
Sudah sebulan berlalu. Yah waktu terus berlalu. Tidak terasa. Tapi masih sama seperti sebelumnya. Kami belum mendapat informasi apapun tentang anak si Ridwan Arum.
Sudah sebulan berlalu sejak informasi terakhir yang di berikan oleh Aiden. Artinya sudah tiga bulan sejak pencarian kami. Tapi informasi baru sebatas nama Ridwan Arum.
Tiga bulan tersisa. Tiga bulan lagi pembagian raport. Menurut Aiden, jika kami belum membuktikan apapun tentang nilai yang di manipulasi. Maka, Semester ini aku harus bersiap melihat nilai yang tidak sesuai lagi.
Sebenarnya aku tidak sepintar itu. Tapi sudah jelas sekali bahwa nilai dan usahaku tidak sebanding.
"Vira apakah kau sadar kalau Jay-yum sangat menonjol?" Aiden menghampiriku saat Tiva dan Jay-yum pergi ke kantin.
" Aku juga agak terganggu, aku sudah merasakan hal ini sejak kelas 8 dulu. Tapi aku berfikir itu hanya perasaanku. Setelah kau mengatakan hal ini aku menjadi semakin memperhatikan hal ini."
"Kau lihat dia dan Lidya sangat menonjol bukan ?"
" Aku tidak tau Aiden. Bukannya aku meremehkan Jay-yum tapi menurutku. Dia menonjol terlalu berlebihan."
"Menurutku Lidya menonjol sesuai dengan dirinya. Tidak berlebihan menurutku. Tapi Jay-yum-"
" Aku mengerti maksudmu. Hanya satu fakta yang tidak bisa kita abaikan darinya. Dia bukan dari keluarga kaya."
" Bagaimana jika kau minta pada ayahmu untuk mencari informasi tentang Ridwan arum ini."
" Kau taulah. Sesama pengusaha, apalagi si Ridwan Arum ini pasti akan pencitraan kepada pengusaha lain."
"Aku tidak terlalu mengerti tentang dunia bisnis. Tapi dikit dikit aku taulah kalau sering terjadi persaingan. Dan terkadang persaingan itu berusaha di menangkan dengan pencitraan."
__ADS_1
" Aku mengerti maksudmu Vira. Aku akan mencoba meminta kepada ayahku. Seperti Ridwan arum ini sangat mengharapkan anaknya."
" Kita hanya punya waktu tiga bulan lagi."
" Aku mengerti. Aku akan berusaha membantumu sampai titik terakhir."
" Aku sangat berharap padamu Aiden."
" Percayalah padaku."
" Baiklah."
" Aku akan pergi mencari Tiva dan Jay-yum."
" Mereka pasti akan bertanya tanya kenapa kita selalu bersama. Sebaiknya kita cari tempat yang mungkin tidak akan terlalu menarik perhatian orang."
" Aku menantinya."
"Humm."
Aku keluar mencari Tiva dan Jay-yum. Dan kebetulan sekali dua anak itu sedang berjalan kembali dari kantin.
" Tinyooooo!"
"Jay-yummm !"
__ADS_1
" Kau tidak ke kantin ? Kami menunggu di sana tadi. Tapi karena kau tidak kunjung tiba. Kami putuskan untuk kembali ke kelas." Jay-yum menatap heran diriku.
"Hehehe, tiba tiba aku jadi malas."
" Akhir akhir ini kau jadi mager yah ?" Tiva menatapku heran.
" Dikit dikit malas. Dikit dikit malas. Kau lebih sering berada di kelas sekarang. Iya sih selama ini kau lebih suka di kelas. Tapi akhir-akhir ini kau jarang sekali keluar dari kelas."
"Iya, berbanding terbalik dengan Haru. Akhir akhir ini dia sepertinya sangat sibuk di luar. Dia hanya masuk ke dalam kelas saat waktunya masuk." Jay-yum menanggapi.
" Begitu juga dengan Ian dan Aiden. Ian biasanya selalu bersama dengan Aiden. Tapi akhir-akhir ini aku sering melihatnya di lapangan basket." Tiva terlihat mengingat ingat.
" Tapi yang aku heran kenapa Aiden sering ada dikelas akhir akhir ini ?" Jay-yum menatap heran diriku.
" Aku juga tidak tau. Meskipun kami ada di kelas. Tapi kau taulah dia itu pendiam."
" Sungguh?" Tiva mengerutkan keningnya.
" Iya. Begitulah." Aku berusaha menyembunyikan pandangan mata dari Tiva. Tentu saja karena sulit menyembunyikan sesuatu dari Tiva.
" Baiklah kalau begitu bagaimana jika kita habiskan jam istirahat ini di perpustakaan?" Jay-yum menyarankan.
" Ide bagus. Bagaimana denganmu Tinyo ?" Ucapku menatap Tiva yang sepertinya sedang tidak baik baik saja.
" Aku ngikut aja." Ungkap Tiva.
__ADS_1
Aku tau Tiva. Aku tau kau sedang mencurigai diriku sekarang. Ini sifatmu, kekesalan dan kemarahan kau sembunyikan dengan sangat baik. Seolah tidak terjadi apa apa. Itu sebabnya kau sering berfikir aku tidak peka dan rada rada lemot. Tapi itu bukan salahmu berfikiran seperti itu karena aku juga sering sekali berpura pura tidak tau jika kau marah, jika kau kesal, aku berpura pura percaya. Berpura pura tidak mengerti.
Andai Aiden tidak melarang ku memberi tahu kepada kalian berdua. Aku pasti sudah mengatakannya dari dulu.