Perjalanan Para Pemimpi

Perjalanan Para Pemimpi
Permintaan Maaf


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat sejak kemarin aku dan Tiva bertengkar. Sebenarnya aku tidak mau bertengkar dengannya. Tapi aku sudah tidak tahan dengan perlakuan mereka padaku. Apa salah kalau aku membela diri ?


"Vi, kok melamun." Ibu mendekatiku.


" Ah tidak ada apa apa kok." Aku tersenyum pada ibu.


" Ibu tau jika kau berbohong Vi." Ibu menekan perkataannya.


" Humm, sebenarnya." Aku berbalik badan menghadap ibu. Aku merasa harus menceritakan tentang pertengkaran ku di sekolah. Mulai dari aku menemukan tanda pengenal Tiva. Kesalahpahaman antara aku dan Tiva. Pertengkaran Ku dengan Ninda dan kakaknya. Hingga pertengkaran ku dengan Tiva.


" Hummm, Tiva dan Ninda seharusnya mendengarkan penjelasanmu dulu." Ibu mengusap kepalaku.


" Tapi kau harusnya menjelaskan kepada mereka sebelum mereka berburuk sangka, diam mu mereka anggap sebagai pertanda bahwa anggapan mereka benar." Ibu menatapku.


" Tapi, apa ini kesalahanku jika Tiva gagal dalam audisi, aku hanya menemukan pengenalnya itu." Aku membela diri.


" Bukan, bukan kesalahanmu, kau hanya menemukan pengenalnya, tapi alangkah bagusnya jika saat kau menemukannya kau langsung berlari mengejarnya dan mengembalikannya." Ibu menghiburku.


"Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang." Aku meminta saran.


" Kembalikan pengenal tersebut, jelaskan dengan baik baik kronologis kejadian itu, jelaskan bahwa kau tidak ingin menjatuhkan dia, dan minta maaflah kepadanya karena kau tidak langsung mengembalikannya." Ibu menyarankan.


" Bagaimana setuju." Ibu bertanya.


" Baiklah akan aku lakukan." Aku tersenyum senang dan langsung memeluk ibu.


...○•┈┈┈┈••❁ 🌸🌷🌸 ❁••┈┈┈┈•○...


Keesokan harinya di sekolah. Aku langsung menemui Tiva yang berjalan tak jauh di depanku.


" Tiva !" Aku menghampiri Tiva.


Tiva menoleh dan menatapku gugup.


"Tiva, aku mau bicara soal kemarin." Aku menatap Tiva serius.

__ADS_1


" Aku udah tau kok." Tiva tersenyum kecil.


" Maaf yah aku berburuk sangka sama kamu." Tiva mengulurkan tangannya.


" Heh, maksudnya." Aku meraih tangan Tiva.


" Setelah dipikir pikir kau itu tidak salah, yang salah itu aku karena ceroboh, hingga tanda pengenal itu jatuh, aku juga udah dengar cerita dari pak Wahyu tentang hari itu." Tiva tertunduk.


" Maaf yah sudah marah marah ke kamu, Haru juga udah cerita tentang pertengkaran kalian kemarin, itu salah Ninda bukan kamu, aku terlalu percaya pada Ninda." Tiva terlihat kesal.


" Gak papa kok." Aku tersenyum senang.


Tiva dan aku sudah tidak ada masalah lagi.


Itu bagus aku gak suka permusuhan.


"Vira, ke kelas yuk." Tiva mengajakku tapi ia terlihat menatap seseorang dengan tajam.


Aku menoleh ke arah tatapan Tiva.


"Ninda." Aku melihat Ninda berjalan menuju kami.


Aku hanya mengikuti Tiva yang masih menarik tanganku.


Saat sampai di kelas aku bertanya pada Tiva.


" Kamu kenapa kayak menghindar dari Ninda tadi." Aku bertanya.


" Gak ada papa kok." Tiva tersenyum kecil.


"Owh." Aku hanya menjawab singkat.


Aku sedang malas bertanya lebih lanjut.


" Aku ke kantin dulu yah, mau ikut." Tiva bertanya.

__ADS_1


" Kau pergi saja, aku sedang tidak ingin ke kantin." Aku tersenyum.


"Yaudah aku pergi." Tiva berjalan keluar kelas.


Tidak lama kemudian Ninda masuk ke kelas. Ia menatapku tajam dan terlihat begitu kesal.


'Astaga tatapannya kayak Singa kelaparan, tapi kalau di balas kayak Tikus di kejar kucing' aku bergumam dalam hati.


" Apa liat liat." Ninda terlihat kesal.


"Dih, yang bilang aku ngeliat kamu itu siapa." Aku bertingkah tidak terima.


" Kamu ngeliatin aku kan dari tadi, mau apa kau." Ninda terlihat begitu kesal.


" Yang bilang aku ngeliat kamu itu siapa." Aku mengulang perkataanku.


" Yah jelas jelas kamu ngeliat aku, aku liat sendiri tadi." Ninda memaki maki.


" Itu, kamu sendiri ngeliatin aku, aku b aja tuh." Aku merasa puas dia masuk dalam perangkapku.


Ninda terlihat bingung dan mengingat ngingat kemudian terlihat marah, sepertinya dia sadar aku menjebaknya dalam kata katanya sendiri.


" Bang*at." Ninda begitu berapi api.


"NINDA !"Sesosok anak laki laki memakai Hoodie hitam yang dari tadi berada di luar memanggil Ninda dengan tegas.


" Astaga." Ninda terlihat panik.


Aku menatap anak laki laki itu, itu Haru kakak laki laki Ninda.


" Haru, aku tidak sengaja dia membuatku begitu marah jadi." Ninda menahan kata katanya.


Aku melihat Haru menatap Ninda tajam. Kemudian menatapku lalu pergi.


" Habislah aku." Ninda bergumam lalu berlari keluar mengejar Kakaknya.

__ADS_1


Kurasa dia sangat takut kepada kakaknya.


Yah biarkan dia menyelesaikan urusannya dengan kakaknya.


__ADS_2