
Setelah sholat subuh berjamaah Nadia turun ke lantai bawah, ingin menyiapkan sarapan untuk semua orang dirumah.
Nadia menyiapkan semua sarapan di bantu mbok Marni, Setalah memasak Nadia menyusun semua sarapan di atas meja makan yang disusun dengan rapi.
Mama pun datang menghampiri Nadia yang sedang repot di dapur " Hey menantu mama sudah Bagun, wah MasyaAllah Nadia sudah bikin sarapan juga , mama pengen cepat makan deh karna mama udah lama ngak makan sarapan bikinan Nadia " sambil duduk di kursi makan
" Iya mama makanya mama sering main ke rumah mas Gibran donk " .
";Iya nanti mama dan papa main ke rumah kalian ya , oh ya suami mu mana kok belum turun ".
" emm mungkin masih tidur ma, biasa ma jika waktu libur mas Gibran sedikit siang bangunnya, karna dia capek ma "
" Emm iya , semoga capeknya cepat mendapatkan hasil ya, mama ngak sabar lagi pengen dapat cucu dari kalian " .
tiba-tiba Gibran menjawab "iya ma doain aja semoga saya dan Nadia cepat mendapatkan keturunan, kami akan terus berusaha kok ma iya kan sayang " ucap Gibran dengan Nadia .
" Eh mas Gibran udah Bagun, mas udah mandi ? "
" Udah sayang, mas mau nungguin kamu mandi bareng tapi kamu ngak lama baget bikin sarapannya "
pipi Nadia sudah merah seperti udang rebus " Iya mas maafin Nadia udah nunggu lama, mas mau Nadia bikini teh hangat atau coklat panas ?"
" Teh hangat sayang, tapi setelah bikin teh langsung duduk di samping mas ya, mas ngak mau jauh-jauh dari kamu ".
" Ini orang ke sambat apa ? " batin Nadia .
" Emmm ada mama ni disini, kok mama di cuekin "
" ha ha ha ha " keduanya menjawab malu dengan sang mama " maaf ma " ucap Gibran.
****************
setalah sarapan bersama Nadia duduk di taman dan ditemani dengan Rafa adiknya Gibran, Gibran bahagia jika ada kakak iparnya karna Rafa merasa ia telah memiliki kakak perempuan .
Nadia dan Rafa begitu dekat bahkan sering tertawa , Rafa Yanga selalu ngelawak membuat Nadia Ngan tidak ketawa.
__ADS_1
Gibran turun ingin menyusul Nadia dan Rafa tiba-tiba datang Talita anak dari teman papanya yaitu om Herman .
" Assalamualaikum, Gibran kamu dirumah, emmm aku kagen baget dengan kamu, meski 1 kantor kita jarang ketemu tapi ". sambil bergelayut manja di tangan Gibran .
Nadia masuk kerumah karna ia merasa sudah cukup menghirup udara pagi , namun apa yang ia lihat pemandangan yang sangat menyakitkan bagi seroang istri .
" Oh ada istri kamu juga dirumah ? , kirain ngak ikut sekali dengan kamu " tanya Talita dengan Gibran .
" em iya ya udah yuk duduk dulu " sambil mempersilahkan Talita duduk di ruang tamu. Gibran melihat Nadia sedikit kesal dengan ulah Gibran akhirnya Nadia meninggalkan Meraka . namun di cegah oleh Gibran .
" Nadia tolong buatin minum buat Talita ya, kasian dia haus, Ya kan Talita " ucap Gibran sedikit mendekat dengan Talita .
" Iya mas" ucap Nadia .
Gibran akan membuat Nadia sakit hati dengan cara mengunakan Talita . " Kamu mau ngapain kesini ?" tanya Gibran dengan Talita .
" Aku mau ketemu Tante Aminah karna aku udah kagen sama Tante udah lama ngak ketemu "
" Oh , kirain ada urusan apa ? "
Nadia datang membawa minuman untuk keduanya dan membawa beberapa makanan untuk keduanya " silahkan diminum mbak " ucap Nadia.
