
Hari hari berlalu dengan cepat. Tidak terasa sudah hampir setahun aku berteman dengan Tiva. Tidak, bukan teman tapi sahabat. Kami melewati hari hari dengan belajar bersama dikelas, jajan bersama di kantin, membaca bersama di perpustakaan dan bermain bersama di taman setelah pulang sekolah.
Suka duka telah kami lewati berdua. Kadang bercanda dan tertawa. Kadang marahan dan bertengkar. Tapi kami berdua tetap bersahabat. Mungkin sulit dipercaya kalau kami akrab karena kami bertengkar satu tahun yang lalu. Pertengkaran berujung persahabatan mungkin tepat dengan keadaan antara aku dan Tiva.
" Na, aku gak ngerti soal yang ini." Tiva terlihat frustasi melihat buku Ipa di depannya.
" Astaga, Kenapa Fisika itu sangat sulit ?" Tiva membanting pulpennya.
" Aku juga masih suka bingung kalo belajar Fisika, pake rumus yang sangat suka pake huruf a,b,p,f,g,h,w,y. segala rumus pake huruf dan angka jadinya pusing." Aku berusaha mengingat ngingat rumus yang di berikan ibu Susi guru ipa kami.
" Tapi jelasin dari mana angka angka ini muncul." Tiva menunjuk kesal buku catatannya.
"Aduh, kepalaku pusing dan sebentar lagi akan ujian akhir tahun. Apa kata papa kalau nilaiku hancur." Tiva terlihat sangat frustasi.
" Aku juga frustasi mikirin ujian ini, kalo sekali ini nilaiku tidak tinggi aku harus mati matian naikin nilai di ujian berikutnya dan itu harus aku lakukan jika masih mau bersekolah disini." Aku menyandarkan tubuhku di kursi.
"Jika nilaiku turun selama 3 kali ujian berturut turut. Itu lampu merah untukku. Beasiswa akan dicabut." Aku tidak bisa membayangkan nasibku ketika beasiswa ku dicabut.
"Tidak, kita harus menyingkirkan mimpi buruk itu, belajarlah Vi. Kita harus mendapatkan nilai tinggi di ujian ini." Tiva mengambil pulpennya dan mengamati buku catatannya dengan seksama.
Aku memperhatikan wajah cantik Tiva ketika sedang serius. Dia itu kenapa cantik sekali sih. Bukannya aku iri atau gimana. Aku itu tidak jelek dan tidak cantik. Aku sedang sedang saja. Tapi jika di bandingkan dengan Tiva yang cantiknya luar biasa aku ini akan terlihat jelek.
Ah sudahlah, berhenti memikirkan tentang kecantikan. Pikirkan apakah kau sudah bisa untuk ujian akhir tahun. Semangat Vi !
Aku harus bisa untuk ujian ini. Harus !
Aku mengambil pulpen dan mengerjakan soal latihan di bukuku.
__ADS_1
" Woi Vi." Aku menatap Tiva yang memanggilku.
"Apa ?"
"Nulisnya jangan kayak mau berantem. Entar kertasnya bolong." Tiva menunjuk bukuku.
"Hehe, terlalu semangat untuk persiapan ujian." Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Persiapan ujian atau persiapan perang."
"Keduanya, ujian adalah peperangan memperjuangkan masa depan."
"Dramatis !" Tiva menggelengkan kepalanya.
...○•┈┈┈┈••❁🏫📋🏫❁••┈┈┈┈•○...
Pekan ujian akhir tahun telah kami lewati. Hari ini adalah penentuan naik tidaknya kami ke kelas yang lebih tinggi. Pembagian raport. Ini hari pembagian raport. Kelas kelas sudah dihias untuk menyambut orang tua siswa yang akan datang untuk menerima hasil belajar anak anaknya selama setahun terakhir. Aku gugup. Aku sudah melihat hasil ujian akhir tahun. Dan nilaiku berada di atas kriteria ketuntasan maksimal. Tapi tetap saja dari dulu aku itu sangat gugup jika hari pembagian raport tiba.
