
Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah dengan keadaan yang tidak baik-baik saja . Nadia khawatir dengan semua ancaman Talita yang akan menghancurkan ke harmonisan keluarganya . sedangkan Gibran yang polos dengan menyetir memperhatikan istrinya disebelah
"Sayang kenapa kok sedari dari restoran kamu diam aja , apakah kamu takut akan ancaman dari Talita ?"
" Mas siapa yang ngak khawatir dengan ancaman wanita yang mencintai suaminya sendiri"
" Sayang percayalah mas tidak akan meninggalkan mu kecuali maut yang akan memisahkan kita nanti, ingat itu ".
" Mas janji , tapi saya tetap takut dengan wanita jahat itu diakan melakukan seribu cara untuk mendapatkan kamu mas "
" Emang kamu tau dari mana bahwa dia akan melakukan seribu cara untuk mendapatkan cintanya dengan saya"
"Piling seorang istri itu sangat kuat mas "
" Benar ni atau kamu dulu melakukan seribu cara untuk mendapatkan cinta saya " sambil tersenyum menggoda sang istri
" Ye mas , Ya sebelum menikah saya hanya pasrah dengan perjodohan kita tapi setelah menikah saya berjuang untuk mendapatkan cinta mas Gibran ".
Gibran terdiam dengan jawaban sang istri " terimakasih sayang kamu telah berjuang dengan rumah tangga kita ini " ucapnya dalam hati kemudian ia menepikan kendaraannya dan mendekat kepada Nadia serta terus memeluk Nadia dengan erat dan mengecup kening Nadia untuk beberapa kali sambil menyatakan " Terimakasih untuk keikhlasan cinta mu sayang mas selalu akan mencintai mu dan terimakasih telah bertahan dengan ku "
__ADS_1
Nadia terdiam dan menatap mata sang suami "Mas saya yang seharusnya berterimakasih kepada mas Gibran yang telah membalas cinta saya dan memberikan kasih sayang cukup , serta telah memberikan anugrah yang terindah dalam hidup saya yaitu calon anak kita " .
Kemudian Gibran melanjutkan perjalan sampai tiba di rumah Gibran langsung menyiapkan makanan untuk Nadia karna yang diidamkan sang istri
Nadia menyantap makan khas dari kota Palembang itu langsung di santap oleh Nadia dengan lahapnya
" Hey anak Abi laper banget ya atau uminya yang laper " sambil mengelus perut Nadia.
Nadia terhenti oleh tingkah suaminya itu
" Mas Gibran ya anaknya lah yang laper sambil tersenyum + uminya juga ya kan nak Sambil menumpukan tangannya kepada tangan Gibran.
" Iya Abi jaga umi ya bi " ucap Nadia yang menirukan cara bicaranya seperti anak kecil.
"Sayang kamu setuju dengan sebutan Abi dan Umi "
" Emmm setuju kok Mas "
" Kok masih mas panggil Abi donk "
__ADS_1
" Emm gimana kalau udah lahir anak kita aja nanti "
" kelamaan sayang nanti kita kaku lagi ngucapinnya kalau dari sekarang ngak nanti kita akan terbiasa " .
" Ya terserah Mas lah "
Gibran pun mencium pipi Nadia dan keningnya berulang kali .
****************
Perut Nadia semakin membesar Gibran dan Nadia semakin romantis dan rumah tangga mereka semakin harmonis membuat Talita yang semakin geram dengan ke harmonisan rumah tangga Nadia .
Ternyata Talita semenjak kejadian di restoran dimana dia dan Nadia Serta Gibran di pertemukan. Talita selalu memperhatikan gerak gerik merka .
Akhirnya Talita akan menyusun rencana untuk mencelakai Nadia dimana ia akan membunuh Nadia dengan cara menabraknya. Tapi ia menunggu waktu yang tepat untuk mencelakai Nadia karna Gibran selalu berada disisi Nadia , dan ia tidak akan mencelakai orang yang ia cintai .
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
jangan lupa like , komen serta terus ikuti ceritanya sampai selesai ya guys . mohon doa dan dukungannya .😊❤️❤️❤️🤗
__ADS_1