
Selesai sholat merka memutuskan untuk beristirahat karna kegiatan hari ini membuat kedua insan itu lelah .
Nadia mengambil bantal dari atas ranjang ia ingin tidur di atas sofa. Gibran yang duduk di atas ranjang memperhatikan tingkah Nadia .
Kamu mau ngapain ?
" Aku mau istirahat sebentar mas, jika mas butuh sesuatu nanti bangunin Nadia aja " jawab Nadia singkat .
Emm iya .
Nadia kemudian tidur di atas sofa, dan tidur dengan nyenyak . Gibran memperhatikan Nadia, ia merasa ada perasaan yang tak menentu di hatinya .
Hey Gibran kok kamu jadi kayak gini sih. Dia itu cuma wanita kampung, yang ngak ada artinya bagi kamu, batin Gibran.
Gibran pun memutuskan untuk tidur juga .
Setelah kedua insan tersebut istirahat mereka memutuskan untuk keluar mencari makan, karna keduanya sudah merasa lapar .
Didalam mobil Nadia membuka pembicaraan,
"Pak kita mau makan dimana ? "
Nanti juga kamu tau, mendingan kamu dia ngak usah banyak bicara.
"Galak amat" cibir Nadia .
Tak berapa lama merekapun sampai di restoran yang mewah dan mahal.
Kita makan disini ayok turun.
" Pak Gibran kita makan disini?
ini kan restoran mahal, mendingan kita makan di tempat biasa-biasa aja, mubazir uangnya pak "
Jika kamu ngak mau ikut turun ya udah, kamu bisa pulang sendiri dan ngak usah ikut saya makan 'ngerti !
Nadia tidak bisa menahan rasa laparnya ia pun mengikuti Gibran.
Dengan langkah yang lebar Gibran duduk di kursi yang telah sediakan yang berkelas Fifie.
Cepat pesan kamu mau apa, Gibran memberikan daftar menu kepada Nadia .
" Makasih", langsung melihat daftar menu yang begitu mengejutkan bagi Nadia .
" Ha, mahal amat " Nadia kemudian diam.
Kenapa ?
" mahal baget pak, makanan disini"
__ADS_1
Ngak usaha dipikirin nanti aku yang bayar.
"Emm benaran pak, makasih ya traktirannya hari ini , nanti Nadia balas kebaikan bapak dengan saya " Nadia memberikan senyuman yang tulus kepada Gibran .
Iya .
Mereka makan dengan lahap tanpa ada pembicaraan diantara mereka . Menyelesaikan makan Gibran berbicara dengan Nadia .
Nadia, jika kamu berada dirumah mama nanti kita harus bersandiwara kita harus pura-pura layaknya suami-istri yang bahagia .
"Nadia ngak mau pura-pura Pak Nadia akan lakukan sebagai mana seorang istri bertanggung jawab sebagai istri. Nadia ikhlas menikah dengan pak Gibran".
Ingat Nadia aku tidak akan ikut campur urusan mu dan kamu tidak boleh ikut campur urusan saya, jika saya ingin mencari wanita yang saya inginkan kamu ngak berhak melarangnya.
" Iya pak , tapi izinkan Nadia untuk menjaga pakai minum pak Gibran, pak Gibran ngak boleh makan diluar baik sarapan pagi, siang dan malam. Setiap 1 Minggu sekali bapak luangkan waktu untuk berkumpul dengan Nadia atau dengan keluarga kita . Itu aja Nadia mintak dari pak Gibran, dan Nadia mohon biarkan Nadia tetap berkerja, biar Nadia mampu menghidupi kehidupan Nadia sendiri."
Oke, itu saja syarat mu ?
"iya pak "
Oh ya saya akan memberikan uang setiap bulannya kepada mu, karna itu bentuk nafkah lahir ku pada mu , jadi dengan uang itu kamu bisa berbelanja keperluan mu . Dan untuk keperluan rumah nanti akan saya kasih juga dengan kamu nanti kamu atur sendiri .
" Iya pak, Tapi pak Gibran ngak perlu kasih Nadia uang tiap-tiap bulan karna Nadia ada gajih sendiri ".
