
"Satu di tambah satu dua, dua di tambah satu tiga, tiga di tambah satu empat, empat ditambah satu…." Jay-yum bersenandung sambil menatap deretan buku tulis di depannya.
"Banyakkkk, tugas kita banyak yah." Celotehnya sambil menunjuk buku buku tersebut.
"Gak jelas. Macam tak waras anak ini."
"Yah, Vi jangan bicara seperti itu yah padaku." Ucapnya manja sambil melipat tangan di depan dada.
" Amboiiii, merajuk yeh." Aku mencubit pipinya gemas.
" Korban upin Ipin nih pasti." Dia melepas tanganku dan menatapku kesal.
" Alah alah, kau pun korban pada zaman dahulu."
"Asyik." Ucapnya menirukan salah satu karakter dalam kartun Upin Ipin bernama Susanto. Eh susanti maksudnya.
" Saya suka saya suka." Ucapku menirukan salah satu karakter dalam kartun yang masih berjudul Upin Ipin bernama Mei-Mei. Yah begitulah nasib penonton setia kartun upin Ipin.
"Gak jelas awalannya apa !" Aiden melirikku dan Jay-yum sekilas.
" Gak waras kau Haru."
"Kok aku ?" Haru si mulut di lem akhirnya bicara.
" Kau gak waras sampai bisa su-" ucap Aiden yang terpotong karena Haru yang secepat kilat menutup mulutnya dengan tangannya.
"Ember !"
" Upss. Hampir keceplosan. Maaf !" Aiden menutup mulutnya.
"Vi, ke perpustakaan aja lah. Mereka jarang bicara tapi sekalinya saling bicara. Kita gak bakalan ngerti." Bisik Jay-yum.
" Tepat sekali, mereka kek ngomong pake pikiran. Satu kata aja mereka udah saling ngerti. Pantes aja jarang ngobrol." Bisikku pada Jay-yum.
"Telepati itu mah."
"Yuk pergi !" Aku berdiri dan menarik lengan Jay-yum.
...•┈┈┈••✵🏫✨🏫✵••┈┈┈•...
"Vi !"
__ADS_1
"Apa ?"
"Cita citamu apa ?"
"Kepo."
"Ayolah beritahu aku!"
"Kalau kau ?"
"Manusia yang berguna."
"Sama."
"Lebih spesifik dong !"
"Kau sendiri ? Jawabanmu sangat tidak spesifik."
" Hahaha, baiklah. Aku ingin menjadi seseorang yang dapat hidup seperti keinginanku. Aku belum tau apa tepatnya yang aku inginkan. Tapi, aku ingin menentukannya sendiri. Bukan orang tuaku yang menentukannya."
"Aku ingin menjadi seseorang penulis. Puas !"
"Ishh kenapa sih, mens ?"
"Trus kenapa ? Kau kek malas ngobrol gitu deh."
"Lagi badmood soalnya. Jangan ajak bicara dulu deh." Ucapku sambil menutup buku yang aku baca.
"Loh ?"
"Mau kemana ?"
"Kantin ! Lapar." Ucapku sambil keluar dari perpustakaan. Entah kenapa juga suasana hatiku tiba tiba buruk. Perasaan tadi enggak deh. Kenapa yah ?
Aku berjalan menuju kantin sekolah. Dengan Jay-yum menatap heran diriku.
"Pantesan badmood setelah di ingat ingat aku belum makan cokelat hari ini." Ucapku setelah aku sampai di kantin.
"Serius ?" Jay-yum mangap.
" Iya, tiada hari tanpa cokelat. Cokelat aku datang." Ucapku segera berlari kecil.
__ADS_1
" Iya sih, setelah di ingat ingat tiap hari itu kau pasti makan cokelat." Jay-yum terlihat berfikir.
"Emang. Hari hariku terasa kurang lengkap tanpa cokelat."
"Kirain kau marah tadi. Kesal atau apa gitu."
"Ternyata karena cokelat?"
"Gila sih. Aku tadi merasa bersalah. Kirain kau kenapa napa. Ternyata kau gitu karena cokelat." Jay-yum menepuk jidatnya.
"Vi ?" Aku berbalik setelah ada yang memanggilku.
"Tinyo ?" Ucapku senang.
"Sumpah, aku kangen tau." Tiva terlihat antusias.
" Hahahaha, lebay."
" Iya meski satu sekolah sulit menemukanmu jika tidak ke kelasmu. Kadang aku datang di perpustakaan kau gak ada. Aku ke kantin kau gak ada. Masa iya aku ke kelasmu." Ucapnya kesal.
"Tiva yah ?" Jay-yum tersenyum.
"Iya. Kamu ?" Tiva menunjuk Jay-yum sambil tersenyum.
" Kenalin Jay-yum Mida Khumaira. Panggil aja Jay-yum."
" Kek nya kau udah dekat dengan manusia aneh ini." Tiva menunjukku.
"Sembarang kalo ngomong." Ucapku kesal.
"Begitulah,aku heran kenapa dia tiba tiba Badmood ternyata biang keroknya Cokelat." Jay-yum menggelengkan kepalanya.
" Maklum dia tidak bisa hidup tanpa cokelat." Tiva menatapku.
" Ngomongin aku aja terus sampai puas." Aku tersenyum kecut.
" Satu satu aku cinta cokelat. Dua dua masih cinta cokelat. Tiga tiga setia dengan cokelat. Satu dua tiga gak hidup tanpa cokelat." Senandungku setelah membeli sebatang cokelat lalu berjalan kembali ke kelas.
" Woi Vi tunggu napa !" Jay-yum berjalan menyusul ku.
" Dah Inyo. Aku ke kelas menikmati manisnya hidup ini." Ucapku sambil melambaikan cokelat yang aku beli.
__ADS_1
" Nikmati selagi ada."
" Easy itu mah."