
"Vi !"
"Biasakan kau ikut denganku sebentar ?" Jay-yum menghampiriku.
"Kumohon ! Sebentar saja." ucap Jay-yum dengan nada memohon.
Aku menarik nafas panjang. Aku harus mengendalikan diriku.
"Kemana ?"
"Ikut saja !"
"Baiklah." Aku berdiri dengan muka masih tertunduk. Maklum. Mata dan hidungku masih memerah.
Sepanjang perjalanan aku hanya tertunduk dan melihat sepatu Jay-yum. Jay-yum membawaku ke taman sekolah. Dia duduk di bangku taman yang agak jauh dari anak anak lain. Aku duduk di dekatnya.
"Apa kau mendengar pembicaraanku dengan Ayan kemarin ?"
"Jadi nama racun itu Ayan ?!." Aku tersenyum kecut.
"Jadi benar kau mendengar kata kata dari si menyebalkan Ayan. Kau tau aku juga kesal dengannya."
"Huhumm, apa aku sebodoh itu di matanya ?" Aku tersenyum sinis. Untuk apa menangisi manusia sepertinya. Ahkk, air mataku jatuh untuk orang yang salah.
"Yah aku tidak tau ada apa dengan Ayan. Dia tiba tiba bicara seperti itu. Jangan di ambil hati yah. Dia memang begitu."
"Apa dia sesempurna itu sampai bicara seperti itu?"
"Ahh, bagaimana aku mengatakannya." Jay-yum terlihat berfikir.
"Entahlah, biasanya aku tidak begini tapi, aku ingin sekali mendengar aib."
"Aib ?" Jay-yum menatapku.
"Mau dengar sesuatu yang menyenangkan ?" Jay-yum menahan tawa.
"Apa ?"
"Ayan itu-"
" Bisa dibilang masa SD-nya itu kelam." Jay-yum tertawa kecil.
__ADS_1
"Dia takut dengan katak."
"Aib apaan tuh ? Orang takut katak itu wajar. Tiva juga takut liat katak."
"Bukan gitu ! Kau tau kenapa dia takut katak ?"
"Mana ku tau Markonah!"
"Dia hampir makan katak waktu kecil." Jay-yum terpingkal pingkal.
"Hah ? Kok bisa ?"
"Dia percaya aja gitu kalau katak itu enak."
" Diluar nalar tuh anak !"
"Ada lagi." Jay-yum menarik nafas.
"Dia juga pernah dirawat hampir tiga hari. Kau tau ke apa ?"
"Kenapa emang ?"
"Rumput ?" Aku membayangkan.
"Saking laparnya sampai makan rumput atau gimana tuh ?"
"Gak tau juga. Yang penting dia udah pernah makan rumput."
"Gila !" Aku tidak bisa percaya kalau dia benar benar maka. Rumput.
"Ada lagi." Jay-yum berusaha menahan tawa.
"Ya Allah. Aibnya keknya segudang ini."
"Emang iya."
" Orang nih nyukur botak rambutnya. Lah dia."
"Nyukur botak bulu mata ama alisnya."
"Lah ?"
__ADS_1
" Abis tuh gak pergi ke sekolah selama beberapa hari." Jay-yum menggelengkan kepalanya.
"Pernah juga nih. Dia gak mau pulang ke rumah. Karena takut dimarahin ibunya."
"Dia bolos sekolah. Dan gak mau pulang selama dua hari."
What ? Itu orang yang ngatain aku gak waras ? Kupikir dia sempurna sampai berani bicara buruk tentangku.
"Kalau mau ketawa ketawa aja kali." Jay-yum mendorong tubuhku pelan.
"Ishh, apaan sih ?" Ucapku kesal.
Sebenarnya aku juga ingin ngakak sih tapi.
"Tidak perlu jadi orang lain untuk di hargai. Jadilah dirimu sendiri. Sesempurna apapun kita. Pasti ada yang tidak suka. Jangan paksa dirimu hanya untuk di hargai orang lain. Karena saat kau jadi diri sendiri. Yang menyukaimu lebih banyak dari yang tidak menyukaimu."
"Kau itu seperti matematika." Jay-yum menatapku dalam dalam.
"Matematika?"
" Terlihat menyusahkan di mata orang yang tidak tau kegunaannya. Dan terlihat berharga bagi orang yang punya pikiran."
"Eaaaaa. Berharga gak tuh."
"Berharga gak ? berharga gak? Berharga Lah masa enggak." Jay-yum tertawa kecil.
" Terima kasih."
"Untuk ?"
"Untuk motivasi dan bocoran aibnya." Bisikku padanya.
"Tentu. Apapun untukmu."
" Tiba tiba aku ingin cokelat deh." Aku berdiri dan berjalan menuju kantin.
" Apapun masalahnya cokelat solusinya."
"huhumm, Cokelat solusi setiap masalah dalam hidup."
"Baiklah,A-yan. Aibmu sudah ada padaku. Tinggal menunggu bagaimana aku akan membalas mu nanti." Ucapku lirih.
__ADS_1