Udah kamu terima aja, kamu harus patuh dengan perintah saya, karna saya adalah suami kamu mengerti , nanti dosa jika ngak patuh dengan perintah suami .
"Baiklah pak jika itu kemauan bapak " Nadia nurut .
Gibran dan Nadia tiba di hotel . Nadia duduk di sofa sambil membaca novel yang ia bawak dari rumahnya , karna Nadia adalah suka membaca novel dan suka menulis diary .
Gibran di balkon samping kamar mereka memainkan ponsel sambil melihat-lihat pemandangan kota Bandung yang indah dan sejuk .
Nadia melihat Gibran memandangi pemandangan ia pun menyusul Gibran keluar dan memberikan diri untuk mengobrol dengan Gibran .
" Eh pak lagi ngapain ?"
Ngak aku hanya liat pemandangan kota Bandung ini .
" Oh ya pak boleh Nadia jadi teman pak Gibran? meski Nadia tau pak Gibran tidak akan pernah suka dengan Nadia . Tapi Nadia ingin menjadi teman pak Gibran .
Emm baik boleh, sekarang kita menjadi teman.
" Makasih pak, Nadia janji akan menjadi teman terbaik dunia dan akhirat pak Gibran "
Emm iya, Nadia Ahmad maafkan gue, belum bisa menerima mu, dan sampai kapan hati ini bisa membuka hati ku untuk mu , batin Gibran.
Nadia pun sedikit demi sedikit menanyakan tentang Gibran, baik dari makanan, hal yang di benci.
" Pak Gibran suka makan apa ?
__ADS_1
Alergi apa ?
Jam berapa pak Gibran pulang dari kantor ?
warna pak Gibran apa ?
Terus hal yang pak Gibran benci apa ?"
Banyak baget pertanyaannya, baik akan aku jawab 1 persatu .
Aku suka makan jenis ikan kecuali seafood , terutama udang, aku ngak makan , aku suka teh yang tidak terlalu manis , warna aku suka hitam. Hal yang tidak saya suka itu ngak mau dibohongi dan di khianati.
" Kalau bohong dan di khianati Nadia juga ngak mau Pak " cetus Nadia .
Ha... bila apa kamu barusan ?
" ngak pak "
Ngomong yang jelas .
"Udah pak udah mau azan magrib mending kita masuk, ngak baik banyak syaitan yang berkeliaran waktu kayak gini"
Ya udah, mempersilahkan Nadia untuk masuk terdahulu darinya .
oh ya pak mending bapak mandi terlebih dahulu nanti Nadia siapin pakaian nanti . Ini handuknya pak .
Iya Makasih, mengambil handuk dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Nadia memainkan ponselnya dan melihat beberapa pesan WhatsApp dari teman guru memberikan ucapan selamat atas pernikahannya. Mbak Ratna terutama yang sering menggodanya tentang hubungannya dengan Gibran .
* mbak Ratna *
Hey gimana malam pertamanya ?
" Apa sih mbak ini jangan tanya gitulah mbak , kamu masih saling mengenal"
* mbak Ratna *
Nadia kamu harus melakukan kewajiban mu, kamu harus jaga suami mu, jaga rumah tangga mu dan ingat jangan lupa selalu berdoa agar dia selalu menjaga dan menyayangi mu .
" Iya mbak, Nadia juga mintak doa dari mbak "
click pintu kamar mandi terbuka dan Nadia melihat Gibran telah selesai mandi dan hanya mengunakan handuk sebatas pinggang . kembali lagi Nadia memalingkan muka
Gibran melangkah menuju pakaian di atas sofa Diaman disampingnya ada Nadia .
jantung Nadia begitu berdegup kencang, " Ya Allah bantu Nadia " dalam batinnya .
Udah ngak usah ke GR kamu, aku cuma ambil pakaian saya, udah sana mandi udah mau magrib ini .
__ADS_1
Nadia beranjak dari tempat duduknya dan segera mengambil handuk dan pakaian untuk ke kamar mandi . Melangkah secara terburu-buru dan tanpa menjawab satu patah pun dari Gibran .