Perjodohan Yang Tak Disangka

Perjodohan Yang Tak Disangka
Ijab kabul


__ADS_3

Satu hari sudah Gibran dan Nadia lewati dengan kesibukan masing-masing untuk mempersiapkan acara pernikahan keduanya .


Ini adalah malam terakhir untuk Nadia dan Gibran menikmati masa lajang untuk mereka.


Nadia yang hanya berdiam diri didalam kamar membuat sang adik Rati ingin melihat keadaan kakak perempuannya.


"Kak.. Rati masuk ya ? "


"Iya dek masuk aja pintu ngak dikunci "


Melihat kamar yang rapi serta banyak bunga- bunga yang menghiasi kamar seorang pengantin . Rati menghamburkan pelukannya kepada sang kakak .


"hiks.. hiks... hiks Rati menangis dalam pelukan Nadia . Kakak besok udah nikah, Rati kesepian dirumah jika ngak ada kakak, Kak Adi kerja, kakak Nadia tinggal sama suami kakak nanti terus Rati ngak ada teman cuma ada ayah sama Rati dirumah "


"Sayang adik kakak ngak boleh nangis gini kakak jadi sedih kalau Rati kaya gini . Kakak tetap akan sering main kesini terus kakak juga masih kerja di sekolah tempatnya Rati . Nanti kita bisa bertemu disekolah, Rati harus jagain ayah ya ". Nadia pun ikut menangis bersama sang adik .


"Kak adek doain semoga kakak bisa bahagia dengan pernikahan kakak dengan pak Gibran , semoga pak Gibran bisa jagain kakak sama seperti kakak Adi dan ayah yang selalu jagain kakak "


"Amin", Nadia melepaskan pelukan adiknya dan memegang kedua pipi adiknya .


"Dek doain kak ya semoga acara besok lancar dan kakak bisa menjadi istri yang baik buat pak Gibran "


Rati menganggukkan kepala tanda menyetujui perkataan sang kakak." Kak malam ini Rati mau tidur dengan kakak".


"Iya donk boleh baget "


Akhirnya merka tidur saling berpelukan untuk melepas rasa sedih yang merka rasakan.


Tak terasa waktu malam begitu cepat, sehingga waktu fajar telah tiba membuat mata Nadia serta Rati terbangun untuk melaksanakan sholat subuh . Merka sholat subuh berjamaah dengan ayah dan kakaknya .


Nadia telah kembali masuk ke dalam kamar, " ya Allah hari adalah hari paling bermakna dalam hidupku dimana aku akan melepas masa lajangnya dengan menikah dengan orang yang baru ku kenal apa ia mampu membimbing hamba mu ini dan bisa menerima segala kekurangan ku " batin Nadia .


Di kediaman Gibran setelah sholat subuh telah bersiap-siap untuk menyiapkan diri untuk pergi kerumah pengantin .


Tepat jam 9 pagi Nadia telah siap dengan gaun pengantin dan hiasan make up yang sangat cantik , membuat semua orang terpukau dengan kecantikan Nadia.


Tak berselang begitu lama keluarga Gibran telah tiba di rumah Nadia , semua tamu sudah banyak yang datang . Ayah Nadia dan keluarga Nadia menyambut keluarga Gibran.


Banyak mata para gadis melihat wajah Gibran yang begitu sangat tampan, dan gagah membuat beberapa Gadis yang iri dengan Nadia.


Gibran dan keluarganya telah masuk kerumah Nadia penghulu yang telah menunggu kedatangan pengantin pria.


Apakah semua sudah siap ucap pak penghulu kepada keluarga Gibran " siap pak" ucap papa Gibran .


Gibran sangat gugup jantungnya ingin copot "Ya Allah kok jantung ku kaya mau copot , bantu jambu ini ya Allah " batin Gibran .


"Apakah nak Gibran telah bersedia melaksanakan ijab Kabulnya ?"


"Iya pak insyaallah saya siap ". Jawab Gibran tegas.


" jika seperti itu silahkan nak Gibran menjabat tangan pak Ahmad ayah Nadia" .


" Dengan mengucap bismillah , saya nikahkan anak saya NADIA AHMAD dengan GIBRAN BIN HADI SAPUTRA WIJAYA dengan mas kawin emas 1000 gram dengan perangkat alat sholat dibayar tunai

__ADS_1


"Saya terima nikahnya NADIA BINTI AHMAD dengan Mas kawin yang Tersebut " Dengan sekali napas Gibran bisa menjawabnya dengan tegas.


"Gimana sah " tanya pak penghulu .


"Sah".... jawab semuanya


Rati kemudian membawa sang kakak keluar dari kamar menuju ruang tamu tempat akat nikah dilakukan , semua orang tertuju melihat Nadia , semua orang sangat takjub dengan kecantikan Nadia . Gibran pun tak ketinggalan melihat kecantikan wanita yang telah dipersuntingnya.


Nadia kemudian duduk disebelah Gibran , Kemudian ibu Gibran memberikan cincin untuk Gibran pasangkan kepada Nadia .


Kemudian Gibran membuka kotak cincin dimana yang berisi 1 pasang cincin yang sangat indah.


"Ayo pasang Ucap sang mama ".


"Iya ma " ucap Gibran .


Gibran meraih tangan Nadia dimana tangan keduanya gemetaran . Tak butuh waktu lama pemasangan cincin telah selesai . Nadia pun untuk pertama kalinya mencium punggung laki-laki . Gibran pun mencium kening Nadia .


