Perjalanan Seorang Pemuda Miskin Menuju Kesuksesan

Perjalanan Seorang Pemuda Miskin Menuju Kesuksesan
Bab 92


__ADS_3

Burhan sangat berharap besar Eric melakukan sesuatu kepada Elena agar tidak ada alasan untuk Eric menjadi menantunya nanti.


Burhan sangat berharap Eric menikah dengan Elena, bagaimanapun burhan tidak ingin melihat Eric pergi meninggalkan wuhan sama seperti kemauan Elena. Dia ingin Eric menikahkan putrinya karena burhan menganggap Eric adalah kandidat terbaik untuk putrinya Elena.


Saat ini Eric baru saja memasuki kamar Elena, Eric melihat Elena duduk dikasur dan sedang menangis, Eric lalu datang menghampiri Elena untuk menghiburnya," Hei.. Hei... Kok putri tercantik dari wuhan menangis? Bagaimana bisa nanti jadi bidadari kalo terus-terusan menangis?"


Elena mendengar suara Eric menggodanya dia kemudian berbalik dan melihat sesosok Eric sudah duduk di samping nya.


Elena buru-buru menjawab pertanyaan Eric," Aku tidak mau jadi bidadari. Aku mau jadi iblis biar bisa bersamamu." Ucap Elena dengan cemberut.


Eric merasa tertekan ketika Elena mengatakan ini, ' sepertinya wanita ini benar-benar susah diprediksi," ucap Eric dalam hati.


Eric buru-buru berkata sambil menghibur, "Oh nona Elena yang cantik. Bagaimana bisa seorang bidadari yang cantik seperti nona Elena bisa transmigrasi menjadi iblis. Bukankah itu melanggar hukum alam?"


Elena berkata dengan dingin," Aku tidak peduli walaupun aku melanggar hukum alam. Aku harus transmigrasi menjadi iblis juga supaya bisa bersamamu."


Eric kebingungan untuk menjawab, " Tidak bisa begitu dong nona Elena yang cantik!, jika kamu transmigrasi menjadi iblis, lalu siapa yang akan menjadi bidadari nya?"


Elena menatap Eric dengan tatapan tajam dengan muka marah lalu berkata, "Eric! "


"Iya?" Jawab Eric.


Elena bertanya dengan dingin," Mengapa kamu sepertinya menghindar dariku? Apakah aku terlalu jelek di matamu?"


Eric menggaruk kepala dan berkata, " Bukan seperti itu nona Elena, aku tidak pernah menghindar dari nona Elena yang cantik ini. "


"Bohong, " Elena menghela nafas lalu berkata, " Kamu menolak lamaran ku. Sebelumnya kamu bertindak seolah-olah ingin menjadi tunangan ku, lalu sekarang kamu bukan hanya tidak mau tetapi kamu menolak lamaran yang ayahku tawarkan. Apakah kamu sengaja seperti itu memberikan harapan palsu kepadaku?" Elena berkata sambil terisak nangis.


Eric terdiam mendengar kata-kata Elena, Nona Elena, bukankah aku dan kamu sebelumnya hanya berakting untuk menjadi tunangan? Lalu kenapa kamu mengatakan aku memberi mu harapan palsu? Jelas-jelas nona Elena yang duluan membuat ide itu."


Elena terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi untuk membalas Eric, dia menatap kosong kearah Eric.

__ADS_1


Tiba-tiba Elena menangis dan langsung memeluk erat tubuh Eric. Dia menangis seperti anak kecil ketika memeluk Eric.


Elena adalah seorang wanita tegas ceria dan profesional, tetapi ketika wanita profesional dan tegas seperti Elena berhadapan dengan orang yang disayang atau pawangnya, maka sikap tegas dan profesional itu akan menghilang. Dia akan seperti anak kecil didepan ibunya.


Begitu juga dengan Elena, sikap tegas dan profesional Elena hilang ketika berhadapan dengan Eric, Elena memeluk Eric sambil menangis.


Eric merasa tegang ketika dipeluk, dia ingin melepaskan pelukan Elena, tetapi dia berfikir jika dia sekarang melepaskan pelukan Elena secara paksa maka Elena pasti akan semakin tersakiti olehnya. Jadi Eric hanya menunggu Elena tenang, baru dia akan melepaskan pelukan Elena dengan perlahan.


Beberapa saat kemudian, Eric perlahan melepaskan pelukan Elena dan bertanya, " Nona Elena, apa yang membuat mu seperti ini?" Tanya Eric dengan serius.


