
Setelah Gibran menyelesaikan mandi ia pun masuk kembali ke kamar , melihat Nadia sudah tidak ada dikamar . Gibran pun memilih melihat-lihat kamar yang sederhana tersebut, ia melihat Foto Nadia berserta Ayah , Ibu dan Kakak berserta Adiknya .
" Keluarga yang bahagia " ucap Gibran singkat.
Gibran pun membaringkan tubuhnya di atas kasur Nadia . Ukuran ranjang yang tidak terlalu besar tapi untuk Nadia dan Gibran itu sudah cukup .
"Emmm Kamar dia sangat rapi " batin Gibran .
Gibran tanpa ia sadari ia Tertidur , Nadia telah menyelesaikan masak makan malam , memutuskan untuk kembali ke kamarnya . Melihat Gibran telah tertidur di atas ranjang , Nadia pun dengan pelan-pelan melangkah menuju Meja hiasnya .
Tak berselang begitu lama azan magrib pun berkumandang " udah azan ni gimana pak Gibran masih tidur , bagaimana aku bagunin dia , Takut pak Gibran marah . Aduh "
Akhirnya Nadia memberanikan diri mendekat untuk membangunkan Gibran . " Pak pak pak , pak Gibran Bagun udah azan magrib ni .
tidak ada jawaban dari Gibran .
Aduh kok ngak bagun sih , Nadia tidak berani menyentuh legan Gibran karna ini hal pertama ia lakukan dengan laki-laki . akhir ia memanggil Gibran lagi tetapi tetap sama tidak ada jawaban " apa ia pingsan kok ngak bagun". batin Nadia akhirnya Nadia mengalah
dengan egonya ia memberanikan untuk mencoba menggoyang lengan Gibran sambil memanggil nama Gibran .
Pak Bagun .. ....
" Emmm , iya kamu berisik baget sih udah tau aku lagi tidur " dengan suara khas dari Bagun tidur.
" Udah magrib , sholat dulu sudah selesai sholat pak Gibran mau tidur lagi ya ngak apa-apa" . Jawab Nadia begitu lembut.
Gibran Bagun dari tempat tidur dan bersiap untuk mengambil air wudhu . Sedangkan Nadia memberanikan diri untuk melihat isi koper Gibran apakah Gibran membawa alat untuk sholat . apabila Gibran tidak membawa ia akan meminjamkan kepada sang kakak .
"Mending aku liat dulu di kopernya , maaf pak aku lancang tapi aku hanya menjalankan kewajiban ku sebagai istri, yang baik" .
Nadia melihat semua ada di dalam koper Gibran , dan akhirnya Nadia menyiapkan sarung dan baju koko Gibran.
Gibran kembali ke kamar melihat Nadia sudah siap dengan mukenah yang ia gunakan membuat Gibran sedikit bahagia bisa mendapatkan wanita Soleha seperti Nadia .
Dan tak lupa ia melihat pakaian yang ia butuhkan sudah berada di atas tempat tidur .
Nadia melihat Gibran dengan pakaian yang ada di atas tempat tidur . Nadia pun mengatakan kepada Gibran bahwa ia yang mengambil dari kopernya .
"Maaf pak aku yang mengambil peralatan sholat dari koper bapak . Mohon maaf Nadia lancang" ucap Nadia jujur.
" emm iya makasih " jawab Gibran singkat.
" Pak "... panggil Nadia gugup .
" Iya apa ? "
__ADS_1
"Bapak jadi iman sholat ku ya " ucap nadia polos dan berharap Gibran bisa mewujudkan permintaannya .
Gibran terdiam, sambil memakai pakaian yang telah Nadia siapkan "aduh kok dia mau sih aku yang jadi iman buat dia sholat. Padahal kan baru kenal udah berani dengan gue" batin Gibran
" iya " jawab Gibran
" Alhamdulillah , makasih pak "
mereka pun melaksanakan sholat berjamaah didalam kamar Nadia , Nadia sangat terkesima dengan bacaan Gibran yang benar dan suara sangat merdu membuat Nadia tersenyum bahagia bisa mendapatkan suami yang bagus dalam ibadah.
Selesai sholat Nadia meraih tangan Gibran dan mencium tangan Gibran . Gibran hanya terdiam dengan apa yang Nadia lakukan.
Gibran pun mulai berbicara dengan Nadia
" Nadia" panggilan Gibran .
" Iya pak kenapa ? "
"jangan pikir kamu bisa dengan mudahnya kamu bisa menaklukan hati saya , jangan berharap lebih kamu takutnya aku tidak bisa mencintai mu dan menerima mu " .
"Maksud pak Gibran apa ya ? kok aku ngak ngerti arah pembicaraan bapak ? "
"Oke aku kan jelasin sama kamu" sambil menata Nadia begitu tajam .