Nadia mencium punggung tangan sang ayah dan memeluk erat sang ayah . tangisan pun pecah karna sang ayah sangat terharu dengan pernikahan perempuannya . beralih dengan Mama Gibran, mama Gibran pun memeluk Nadia dan menyatakan .


" Nak terimakasih telah menjadi menantu mama ,dari sekarang kamu harus panggil Tante dengan mama "


" iya Tan.... " Nadia menggantung jawabannya dan melanjutkan jawaban . eh iya mama "


Ibu Aminah pun tersenyum dan kembali memeluk sang menantu .


Nadia beralih dengan sang papa dan adik iparnya .


Gibran mencium mertuanya " Om " ucap Gibran .


" Iya yah , Gibran mencium tangan pak Ahmad . kemudian pak Ahmad memberikan pesan dengan Gibran .


" Nak tolong jaga Nadia bimbing dia , sayangi dia tegur dia jika ia salah".


" Iya yah , insyaallah Gibran akan jaga Nadia" .


Adi dan juga Rati kemudian memberikan selamat kepada saudara mereka Nadia atas pernikahan dan melepaskan Nadia dengan pelukan hangat.


Nadia dan Gibran pun saling berdekatan menyambut semua rambut dan menjabat tangan tamu undangan yang datang dan berpamitan pulang.


Di dalam kegiatan yang merka lakukan tidak ada pembicaraan diantar mereka . Mereka masih kelihatan canggung.


Irfan pun datang di pernikahan sahabat terbaiknya Dan memberikan selamat kepada Gibran


" Hey bro selamat ya atas pernikahan mu"


sambil memeluk sahabatnya .


" Iya fan makasih udah datang di pernikahan gue dengan Nadia " Jawab Gibran sambil melirik ke arah Nadia .


" Bismillah dulu sebelum lakuin malam pertama ha ha ha ha " goda Irfan kepada Gibran .


"Lo Gombong apa sih fan" , mata Gibran melotot kepada Irfan .

__ADS_1


" Oh ya gue pamit dulu karna gue masih ada urusan " Selamat ya atas pernikahan kalian semoga kalian menjadi keluarga sakina mawadah dan warahmah.


" iya , amin... jangan lupa datang di resepsi pernikahan kami Besok lusa".


" oke " sambil meninggalkan Gibran dan Nadia.


Setelah beberapa rangkaian acara telah dilewati para tamu undangan pun sudah mulai pulang , masih beberapa keluarga kerabat yang terdekat Nadia yang masih di rumahnya.


Kedua orang tua Gibran dan adiknya berpamitan kepada Gibran dan Nadia .


"Gibran, Nadia Mama , Papa dan Rafa berserta yang lain kami pamit dulu ya nak . Gibran tolong jaga menantu mama, Oke "


"Insyaallah ma "


Nadia pun mencium punggung Orang tua Gibran dan memeluk Mama Gibran dengan begitu erat . Nadia sangat bahagia bisa merasakan pelukan sang mama meski itu bukan ibu kandungnya, tapi ibu Aminah sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya.


Gibran melakukan sama seperti Nadia lakukan . Dan Papa Gibran selalu memberikan pesan kepada Gibran .


Agar Gibran selalu melakukan yang terbaik untuk rumah tangganya yang baru ini .


Waktu sudah sore semua keluarga kerabat terdekat Nadia sudah pulang. Nadia pun memasuki kamarnya untuk beristirahat dan membersihkan badan karna terasa lengket.


Sedangkan Gibran sendiri masih ingin mengobrol bersama adi dan ayah Nadia, meskipun masih menggunakan pakaian pengantinnya.


Dirumah Nadia cuma ada 1 kamar mandi, Nadia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu , setelah mandi Nadia tetap mengunakan pakaian tidur yang lengkap berserta hijabnya.


Gibran merasa gerah iapun memutuskan untuk pergi ke kamar Nadia , dimana Rati yang mengantar Gibran ke kamar kakaknya .


" Tok ..tok ..tok kak ini kak Gibran mau masuk "


Nadia dari posisi baringan di atas ranjang ia pun cepat Bagun dan merasa gugup


"Ya Allah pak Gibran mau masuk ke kamar aku , kok aku dek dekan jantung aku kok ngak normal sih" batin Nadia.


" Kak"..panggil Rati untuk ke 2 kalinya membuat Nadia cepat membuka pintu.


" Iya" click ...


" Udah ya adek tinggal "


" iya makasih Rati udah antar kakak ke kamar kak Nadia " ucap Gibran .


Jantung Gibran begitu berdebar-debar sehingga membuat Gibran salah tingkah ketika berada dekat Nadia .


"Masuk pak" ucap Nadia .


" Iya makasih , Aku mau mandi kamar mandi dimana ya ? " sambil mencari keberadaan kamar mandi .


" Maaf pak kamar mandi ngak ada di kamar , kamar mandi ada di luar dekat dapur ". jawab Nadia .


" Ya udah kalau gitu aku ke kamar mandi dulu" , sambil melepaskan pakaian yang ia gunakan hingga menyisakan kaos oblong dang celana pendek .


" Ha dia mau ngapain buka baju depan aku " Batin Nadia iapun memalingkan pandangan .

__ADS_1


Gibran mengambil handuk dan beberapa pakaian di dalam kopernya, karna ia tau bahwa Nadia masih belum siap untuk melihat ia bertelanjang dada .


__ADS_2