
Aku berjalan dengan riang gembira. Entahlah, sepertinya suasana hatiku sedang sangat baik. Aku memasuki sekolah yang aku tempati untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat selama tiga bulan terakhir.
"VIRA !" Suara nyaring menggelegar di telingaku.
" Ada apa Vivi ?" Aku menatap Vivi yang masih ngos-ngosan karena berlari.
" Gak ada, cuman kita barengan ke kelas yuk."
"Owh, baiklah ayo. Aku pikir ada apa tadi."
"Huhum, gak ada kok."
"Pagi." Tiva tersenyum.
"Pagi, akhir akhir ini datangnya cepat yah." Aku menghampiri Tiva. Yah akhir akhir ini Tiva selalu datang lebih awal dari biasanya.
"Hehe, papa ngantar kepagian soalnya."
" Sama dong, aku datang cepat atau enggak juga tergantung yang antar." Vivi pergi ke kursinya.
" Apa, aku ? aku itu datang di tentukan oleh supir bus." Aku menunjuk diriku ketika Tiva dan Vivi yang menatapku.
__ADS_1
" Kalo supirnya ngebut gitu ?" Vivi bertanya dengan kepolosan yang terukir diwajahnya.
" Enggak, kalo sopirnya tidak ramah dan budek gak dengar aku teriak sambil ngejar bus. Wah aku nunggu bus berikutnya jadinya lama deh. Tapi kalo sopirnya ramah,baik, bertelinga kelelawar dan dengar aku teriak teriak gak jelas ngejar bus dia bakal berhenti, aku naik jadi datangnya cepat."
"Loh ?" Riva dan Vivi saling pandang dan akhirnya tertawa.
"Astaga Na, kamu itu lucu juga yah kalau bercanda." Tiva tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
"Sebenarnya gak sepenuhnya bercanda, aku serius kadang kalo aku hampir ketinggalan bus. Aku lari ngejar busnya. Beruntung kalo busnya beneran berhenti. Cuman gak setiap hari. Sekali kali aja. Kadang busnya berhenti kadang juga tetap jalan."
" Itu juga kadang terjadi padaku. Aku sering ngejar motor kakakku saat papaku tidak kekantor. Kadang kakakku sedang berbaik hati untuk mengantarku. Kadang juga dia tiba tiba budek gak dengar aku. Dan berujung aku di antar oleh supir. Sebenarnya di rumah ada supir. Tapi aku lebih suka di antar oleh papa atau kakakku. Sementara supir kami biasanya mengantar mamaku bepergian."
"Aku biasanya diantar supir jika aku ingin pergi ke suatu tempat kecuali ke sekolah. Papaku yang mengantarku. Kebetulan jalan ke kantornya searah dengan sekolah."
" Kita sama Vivi, cuman kami hanya punya satu mobil. Mobil yang digunakan ayahku. Jadinya aku ke sekolah naik bus." Aku menambahkan.
" Suatu hari nanti aku akan punya mobil sehingga aku tidak perlu mengejar bus."
" Aku akan akan belajar mengendarai mobil sehingga tidak perlu supir untuk ke sekolah." Tiva terlihat antusias.
" Sama, aku akan belajar agar tidak merepotkan ketika ingin bepergian." Vivi menambahkan.
__ADS_1
" Hahaha, kita semua punya mimpi tentang mobil." Tiva tertawa.
" Mimpi hari ini akan jadi nyata esok hari." Aku mengedipkan sebelah mataku.
" Tentu, wujudkan lah." Vivi terlihat bersemangat.
" Ah sudahlah, bagaimana tentang kerja kelompok kita?" Vivi menatap ku dan Tiva bergantian.
" Jadi di rumahku gak ?" Tiva malah balik bertanya.
" Kalo gak di rumah mu kita dimana dong ? Kan kita janjian di rumahmu." Vivi menanggapi Tiva.
" Yaudah, aku udah izin ke papa mamaku. Jadinya jam berapa entar sore ?" Tiva menatapku.
" Aku mah ngikut. "
"Sama aku juga terserah kalian." Vivi menatap Tiva.
" Yaudah gimana kalo jam tiga sore ?" Tiva menyarankan.
" Boleh." Aku mengangguk. Vivi juga mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
"Oke, kita sampaikan ke Fia dan." Tiva tiba tiba terdiam.
"Aku akan sampaikan." Aku mengerti apa yang Tiva maksud.