Perjalanan Para Pemimpi

Perjalanan Para Pemimpi
Ganjaran yang Tertunda


__ADS_3

"Ayah." Berlari menghampiri ayah yang baru keluar dari ruang kelas.


"Vi ?"


"Bagaimana ? Apa aku berhasil ?"


Ayah hanya tersenyum dan menyerahkan sebuah raport yang bertuliskan Laporan Hasil Pencapaian Kompetensi peserta didik SMP Z.


"Raport ku?" Aku mengambil raport tersebut.


"Bukan, itu raport anak tetangga."


Aku menengadahkan kepalaku menatap Ayah.


" Kalau bukan raport mu raport siapa lagi ? Mana mungkin raport anak tetangga, tetangga kita kan tidak punya anak." Ayah memukul kepalaku pelan.


"Hehe, iya juga sih." Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Ayo kita pulang, kau buka raport mu di rumah saja." Ayah berjalan menuju gerbang sekolah.


"Ayah tunggu !" Aku berlari mengejar ayah.


...○•┈┈┈┈••❁🏡✨🏡❁••┈┈┈┈•○...


Aku masuk ke kamarku, ku rebahkan tubuhku di kasur. Hari ini terasa begitu melelahkan. Aku meraih tasku.


"Bismillah." Aku membuka raport ku. Kubuka lembar demi lembar, halaman demi halaman.


Air mataku menetes. Inikah hasil kerja kerasku selama setahun ?  Inikah yang aku perjuangkan selama ini ? Demi mengisi kertas putih dengan angka yang tinggi. Aku mengejar angka ini setahun penuh. Tapi kenapa ?


Kenapa hasilnya seperti ini ?

__ADS_1


Aku terisak pelan menatap deretan angka di raport ku. Aku mati matian selama setahun tapi hasilnya hanya seperti ini. Nilai pas pasan. Sepertinya aku hampir saja tidak naik kelas jika nilaiku ini diturunkan sedikit saja. Nilaiku ini seperti berada di ujung jurang, yang ketika dimundurkan sedikit saja akan jatuh ke jurang yang dalam. Inikah yang aku perjuangkan ?


Hatiku terasa sakit. Aku sudah berjuang. Inikah hasilnya ? Aku sudah optimis, ikhtiar dan tawakkal tapi inikah hasilnya?


Aku tidak percaya lagi pada kalimat " usaha tidak mengkhianati hasil." Jika usaha tidak mengkhianati hasil. Lalu apa ini ?


Apakah usahaku masih kurang. Apakah aku selama ini tidak cukup berusaha ?


Kenapa ?


Kenapa yah tuhan, kenapa hasilnya bisa seperti ini ?


Apakah doaku selama ini tidak engkau dengar ?


Apakah usahaku tidak cukup sehingga engkau  tidak bisa kau berikan ganjarannya ?


Aku melempar raport ku. Aku menangis tersedu sedu. Angka angka nilai di raport ku terus terngiang di kepalaku.


"Vi ?" Aku mengangkat kepalaku. Ibu dan ayah sudah berada di depan pintu kamar.


" I..ibu." aku menangis di pelukan ibu.


"Kenapa, ada apa Vi ?"ibu menghapus air mataku.


"Kenapa ?"


"Kenapa nilaiku seperti itu ?" Aku menarik napas dan mulai mengatur tangisku sambil menunjuk raport yang yang sudah aku lemparkan tadi.


Ibu mengambil raport tersebut dan membacanya.


"Lihat, nilaiku semester lalu lebih tinggi di banding semester ini. Artinya apa ibu ? Nilaiku turun !" Aku membandingkan nilai semester lalu dan semester ini.

__ADS_1


" Aku sudah senang beberapa hari yang lalu, sejauh ini beasiswaku tidak akan dicabut karena nilai ujianku selama ini tidak pernah turun. Tapi sekarang bukan karena ujian, tapi aku khawatir jika semester depan nilai raport ku lebih rendah dari pada ini. Aku sudah tidak bisa lagi membayangkan bagaimana aku harus menaikan nilai di semester depannya lagi." Aku menunduk.


"Apakah ini hasil usahaku ibu ?" Aku menatap ibu sambil menunjuk raport ku.


"Inikah yang aku perjuangkan ?"


"Inikah hasil dari tiga hal yang aku lakukan ayah ?" Aku menatap ayah sambil tetap menunjuk raport ku.


"Inikah ganjaran atas usahaku ?" Aku tidak lagi dapat menahan air mataku.


"Vi ?" Ayah memanggilku lembut.


"Ayah sudah bilang bukan, setiap usaha pasti ada ganjarannya."


"Lalu ? Kenapa ganjaran atas usahaku seperti ini ?"


" Berjalan lambat bukan berarti tida akan sampai."


" Mungkin kau belum mendapatkan semua ganjaran atas usahamu, lagi pun kita hanya bisa berusaha hasilnya biar tuhan yang atur."


"Kenapa belum ayah ? Kenapa padahal seharusnya ini saatnya untuk mendapat ganjaran ?"


"Ini baru permulaan Vi, jalanmu masih panjang. Jangan putus asa. Yang menurut kita baik belum tentu baik bagi kita. Yang menurut kita buruk belum tentu buruk bagi kita."


"Ayah, apakah doaku belum cukup sehingga Allah tidak mengabulkannya ?" Ucapku lirih.


"Allah itu maha mendengar. Dia pasti mendengar doamu. Ingat Allah itu mengabulkan doa dengan tiga cara."


"Pertama dia mengabulkan sesuai dengan doa tersebut, kedua dia mengganti apa yang kita minta dengan yang lebih baik. Ketiga dia menggantinya saat di akhirat nanti."


"Vi, jangan berburuk sangka pada tuhan. Bisa jadi dia menyiapkan yang lebih baik untukmu." Ayah mengusap kepalaku.

__ADS_1


"Lagi pun, bagaimana pun hasilnya jika kau berusaha kau sudah membuat ayah dan ibu bangga." Ayah dan ibu tersenyum.


" Terima kasih ayah, ibu. Aku akan berusaha semaksimal mungkin kedepannya."


__ADS_2