
Pernikahan akan menghitung hari lagi Ibu Aminah dan Gibran membawa Nadia untuk mencoba gaun yang akan mereka gunakan waktu pernikahannya nanti . Sekaligus sang acara pesta pernikahannya nanti .
Gibran menjemput Nadia dari rumahnya, sang mama telah dahulu ke toko butik milik Tante Dian yang ternama . Nadia duduk disebelah Gibran yang sedang menyetir mobil Nadia hanya diam tidak bersuara . Lain dengan Gibran memilih untuk membuka pembicaraan
" Nadia ingat ketika kamu sudah sah menjadi istri saya kamu harus menurut dengan perintah saya, dan kita saling belajar untuk menerima jika kita tidak saling cocok maka kita akan bercerai ".
" Baik pak jika selagi perintah itu baik maka akan saya lakukan, saya akan menerima pernikahan ini dengan ikhlas pak . Karna aku ingin menikah hanya 1 kali dalam hidup saya".
Gibran terdiam dengan apa yang ia dengar dari mulut Nadia. Dan tak berapa lama pun mereka tiba di toko butik milik Tante Dian adik dari papanya.
Ayo turun, dan kamu ingat jangan malu-maluin aku dan mama gue. jangan jadi orang ceroboh serta jangan buat orang kesal oleh tingkah mu, mengerti !
" Iya pak saya mengerti ". Nadia ikut menyusul Gibran turun mobil dan mengikuti langkah Gibran menuju pintu masuk toko butik . .
"Assalamualaikum " Gibran membuka pintu mempersilahkan Nadia masuk terdahulu .
"waalaikumsalam, Eh yang ditunggu udah datang" sambut mamanya Gibran .
Nadia dan Gibran mencium punggung tangan kedua wanita dihadapan merka .
" Eh ini calon penggantinya cantik baget, pintar Gibran pilih "
" Buka Gibran yang pilih tapi mama dan papa"
Tante Dian pun binggung dengan jawaban sang ponakan. Tapi ia hanya menghiraukan dan melanjutkan kegiatannya, "ya udah yuk kita liat-liat bajunya ".
Pada saatnya Nadia mencoba gaun pengantin yang berwana putih bersih serta hiasan pernak pernik yang ada di gaun membuat gaun tersebut terlihat elegan dan sang cocok untuk poster badan Nadia .
Mamanya Gibran dan Tante Dian sangat menyukai gaun tersebut, Meraka pun memberikan gaun kepada Nadia agar Nadia bisa langsung mencobanya. Setelah Nadia keluar mencoba gaun yang ia pakai di ruang ganti , Nadia keluar untuk mendapat komentar dari Mama Gibran dan Tante Dian .
" MasyaAllah cantik baget calon menantu Tante . Dengan meraih tangan Nadia agar Nadia mendekat kepada ibu Aminah .
Nadia tersenyum dan mengucapkan " terimakasih Tante "
Gibran yang sibuk memakai jas yang Tante Dian berikan kepadanya, karna jas tersebut 1 pasang dengan gaun Nadia gunakan .
Gibran pun melihat Nadia tanpa berkedip
__ADS_1
" Sangat anggun "
"Hey biasa aja kali liatnya belum halal tu, tunggu udah ijab kabul baru liatin Nadia sepuasnya" tegur sang Tante Dian membuat Gibran tersadar dari pandangannya kepada Nadia .
Melihat Nadia dan Gibran telah menggunakan pakaian pengantin yang mereka coba, Tante dan ibu Aminah pun sangat menyukai pasangan tersebut. " sangat cocok " ucap Tante Dian dan ibu Aminah .
Gibran dan Nadia hanya diam , dan sedikit memberikan senyum kepada keduanya.
Setelah menyelesaikan pakaian pengantin Gibran memutuskan mengantar pulang Nadia untuk pulang kerumahnya tapi sebelum pulang mama Gibran berpesan kepada Gibran untuk mengajak Nadia makan terlebih dahulu bersama Gibran atau membawa Nadia untuk jalan-jalan ataupun berbelanja di mall, agar keduanya saling mengenal satu sama lain, itulah tujuan sang mama.
Didalam mobil Nadia bicara dengan Gibran
" kita langsung pulang ya pak " ucap Nadia sambil melirik Gibran .
" Kita tidak langsung pulang , kita makan siang dulu "
" Kok gitu pak? , bukanya tadi bapak kasih tau saya bahwa bapak akan antar saya pulang setelah selesai dari butik"
"Iya pas aku pamitan sama mama kamu udah duluan ke mobil, mama bilang untuk Bawak kamu makan siang atau jalan sebelum pulang kerumah".
