Perjodohan Yang Tak Disangka

Perjodohan Yang Tak Disangka
Perdebatan


__ADS_3

"Ayo sayang sekarang kita berangkat kamu udah selesai bersiap-siapnya".


"Iya Mas ini aku udah siap dan Saya udah ngak sabar mencicipin makanan itu".


Merka pun berangkat menuju restoran atau tempat makan yang menyediakan makanan khas kota Palembang tersebut. Didalam perjalanan Gibran membuka pembicaraan


" Sayang nanti kalau anaknya laki-laki mas mau nanti dia ganteng seperti Abinya dan baik serta penyabar seperti uminya".


" Mas kok kayak gitu ?" tanya Nadia.


" Iya kan uminya itu sangat sabar dan baik ngak seperti Abinya ngak mudah sabaran dan juga egois sedikit sambil menakar bulatan kecil di tangannya 🤏".


" Kalau lahirnya perempuan gimana ?"


" Ya cantik, baik dan penyabar seperti uminya dan tegas seperti Abinya".


" Amin, Iya sih mas memang egois apalagi mas itu terlalu gengsi "


Gibran terdiam kemudian tertawa lepas karna Gibran teringat dengan kelakuan dirinya sebelumnya kepada Nadia .

__ADS_1


" iya mas mintak maaf segala kelakuan mas kepada kamu sebelumnya" .


" Iya mas , saya sayang mas dan saya berharap mas selalu disisi saya sampai akhir hayat saya ".


tak terasa Meraka sudah sampai di tempat tujuan mereka . Nadia dan Gibran langsung memasuki restoran, sebelumya Gibran telah memesan ruangan VIP untuk dirinya serta Nadia .


"Mas kita mau kemana kita duduk disini aja" ajak Nadia menunjuk tempat yang akan ia pilih untuk mereka tempati .


" Mas udah pesan sayang sebelum kita berangkat dari rumah "


Nadia pun mengikuti langkah suaminya menuju ruangan yang telah mereka pesan. belum beberapa lama merka duduk dimeja merek . ada sepasang mata yang memperhatikan keduanya tak lain adalah Talita.


" hey Gibran kamu apa kabar?" dan mulai menempelkan tubuhnya kepada Gibran tanpa menyapa Nadia.


Nadia memperhatikan tingkah Talita sedikit geram dengannya.


" emm eh Talita tolong jangan dekat-dekat dengan ku Talita Saya Alhamdulillah baik kamu apa kabar ? "


" saya baik Gibran , oh ya aku perhatian kamu semakin tampan sekarang "

__ADS_1


" em iya, karna istri saya pandai menjaga diri ku " sambil merangkul bahu Nadia untuk mendekat kepadanya.


" Oh iya donk diakan harus menjaga kamu secara dia hanya pembantu bagimu kan ?"


" Talita jaga bicara mu jangan sampai aku mengusir mu dari sini dan tolong keluar dari ruangan ini dan kenapa kamu bisa masuk di ruangan tanpa seizin kami "


" kok kamu marah sih Gibran sayang kamu sekarang udah berubah ya ngak seperti dulu , kamu bahkan tidak pernah marah ataupun membentak saya " rengek Talita .


ini pasti kamu yang meracuni Gibran dasar perempuan kampung tidak ada bandingnya dengan kelas kami "


Nadia hanya terdiam dan menunduk sambil mengeratkan pegangan tangannya dengan Gibran.


" Maaf tolong Talita kamu sekarang keluar dari ruangan ini dan jangan pernah menghina istri ku dia wanita yang baik bagi saya dan anak-anak saya nanti ."


" Hei perempuan kamu ingat jangan kamu pikir kamu menang dengan semua ini "


Nadia memberanikan dirinya untuk berbicara


" saya tidak menyerah dengan semua ini dan saya akan mempertahan rumah tangga saya, saya tidak akan membiarkan orang menganggu rumah tangga kami apapun yang terjadi , dan saya memang orang kampung telah kamu maksud tapi saya mempunya etika dan akhlak tidak seperti kamu yang tinggal di kota tapi akhlak dan etika mu. tidak seperti orang kota melainkan orang kampung " jawab Nadia begitu tegas dan membuat Gibran terkejut dengan apa Nadia lakukan kepada Talita.

__ADS_1


Talita memilih pergi dengan menghentakan kakinya dan pergi tanpa pamit kepada Nadia dan Gibran .


__ADS_2