Perjalanan Para Pemimpi

Perjalanan Para Pemimpi
mati muda


__ADS_3

" Vii ?!"


"Apa ?" Aku menoleh ketika Jay-yum menatap heran seseorang.


"Lihat itu !" Jay-yum menunjuk keluar jendela dimana dua orang adik kelas yang sedang berjalan bergandengan tangan.


"Kenapa ?"


" Keknya mereka pacaran deh ?" Jay-yum menatap menyelidik.


" Emang kenapa ?"


" Isshh, kepolosan mu itu yah !"


" Kenapa?"


" Kau gak kepikiran gitu. Kenapa adik adik kelas sekarang hebat hebat semua dalam hal per-cin-ta-an."


"Mungkin mereka kursus !"


"Aneh kau Vii, kau kira bahasa yang ada kursusnya ?"


"Iya kursus, mungkin mereka kursus di YouTube, Facebook, Instagram, Telegram, WhatsApp, Tiktok."


"Mereka melihat hal hal yang belum seharusnya mereka lihat dan itu berimbas pada kehidupan mereka."


"Fungsi pacaran apa sih ?"


"Alarm mungkin !" Tiva yang tadi diam akhirnya menyahut.


" Alarm ?"


"Iya alarm, alarm makan, alarm mandi, alarm tidur, alarm bangun, alarm jalan, alarm bernafas, alarm hidup, alarm mati."


"Wih, pacar itu alarm terbaik dah. Sampai ke hidup mati dia ingatkan ?" Jay-yum menggelengkan kepalanya.


"Pernah pacaran ?" Tanyaku pada Tiva.


" Wihh, seorang Ativa punya pacar ?" Tiva menatapku heran.


"Dunia akan hancur seketika." Ucap Tiva dengan nada dramatis.


" Kalau kau Vira ?" Ian yang gak tau kenapa tiba tiba bicara padahal gak diajak membuat kami kaget.


"Apa ?"


"Pernah pacaran?"


" Aku ? Pacaran? Kecuali kau mau ngebayangin aku memakai kain kafan. Boleh da tuh kau bayangin aku punya pacar."


"Bagus karena kau belum, dan Haru juga belum. Haruskah kalian mencobanya ?" Ucapnya enteng sekali.


"Kau sungguh ingin aku mati di gantung ayahku kalau tau aku nekat punya pacar ?"


" Kan kalian sama sama belum merasakan punya pacar ? Jadi sekalian aja kalian cobain bersama ?" Tanpa beban sama sekali Ian mengatakannya.


" Aku ? nekat nyobain rasanya pacaran sama aja nyobain rasanya di usir dari rumah." Ucapku kesal.


" emang kau sudah pernya nyobain ?" Jay-yum menatap Ian penasaran.


"Belum."


"Astaga ternyata dia juga belum. Sok mau rekomendasi." Ucapku sangat kesal.


" Aku malas aja gitu. Gak tau faedahnya apa. Kalau kau udah nyoba dan ternyata berfaedah baru dah ku coba."

__ADS_1


"Berfaedah sekali loh. Saking berfaedah nya aku harus siap mati muda."


" Nah kalau kau gak mau. Boleh dah kalau Tiva dan Aiden yang coba." Ucapnya menatap Tiva.


"Idih idih, aku di bawa bawa. Entah gimana caranya papaku dan ayah Vi kayaknya janjian deh mau ngadain pemakaman kalau kami ketahuan."


"Kalau papaku tau aku punya pacar dia akan bilang gini."


"Tinyo ! Apa kau benar benar tidak mau menghirup oksigen lagi ? Apa kau benar benar ingin merasakan gimana dimakamkan?"


" Ayahmu dan ayahnya janjian yah ?" Ian menunjuk Tiva dan aku bergantian.


"Mungkin !" Ucapku dan Tiva serentak.


"Atau sekalian aja deh kau dan Jay-yum yang coba. Kalian kek cocok aja gitu." Tiva menunjuk Ian dan Jay-yum.


"Bentar !" Aku menatap mereka bertiga.


"Kenapa kalian jadi ngejodoh jodohin orang ?"


" Cocok aja gitu !" Ian tersenyum kecil.


" Siapa yang cocok menurutmu ?"


"Kau dengan Haru. Dan Tiva dengan Aiden !"