"Ayah." Aku menghampiri ayah.
" Ayah sudah datang ?" Aku tersenyum senang saat ayah datang untuk mengambilkan raport ku.
" Apa ayah terlambat untuk mengambil hasil kerja keras putri ayah selama setahun terakhir?" Ayah mengusap kepalaku.
"Ayah." Panggilku lirih. Ayah menoleh dan menatapku.
"Bagaimana jika aku gagal ? Bagaimana jika nilaiku jelek ? Bagaimana jika aku mengecewakan ayah ?" Aku tertunduk.
__ADS_1
" Lihat siapa yang bicara ? Vi, kenapa kau merasa akan gagal, kenapa kau merasa akan mengecewakan ayah ?" Ayah mengusap kepalaku.
Ayah pergi dan duduk di bangku halaman sekolah.
"Kemari lah Vi !" Ayah menepuk pelan bangku tersebut.
Aku berjalan menuju bangku tersebut dan duduk di samping ayah.
"Apa kau ingat satu tahun yang lalu ketika nenekmu datang ke rumah?" Ayah memulai pembicaraan.
"Ayah tidak ada di sana saat itu tapi ibumu menceritakannya pada ayah." Ayah tersenyum.
"Saat itu kau selesai ujian masuk ke sekolah ini, kau merasa kau tidak mampu melewatinya. Aku berkecil hati saat itu. Nenek mengeluarkan kalimat ajaibnya yang membuatmu patuh."
"Nana Vi maukah kau mendengarkan nenek." Ayah mengikuti gaya bicara nenek.
"Ayah tidak tahu bagaimana nenekmu mengatakannya. Tapi ibumu bilang, dia membelai rambutmu dan berkata." Ayah membelai lembut rambutku.
"Apa yang nenek katakan." Ayah menatapku sambil tersenyum. Aku balas tersenyum dan menatap ayah.
"Nenek berkata, Nana Vi caramu menilai impianmu menentukan keberhasilan dan kegagalanmu meraih mimpi tersebut. Tetaplah optimis, berusahalah semaksimal mungkin, dan serahkan hasilnya kepada Allah." Aku mengulang nasihat yang nenek katakan padaku di hari aku pulang dari ujian masuk satu tahun yang lalu.
"Lihat kau masih mengingat nasihat nenek, apa kau sudah melakukannya ?"
"Kau sudah melakukan yang pertama, optimis. Kau sangat percaya pada dirimu, kemampuanmu. Jika kau tidak percaya diri kau tidak akan bisa berada di sekolah ini selama satu tahun ini. Kedua, ikhtiar. Kau sudah berusaha semaksimalnya bukan ? Kau sudah berusaha mati matian selama satu tahun terakhir ini, jika tidak beasiswa mu pasti sudah dicabut dari dulu. Dan yang ketiga, tawakal. Apakah kau sudah menyerahkan hasilnya apa Tuhan yang maha kuasa ?" Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan ayah.
" Lalu apa yang kau khawatirkan ? Apapun hasilnya nanti selama kau sudah melaksanakan ketiga hal tadi, ayah tidak akan kecewa denganmu. Tidak semua hal harus bisa kau lakukan. Tapi kau sudah berusaha dan berdoa itu sudah lebih dari cukup bagi ayah. Namun, tiap usaha pasti ada ganjarannya. Kau sudah banyak berusaha pasti ganjaran yang kau dapatkan juga besar. Percayalah putriku !" Ayah menghapus jejak air mata yang menetes di wajahku.
__ADS_1
Aku terharu mendengar nasehat ayahku. Aku tidak peduli jika ada yang melihat aku menangis di bangku halaman.
"Aku sudah berusaha selama ini, kenapa nilaiku bisa tidak tinggi. Terima kasih ayah sudah memberikan nasihat ini padaku." Aku tersenyum dan memeluk ayah.