
Satu tahun sudah Nadia dan Gibran menjalani mahligai rumah tangga , hari-hari Gibran semakin hari memperhatikan Nadia dan selalu memberikan perhatian kepada Nadia . merka pun ingin cepat mendapatkan momongan ayah Nadia selalu menanyakan kehadiran cucu dari Nadia.
sedangkan kedua orang tua Gibran pun sudah sangat menginginkan kehadiran bayi di tengah-tengah keluarga mereka .
Pada saat libur Nadia sulit Bagun dari tidurnya . ia begitu lemas merasa keadaaan tubuhnya tidak kuat .
"Mas, maafin Nadia belum bisa bikin sarapan pagi ini" sambil menarik selimutnya hampir menutupi seluruh tubuhnya .
" Sayang kamu kenapa, muka kamu pucat baget ? " Gibran mulai panik .
" ngak tau mas , Nadia ngak apa-apa kok cuma sedikit pusing aja akhir-akhir ini kepala ku sering sakit " .
" kita periksa ke dokter yuk , sayang mas khawatir " Gibran mulai turun dari atas tempat tidur dan mengambil kunci mobil .
" Mas Nadia minum obat aja bentar lagi juga sembuh kok " ucap Nadia lemas.
" no sayang kita sekarang rumah sakit " Gibran memakaikan hijab untuk Nadia setelahnya iapun mengendong Nadia ke mobil .
selama di dalam perjalanan menuju rumah sakit Nadia terus muntah muntah . membuat Gibran semakin khawatir .
Tak cukup lama merka pun sampai di rumah sakit dan dokter langsung mengecek keadaan Nadia .
__ADS_1
Gibran menemani Nadia dan menunggu keputusan dokter bagaimana keadaan istrinya saat ini .
Dokter Amira , adalah dokter keluarga dari Gibran . telah menyelesaikan pemeriksaan kepada istrinya .
" Bagaimana dok keadaan istri saya , apakah yang terjadi dengan istri saya ?"
Dokter Amirah hanya tersenyum dan memberikan selamat kepada Gibran " selamat ya pak Gibran " .
" Lo kok selamat sedangkan keadaan istri saya terbaring lemah " Jawab Gibran ketus .
" Pak Gibran jangan panik istri pak Gibran baik-baik saja tapi pak Gibran akan segera menjadi seorang ayah dan nyonya Nadia akan menjadi seorang ibu".
Ya Allah tersenyum lebar dan sambil meneteskan air mata bahagianya, dan mendekati Nadia " sayang kamu hamil " .
" Iya mas" sambil meneteskan air mata bahagia.
Gibran memeluk sang istri dan mengelus perut datar Nadia " Hey anak Abi, Abi janji akan jaga kamu dan umi mu sayang, Jangan bandel ya sayang " . sambil mengecup kening Nadia .
Nadia hanya tersenyum melihat tingkah sang suami . Dokter Amirah pun terlupakan dengan kebahagian sepasang suami istri di depannya.
Gibran sadar bahwa dokter masih ada dalam ruangan tersebut. " maaf dokter , karna Sakin bahagian saya lupa masih ada dokter disini ".
__ADS_1
" Iya ngak apa-apa pak, tapi jangan nyonya jangan terlalu capek dan jauhi dulu kerja berat atau angkat-angkat yang berat ya, tolong jaga nyonya ya Pak "
" Iya dok saya akan jagain istri saya dan calon anak saya ".
Merka pun pulang dalam keadaan bahagia.
" Sayang kamu ngambil cuti ya, atau kamu berhenti dari kerja karna mas mampu untuk menafkahi mu apa yang kamu mau insyaallah akan memenuhi semua nya, Untuk biaya Rati kuliah mas udah tanggung uang jajan yang kamu berikan selama ini kamu kasih, mas akan berikan 2x lipat malahan mas mampu " .
" Mas Nadia akan ngambil cuti tapi tidak untuk berhenti untuk kerja " .
" Iya udah saya mas ngak mau kamu kenapa-kenapa dan calon anak kita nantinya" .
" Insyaallah saya akan jaga anak kita semampu ku".
" Sayang liat ni umi mu ini bandel baget sekarang" .
" Sayang umi ngak bandel ko , Abi kamu ini terlalu khawatir dengan kita "
Sesampai dirumah Gibran mengantar Nadia untuk beristirahat dan mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Ayah Nadia dan papa dan mamanya bahwa Nadia saat ini lagi mengandung cucu mereka .
Kedua orang tua Gibran sangat bahagia dan ayah Nadia pun sangat bahagia dengan berita yang selama ini mereka tunggu .
__ADS_1