"Cocok dari segi mananya kah ?" Aku menekan perkataanku.


" Yahhhhh, gimana ngomongnya yah ?"


" Omong kosong memang bermacam macam yah ?!"


"Humm, kenapa ?" Ian mengerutkan keningnya.


"Jika kau masih menjodohkan jodohkan aku ! Aku akan buat mulutmu itu tidak dapat bicara lagi !"


"Iya emang, kenapa ? Gak suka ?"


" Santai aja kali."


"Sorry yah, tidak ada kata santai dalam masalah beginian bagiku."


"Aku paling tidak suka di jodoh jodohkan."


" Sekali lagi kau mengatakan hal semacam ini tentangku, aku akan membuat bibirmu itu tidak dapat bergerak lagi."


" Iya iya, bercanda doang yaelah."


" Diam jika kau benar benar menyayangi mulutmu !"


"Haru lihat dia ini. Kau harus buat dia berhenti menggertak ku !" Ian menatap Haru yang baru masuk ke kelas.


" Siapa?"


" Dia." Ian menunjukku.


" Aku saja masih dia gertak. Bagaimana aku buat dia tidak menggertak mu ?"


"Terserah yang penting dia tidak mengganggu ku lagi."


" Heeee. Siapa yang lebih dulu mengganggu hah ?" Teriakku kesal yang membuatnya terhentak.


" Heh, cuman perasaan ku atau dia memang suka marah ?" Bisik Ian tapi masih bisa ku dengar.


" Aku tidak tau dan aku tidak mau tau." Haru duduk di bangkunya memeluk mukanya di meja.

__ADS_1


"Isshh, bisakah kau membantuku !" Rengek Ian.


Aku mengambil lakban hitam. Lalu aku menutup mulut Ian yang berisik itu.


"VIRA !" Teriaknya ketika melepas lakban hitam yang menutup mulutnya.


"Apa ?!"


" Apa yang kau lakukan ?"


"Membuat mulutmu tidak dapat bicara !"


"Ini sakit goblok !"


" Bukankah sudah ku katakan untuk diam jika kau masih menyayangi mulutmu ?"


" Apa kau tidak punya selera humor ?"


" Punya, tapi aku tidak suka mengulang ancamanku berkali kali !"


"Tap-"


" Sudahlah Ian. Vi memang suka bercanda tapi setiap perkataannya ketika marah jangan kau anggap enteng." Jay-yum menarik nafas panjang.


" Isshh aku tidak akan bicara padamu lagi Vira !"


" Aku tidak rugi jika kau tidak bicara lagi padaku Ian !"


" Bisakah kalian berhenti!" Tiva yang dari tadi nyimak akhirnya bicara.


" Ian ! Kau jangan keterlaluan jika bercanda. Vi paling tidak suka yang namanya di jodoh jodohkan. Dan kau Vi ! Jangan kau mudah baper karena dia suka bercanda."


"Kalian berdua diam karena aku pusing mendengar kalian yang selalu bertengkar !"


" Kalian mengerti!"


"Iya." Ucapku dan Ian berbarengan.


"Bertengkar dengan Vira membuatku lapar!" Ian memegang perutnya.


" Terima kasih atas rotinya Jay-yum !" Ian mengambil roti dalam laci Jay-yum.


" Ian !"


"Itu rotiku ! Aku akan memakannya!"


" Maaf Jay-yum aku sangat lapar." Ian memakan Roti Jay-yum.


" Aku tidak mau tau pokoknya ganti sekarang juga !"


" Sekarang? Nanti sajalah."


"Tidak, aku mau nya sekarang Ian !"


"Baiklah ! kau bahkan lebih berisik dari Vira."


" Ayo ke kantin dan aku akan mengganti rotimu!"


" Ayo ! Aku tidak mau tau pokoknya kau harus menggantinya sekarang !"


" Tau gitu aku beli sendiri tadi. Sama sama harus kantin juga pada akhirnya."


" Salah sendiri makan roti orang !"


"Diam Lah atau aku juga akan melakban mulutmu seperti Vira melakban mulutku !"

__ADS_1


Aku dan Tiva bertatapan. Entahlah tapi mereka berdua sama sama tidak mau yang namanya mengalah, dan begitulah jika mereka bertemu. Suasana tidak akan sunyi dan sepi.


__ADS_2