Nadia hanya mengangguk .
" Mas Gibran jangan panggil aku Pak , kamu mengerti "
"Nadia menjawab maaf pak tapi aku bisa melakukan kewajiban ku sebagai istri memenuhi kebutuhan pakai makan minum pak Gibran , Nadia mintak bapak tidak ke Beratan , Nadia tidak akan minta balasan dari bapak karna Nadia ikhlas jalaninya , karna itulah kewajiban ku sebagai istri pak "
"Baik saya tidak keberatan , aku akan memenuhi kebutuhan lahir mu , tapi tidak untuk batin karna itu butuh waktu untuk kita saling mengenal ".
"Baik pak", Nadia pun pergi meninggalkan Gibran dan keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Gibran dan keluarganya.
Tak butuh lama Nadia menyiapkan semuanya, merka telah berkumpul di Meja makan , termasuk juga Gibran telah bergabung dengan mereka .
Lo kok kamu pakek hijab si dek , ucap Adi dengan begitu jelas , membuat Nadia terdiam . mencoba mencerna apa yang kakaknya katakan.
emm ... emmm anu kak .. gelagapan Nadia menjawab pertanyaan sang kakak.
"Maaf kak Nadia takut ada tamu yang datang malam ini, makanya Nadia pakek hijab". jawab Gibran mencoba menjawab pertanyaan kakak iparnya.
"Owh gitu kirain , ngak mau buka hijab karna ada Gibran dirumah . Diakan udah jadi suami kamu jadi Gibran berhak melihatnya. "
" Iya kak" jawab Nadia .
__ADS_1
Mereka pun makan malam begitu lahap, Gibran suka dengan masakan Nadia , karna ia begitu menikmati setiap suapan yang masuk ke mulutnya.
Nak Gibran , setelah resepsi nanti, kamu sering-sering main kesini ya . Ucap sang martua .
" Iya kak Gibran nanti sering tidur disini juga , terus jangan larang Rati bertemu dengan kak Nadia ya jika kami bertemu di sekolah." celoteh Rati dengan begitu mengemaskan .
" Iya , insyaallah kami akan berkunjung disini dan kakak tidak akan pernah melarang Rati untuk bertemu dengan kak Nadia" .
"Nanti Rati sering -sering main kerumah kak Gibran sama kak Nadia ya"
"Benaran boleh kak , emm Rati suka itu "
"Hey kamu harus jagain ayah jangan pernah tinggalin ayah". ucap Adi kepada Rati .
"Iya deh , kalau gitu ".
Setelah menyelesaikan makan malam Nadia dan Gibran Kembali ke kamar .
Gibran mengambil bantal dan memutuskan untuk tidur dilantai .
" Lo pak Gibran mau ngapain ?"
" Tidur disinilah mau dimana lagi , diluar sana biar bisa diliatin sama ayah kamu adik dan kakak mu ?"
"Bukan kayak gitu pak , pak Gibran tidur di atas ranjang ini biar Nadia yang tidur dibawah ".
"Pak Gibran juga kan sebelumnya udah tidur di sini" sambil menepuk kasur miliknya .
"Sini biar Nadia yang tidur dilantai " mengambil bantal dan selimut yang Gibran pegang di tangannya .
Gibran tidak menjawab dan mengikuti perintah Nadia.
Nadia tertidur lelap di atas permadani yang tipis dan bantal serta selimut yang membalut tubuh mungilnya .
Gibran memperhatikan Nadia tidak memperdulikan, tapi dalam hatinya ada rasa sedikit kasihan dengan Nadia.
Udah ah mending gue tidur , dia yang mau tidur dilantai bukan gue yang suruh dia.
Dengan malam yang panjang membuat kedua insan itu tidur dengan pikiran masing-masing .
Mereka tidak melakukan semana meskinya suami istri lakukan dimalam pertama .
Pada Sepertiga malam Nadia terbangun ia melaksanakan kewajibannya untuk melaksanakan sholat malam, dengan tidak berisik agar penghuni baru dilamarnya tidak terusik olehnya.
Tapi Gibran tergerak untuk Bagun dari tidurnya karna suara samar-samar mengaji Nadia membuat matanya terusik untuk melihat siapa yang mengaji . Gibran melihat Nadia yang sedang mengaji , ia merasa tenang. Serta tetap mendengarkan nadia mengaji tetapi dengan keadaan mata terpejam takut sang pemilik suara melihat tingkah Gibran .
__ADS_1
Setelah selesai Nadia kembali tidur sampai waktu subuh tiba . Keduanya Bagun dan melaksanakan sholat subuh berjamaah . 1 malam sudah mereka bersama sebagai suami istri .