanya.
"Iya nih." Aku mengecek semuanya kembali.
"Bagus aku mau pulang dulu. Kalian belum mau pulang ?"
" Aku ada janji." Ucapku tersenyum.
"Aku juga." Ucap Haru yang membuat kami semua menatapnya.
" Dengan Ian." Sambungnya.
" Kalau aku dengan ada janji makan ice cream dengan Tiva."
" Aku mau belajar gitar di sana." Aiden menunjuk sebuah bangku yang di kelilingi oleh bunga saat kami menatapnya.
" Aku mau pulang aja deh." Jay-yum mengemasi barang-barangnya.
Lengang sejenak
"Nah itu dia Tiva dan Ian." Ucapku saat Tiva dan Ian berjalan ke arah kami.
" Kok barengan ?" Tanyaku pada Tiva.
" Kami ketemu di luar tadi. Katanya ada janji di sini. Pas masuk aku melihatmu dan dia melihat Haru. Makanya kami barengan ke sini.
" Owh ya udah." Aku berdiri dan merapikan barang barang ku.
" Gitar ?" Tiva menatap Aiden yang berjalan sambil membawa gitar.
" Kau bisa bermain gitar ?" Tiva menatap Aiden antusias.
"Iya." Balas Aiden singkat.
" Bisa kau ajari aku ?" Tiva terlihat memohon.
" Baiklah."
" Makasih."
Aiden pergi di ikuti Tiva.
Lah ?
Dia kan janjian sama aku. Kenapa malah pergi sama Aiden. Wah, Tiva ini yah !
" Ikan !" Jay-yum tiba tiba terdengar.
__ADS_1
" Ada ikan koi di kolam itu." Ucapnya antusias.
" Koi ?" Ian mencari cari kolam yang di maksud Jay-yum.
" Aku mau lihat ah." Jay-yum berlari kecil.
" Aku ikut." Ian mengejar Jay-yum.
Aku dan Haru saling pandang.
"Mereka janjian sama siapa sih sebenarnya ?" Ucapku kesal.
" Aku mau duduk ngemil di tepi danau dengannya. Tapi kenapa malah lihat ikan ?" Haru menarik nafas.
"Aku mau makan ice cream dengan Tiva. Tapi kenapa malah belajar gitar ?"
Aku dan Haru saling pandang lalu menghela nafas. Haha, nasib kami sama. Sama sama di tinggal pergi.
"Aku mau makan ice cream tapi aku tidak mau sendiri."
"Aku juga mau duduk ngemil di tepi danau tapi aku tidak ingin sendiri."
Lagi lagi, aku dan Haru saling pandang. Nasib kami memang sama persis.
"Mau makan ice cream sambil duduk di tepi danau?" Tanya Haru.
" Boleh, kayaknya Tiva bakalan lama dengan Aiden."
" Ian jika sudah menyangkut hewan hewan terutama ikan. Sudah lupa segalanya."
Haru berjalan menuju warung dekat taman. Aku menyusul di belakang.
"Kau mau rasa apa?"
"Cokelat."
"Baiklah."
"Kau mau beri cemilan apa ?"
" Terserah."
" Paman itu tidak jual terserah."
" Roti cokelat dan susu cokelat."
"Baiklah."
Haru memesan dua susu dan empat roti. Satu susu cokelat, satu susu pisang. Dua roti cokelat dan dua roti pisang. Sepertinya dia sangat suka rasa pisang.
"Biar aku yang bawa." Ucapnya saat aku mengambil cemilan yang aku minta barusan.
"Berapa harganya ?" Aku mengeluarkan uangku.
"Sudah ku bayar."
"Aku ganti uangmu."
"Tidak usah."
"Aku mau ganti !"
"Aku bilang tidak usah !"
__ADS_1
" Haru !"
"Vira !"
" Aku mau ganti !"
" Aku bilang tidak usah !"
" Kali ini kau yang harus mengalah. Aku sudah sering mengalah darimu !" Ucapnya sambil meninggalkan ku.
Iya sih, biasanya kau debat dia yang mengalah. Tapi kali ini dia tidak mau mengalah. Biarin aja deh.
"Makasih."
"Sama sama."
Kami makan ice cream dan cemilan yang kami beli barusan di tepi danau. Tapi, Haru tetap Haru. Dia bukan Tiva. Rasanya tidak seru. Aku mau ngobrol tapi tidak tau harus bilang apa. Dia juga tidak mungkin di harapkan untuk memulai pembicaraan.
"Haruskah kita tidak bicara pada mereka berdua ?" Haru tiba tiba bersuara membuat aku hampir terdesak susuku.
"Kita buat mereka jerah." Balasku.
"Ian menyebalkan sekali."
"Tiva menyebalkan sekali."
Kami bertatapan.
"Hahaha, ice cream mu kenapa di taro di hidung." Ucapku menunjuk hidungnya yang telah terkena ice cream. Dia mengusap hidungnya. Aku terus tertawa.
"Aduh !" Dia mengusapkan ice cream yang lumer di tangannya ke wajahku.
" Berhenti menertawai ku."
" Isshh, gak seru banget."
" Sudah jam 5 ! Apa kau tidak mau pulang ?"
" Sebentar lagi, lagian rumahku dekat. Kalau kau mau pulang, pulang saja."
" Susu pisang ku sudah habis !" Ucapnya mengguncangkan kotak kemasan susunya.
" Aku masih haus !"
" Berikan susumu." Ucapnya mengambil susu cokelat yang aku letakkan.
"Hei !"
" Akan aku ganti lain waktu. Aku mau pulang." Ucapnya sambil berjalan pergi.
...----------------...
*Thanks for Reading (◍•ᴗ•◍)✧。
jujur aja, ini udah di ketik lamaaaaaa banget kayak lamanya kamu menunggu dia. eh ?
tapi setelah baca ulang humornya VerZai sebatas " Lebih mahal daripada ginjal." emang ginjal itu harganya berapa sih ? pantes aja Haru dan Aiden itu kaya. orang senyum aja lebih mah dari ginjal. yekan ?
btw, kalau kalian punya teman kayak Tiva dan Ian kalian bakal gimana ?
btw part 2, ada yang mulai puber nih. mari kita kawal Tuan muda Haru dan nona Vira ini sampai pelaminan. eh ? jauh amat ! ingat mereka masih SMP ! belajar ! jangan cinta cintaan dulu !
yang setuju angkat tangan ! eh ? jangan deh ! angkat jempol aja biar simpel.
__ADS_1
^^^^^^Salam panda bulan :^^^^^^
^^^♡ Vera Zaira** ^^^