Perjalanan Para Pemimpi

Perjalanan Para Pemimpi
Mimpi Kami


__ADS_3

" Kalian dari mana ?" Tiva menatapku heran.


"Menikmati indahnya ciptaan Tuhan."


"Huhum, sepertinya ada yang sudah baik moodnya."


" Begitulah."


"Makan cokelat berapa kau ? Seminggu makan satu cokelat masih gak ngaruh. Sekarang setengah jam tiba tiba membaik. Makan berapa bungkus ?"


" Kenapa harus cokelat jika ada-" Haru menatapku.


" Diam kau !" Aku tau yang hendak dia katakan. Kenapa harus cokelat jika ada aku bukan ? Itu yang hendak dia katakan. Hanya karena aku membaik karenanya sepertinya dia mau mengambil keuntungan.


" Kenapa ?"


" Diam atau aku akan membuatmu tidak bisa bicara lagi !"


" Baiklah, serah kau aja deh."


Semuanya terlihat heran.


" Bentar, kau tadi pergi sama dia ?" Tiva menunjuk Haru.


" Dia ?"


"Malas aku bicara dengannya." Ucapku berbohong.


" Lalu apa itu tadi ?"


" Dia sepertinya ingin bicara omong kosong. Dan aku tidak ingin mendengar suara menyebalkannya itu."


"Sepertinya kau sudah sangat di benci yah." Aiden menepuk pundak Haru keras. Sepertinya mengejek Haru atau bagaimana gitu.


" Gak usah main tangan juga kali." Haru menatap Aiden tajam.


" Owh, maaf. Aku tidak sengaja."


" Kalian marahan ?" Ian menatapku dan Haru bergantian.


"Antara gak peka dan otak lemot." Aiden menggelengkan kepalanya.


" Sudah dua minggu Ian."


" Masa ! Aku kan gak tau."


" Berpura pura memang bermacam macam." Haru mendorong Ian pelan.


" Hehehehe, kok tau ?"


"Kau mencoba mempermainkan pemain."

__ADS_1


" Kau bukan pemain lagi, kau itu pelatih." Ian membisik. Tapi tetap kedengaran.


"Itu ngerti." Aiden menarik nafas panjang.


"Cuman perasaan ku atau mereka lebih banyak bicara selama seminggu ini ?" Jay-yum menatapku.


" Mungkin karena bertemu dengan sahabatnya." Aku menanggapi.


" Sejak bertemu dengan Ian mereka lebih ceria yah." Jay-yum tersenyum kecil.


" Emang sebelumnya gimana ?" Tiva terlihat bingung.


" Sebelumnya kau akan sangat beruntung jika dapat mendengar suara Haru dan Aiden dalam sehari." Jay-yum mengingat ingat.


"Sungguh?"


"Iya, tapi sekarang aku sudah bosan mendengar mereka !"


"Huhum, bosan gak tuh ?" Tiva tertawa kecil.


" Begitulah."


"Eh nanti kita ketaman yuk !" Ungkap Tiva antusias.


" Seperti biasa. Jika kau di izinkan pemilik surga."


"Pemilik surga ?" Jay-yum berfikir.


"Surga ada di telapak kaki ?"


"Tepat sekali."


"Aku juga sama. Kalau aku di izinkan aku akan pergi." Jay-yum tersenyum sambil…


Ngemil,yah ngemil. Bukan Jay-yum kalau tidak ngemil.


"Baiklah, nanti chat aku saja oke !" Tiva menunjuk aku dan Jay-yum.


"Tentu." Ucapku dan Jay-yum bergantian.


...○•┈┈┈┈••❁ 🌳🌷🌳 ❁••┈┈┈┈•○...


" Maaf aku telat." Jay-yum terlihat ngos-ngosan.


" Telat dikit doang yaelah." Tiva menggelengkan kepalanya.


" Santai aja kali."


"Sekarang kita mau ngapain ?" Tanyaku pada mereka berdua.


" Makan ice cream mau ?" Tanya Tiva.

__ADS_1


" Terserah kalian aja." Ucapku.


" Terserah? Keknya menular dari seseorang deh." Jay-yum tertawa kecil.


"Diam ! Jangan katakan apapun jika kau masih sayang mulutmu !" Ucapku kesal karena aku tau dia sedang mengejek ku sekarang.


" Dihhhhhhhh galak amat dah !"


" Bagaimana denganmu Jay-yum ? Apa kau mau ice cream?"


"Sebenarnya aku tidak sedang ingin ice cream. Aku mau kripik keju saja deh."


" Baiklah dua ice cream dan satu kripik keju akan segera datang." Tiva berjalan menuju warung. Aku dan Jay-yum berjalan di belakangnya.


" Ice cream cokelat ?" Tiva menyodorkan ice cream cokelat.


"Terima kasih."


"Keripik keju ?" Tiva menyodorkan kripik keju ke arah Jay-yum.


" Terima kasih." Jay-yum mengambil kripik tersebut.


"Tidak usah, hari ini aku traktir." Ucap Tiva ketika Jay-yum mengeluarkan uangnya.


"Tapi,"


"Tidak ada tapi tapian !"


"Aku mau mengganti uangmu Tiva !"


" Kubilang tidak !"


"Sudahlah Yum, ketika Tinyo sudah bilang"


"Aku yang bayar, aku yang traktir."


"Dia tidak akan berhenti sebelum kau mau."


"Membujuknya adalah pekerjaan yang sia sia."


" Baiklah, lain kali aku yang traktir." Jay-yum akhirnya mengalah.


" Humm, terserah yang penting hari ini aku yang traktir."


"Sekarang kita mau kemana ?" Tanya Tiva.


"Tepi danau ?" Usulku.


" Boleh." Tiva dan Jay-yum mengangguk-anggukkan kepalanya.


Aku, Tiva dan Jay-yum berjalan menuju tepi danau. Kami menikmati indahnya suasana sore hari di taman.

__ADS_1


"Apa yang kalian impikan?" Jay-yum menatap aku dan Tiva bergantian.


"Kami ?" Ucapku dan Tiva bersamaan.


__ADS_2