" Ngak usah pak mending bapak antar saya pulang kita makan dirumah Nadia aja" .
"Bukan bantah pak tapi Nadia ngak Bawak uang untuk makan diluar karna uang nadia ketinggalan karna dompet Nadia ngak termasuk dalam tas Nadia. Jika bapak berkenan kita makan dirumah aja, kebetulan Nadia tadi pagi udah masak, tinggal dipanasi aja lauknya".
" Pokoknya kamu harus ikut aku, urusan uang aku bisa bayarin semua makanan yang kamu pesan nanti, tapi itu semua tidak gratis kamu harus bayar. Karna semua di dunia ini tidak ada yang gratis . " rasain Lo gue kerjain " batin Gibran , sebarnya Gibran tidak pernah keberatan untuk mengeluarkan uang, karna baginya uang untuk dikeluarkan untuk membayar makanan itu tidak ada apa-apa baginya.
Namun Gibran hanya ingin membuat kesal kepadanya .
" Ya pak kalau gitu bapak potong aja gajih saya, kan saya juga kerja disekolah bapak"
Dengan sedikit geram oleh tingkah Nadia yang terus menjawab Gibran kemudian terus melakukan mobil dengan kecepatan tinggi membuat Nadia berteriak ketakutan
" Pak Gibran kamu gila ya ? , Nadia ngak mau mati oleh tingkah bapak kayak gini " .
"Kamu bisa diam ngak, jika ngak diam gue tambah kecepatannya".
Nadia pun diam, tak bersuara hingga mereka sampai di Restoran yang mahal . Nadia masih diam tak membuka suara , tanpa bergerak untuk turun untuk mengikuti Gibran . Gibran pun membuka sabuk pengan dan membuka pintu mobil , melihat Nadia masih diam akhirnya Gibran menegur Nadia .
__ADS_1
" Lo ngapain ngak turun ayo turun"
Nadia tetap diam tidak mau bergerak dari tempat ia duduk, ia masih mengatur detak jantungnya masih tidak beraturan karna ulah Gibran yang membuatnya takut mati .
"Hey Cewek Tuli ngak bisa dengar apa yang gue omongin barusan " Tegas Gibran membuat Nadia terkejut .
" Uy kamu bisu ngak bisa bicara ? "
" Iya , kata bapak tadi kan saya harus diam" jawab Nadia polos .
" Dasar cewek aneh ayo turun jika kamu ngak mau turun gue gendong ni" . Gibran menuju pintu Nadia , dengan sigap Nadia membuka pintu mobil dan keluar dan berjalan mendahului Gibran .
"Dasar cewek nyebelin "
Mereka pun duduk dan memesan makan
" Pak Gibran ....."
" em .. ? "
" Pak harganya mahal baget nadia ngak mau makan disini "
" Lo pesan aja , nanti gue yang bayar "
" Ya tetap ajakan pak, Nadia akan bayar sama bapak karna seperti bapak bilang dimobil ngak ada yang gratis jadi Nadia harus bayar hutang Nadia sama pak Gibran" . dengan polosnya Nadia menyatakan itu kepada Gibran .
" Mau makan ngak sih! pesan sekarang atau ngak gue tinggalin kamu sendiri disini"
" Iya ,iya iya" ucap Nadia .
Disela waktu makan , "selesai makan kita ke mall "
" Ngapain pak ? Nadia ngak mau ikut " .
"Ya udah kamu bayar sendiri makannya, aku ngak mau bayarin makanan kamu " Di ajak jalan ngak mau, bahkan makan kaya gini aja udah cukup mahal baginya, Aku kagum dengan kamu . Tapi kamu juga cewek yang buat saya emosi , Batin Gibran .
Setelah makan Gibran membawa Nadia berbelanja beberapa gamis untuk Nadia dan juga hijab untuk Nadia . Tapi Nadia tetap merasa tidak enak segala yang Gibran berikan padanya . Meski pun itu dianggap hutang untuk Nadia dan Nadia akan tetap membayar apa yang Gibran berikan kepadanya.
__ADS_1
Tapi berbeda dengan Gibran yang hanya tersenyum dengan kelakuannya yang sudah membuat Nadia kepikiran akan hutangnya , Tapi Gibran memberikan kepada Nadia dengan ikhlas tanpa harus Nadia bayar.