" Iya nanti kita makan siang bareng ya Ta karna aku pengen cerita banyak mengenai Saham yang papa kamu tanaman di perusahan kami " . Gibran ingin melihat ekspresi Nadia ketika Gibran mencoba bermesraan dengan wanita lain.
" Ya udah aku tinggal dulu " Nadia pun meninggalkan Meraka yang sedang asik mengobrol .
Didalam kamar Nadia sedih " Ya Allah di nyaman baget ketika ngobrol dengan wanita itu , apakah ia mencintai wanita itu ? " gumam Nadia .
" Wanita itu seksi dan juga pintar dalam bisnis sedang aku ? aku hanya seorang guru dan tubuh ku juga tak seindah wanita itu ".
Sedangkan di lantai bawah mama Gibran melihat Gibran sedang mengobrol dengan Talita berdua tanpa adanya Nadia membuat mamanya bertanya " dimana Nadia kok membiarkan suami berdua dengan wanita yang bukan mahramnya". akhirnya ia menghampiri " eh Talita udah lama datang ? "
"ngak ko Tante belum terlalu lama , Tante saya kagen baget dengan Tante " sambil mencium pipi kiri kanan.
" Tante juga kangen dengan kamu sayang , oh ya Gibran dimana istri mu ? "
__ADS_1
" Oh Nadia lagi di kamar ma, biarin aja mungkin dia mau istirahat " .
" Oh ya udah ngak apa-apa "
" Oh ya ma , nanti Gibran dan Talita mau keluar karna kami mau makan siang sambil ngobrolin Maslah bisnis kami "
"Turus gimana dengan istri mu ? , Kasihan dia ngak ada yang temani dia ! sanggah sang mama.
" Kan ada mama sama papa dan juga Rafa dirumah, Gibran setelah makan siang nanti Gibran jemput dia untuk pulang kerumah Gibran " jawab Gibran
" Iya udah terserah kamu " .
Gibran pun ingin bersiap- siap terlebih dahulu namun sang mama mengiringi dari belakang hingan di depan tangga , sang mama menasehati Gibran " Gibran ingat sekarang kamu sudah menikah jaga perasaan istri mu jangan buat dia menangis "
" Iya ma " kemudian Gibran meninggalkan sang mama dan bersiap untuk keluar.
di dalam kamar Nadia memainkan ponsel miliknya , Gibran pun bicara " nanti setelah aku makan siang dengan Talita , saya jemput kamu untuk pulang , sekarang tolong siapin baju saya karna saya mau keluar dengan Talita "
" Iya "
Gibran merasa kesal dengan Nadia karna , Nadia ngak ada marah sama sekali dan bahkan bersikap biasa saja dengan Gibran .
" Ini orang ngak cemburu apa ? dasar cewek aneh " batin Gibran .
Dirumah nanti di temani mama dan papa serta Rafa jadi kamu ngak kesepian ngerti .
" Ngerti Kok ya udah berangkat sana nanti Talita nungguin kamu lama" sambil merapikan pakaian Gibran dan mencium tangan Gibran.
" Iya " Gibran pergi meninggalkan Nadia , namun didalam hati ia mengharapkan untuk mencegahnya agar ia tidak keluar dengan Talita, namun apa yang ia harapkan tidak sesuai yang ia inginkan .
Talita melihat Gibran sudah rapi, ia pun senang apa yang ia tunggu akhirnya biasa ia lakukan. Sambil bergelayut manja dengan Gibran . Nadia memperhatikan di atas tangga semuanya ingin sekali menjambak rambutnya Karna sudah berani bermesraan di hadapannya. Namun ia tetap sabar karena ia tidak ingin memalukan dirinya dan keluarga Gibran .
Mama Gibran memperhatikan Nadia dan menghampirinya " sayang kamu tidak boleh membiarkan suami mu berdua dengan wanita lain selain dirimu "
" Ngak apa -apa ma , itukan teman mas Gibran juga , Nadia percaya dengan mas Gibran " sambil melempar senyum dengan sang mertua " ya udah ya ma Nadia masuk kamar dulu .
__ADS_1