Elena memandang Eric dan berkata, "Aku ingin minum, tolong ambilkan aku air!"


Eric bingung dengan pertanyaan Elena yang jauh dari pembahasan, tetapi dia tidak terlalu memikirkan nya, "oke! Tunggu sebentar disini, aku akan meminta seseorang mengantarnya kesini."


Setelah mengatakan itu, Eric bangun dan berjalan kearah pintu. Eric meraih pintu dan berusaha membukanya, tetapi Eric menyadari kalo pintu itu dikunci dari luar.


Melihat Eric kesusahan membuka pintu, Elena menghampiri Eric dan bertanya, " Ada apa Eric?"


Elena merasa tertawa dalam hatinya melihat rencana akan berhasil. Tetapi dia juga merasa sedikit bersalah dalam hatinya melakukan cara ini.


Elena menunduk malu ke Eric seolah olah dia melakukan kesalahan kepada Eric.


Melihat raut wajah Elena kebingungan, Eric bertanya, " Ada apa nona Elena? Apakah ada sesuatu yang salah?


Elena menatap Eric dengan wajah memerah karena malu," Eric! Kita sekarang berdua didalam kamar dan tidak ada orang lain."


Eric bingung dan bertanya, "Iya kita hanya berdua, tapi ada hal apa nona Elena mengatakan itu ?"


Elena menggigit bibir bawahnya dan ingin mengatakan sesuatu tetapi dia tidak bisa mengatakan itu.


Elena tiba-tiba berlari kembali duduk di kasur dan menangis. Eric sangat bingung dengan sikap perempuan seperti Elena ini, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba menangis.

__ADS_1


Eric buru-buru mengikuti Elena dan menghiburnya," Apa yang terjadi denganmu nona Elena?"


"Maafkan aku Eric," Ucap Elena sambil menangis.


"Maafkan?" Eric bertanya dengan rasa ingin tahu, "Kenapa tiba-tiba meminta maaf?"


Elena berkata sambil terisak sedih, "Maafkan aku, ayahku lah yang mengunci pintu itu. " Ucap Elena.


Eric terkejut laku bertanya, "paman Burhan mengunci pintu itu? Untuk apa paman melakukan itu?"


Elena berkata dengan malu-malu, "Ayahku sengaja mengunci pintu dari luar supaya kita berdua didalam kamar semalaman dan melakukan sesuatu, "Elena menghela nafas lalu berkata, " Dia ingin melihat kita melakukan sesuatu supaya tidak ada alasan untuk kamu tidak menikah denganku... Tapi maafkan aku Eric, aku sama sekali tidak berniat melakukan ini, tapi ayahku lah yang merencanakannya."


Mendengar ini Eric sekarang tau motif dibalik rencana Burhan, Eric tidak habis pikir Burhan tidak akan mudah menyerah begitu saja untuk mencapai kemauannya. Dia akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya.


Eric buru-buru berkata kepada Elena, benarkah apa yang nona Elena katakan?"


Elena mengangguk ringan dan berkata, " Maafkan aku Eric, aku sama sekali tidak habis pikir dengan diriku. Kenapa aku bertindak begitu bodoh ketika aku bertemu denganmu!" Elena menghela nafas lalu berkata, "Maafkan aku Eric, aku benar-benar salah, aku juga tidak tau mengapa aku begitu mau melakukan hal bodoh ini!"


"Semua jendela kamar ini dipasang jeruji besi, jadi tidak ada cara lain untuk keluar selain dari pintu masuk! Maaf aku Eric, tetapi kamu dapat yakin aku tidak akan berani melakukan hal itu," Ucap Elena sambil merasa bersalah.


Eric tak bisa berkata-kata lagi, "Tidak apa-apa. Aku juga tidak akan berani melakukan apapun terhadap nona Elena, nona percaya itu."


Elena menganggu dan bertanya, " Apakah kamu akan tidur satu ranjang denganku?"


Eric Buru-buru melambaikan tangannya, " Tidak... Tidak... Aku akan tidur di lantai saja, aku sudah terbiasa tidur dilantai."


Elena juga malu untuk memaksa Eric tidur satu ranjang bersamanya walaupun meraka berdua tidak melakukan apa-apa.


Elena lalu memberikan Eric satu bantal dan Eric tidur dilantai.


Berhubung sudah tengah malam, Eric tak bisa menahan rasa kantuknya karena kecapean dengan kejadian tadi siang. Jadi Eric ketika menaruh bantal di kepala nya dia langsung tertidur pulas walaupun dilantai.

__ADS_1


__ADS_2