Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 21


__ADS_3

"Aaaahhh....!!" Arman meninju angin setelah motor tukang ojek yang Lastri tumpangi sudah menjauh tidak terlihat lagi. Dengan perasaan sedih dan kecewa ia kembali ke rumah, melewati ayah, ibu, Rini, dan juga Kinar yang sedang ngobrol di pendopo.


"Tunggu Arman!" bu Sulis menghentikan langkah Arman. Namun, Arman tidak menoleh.


"Sopan sekali kamu Arman! ditanya ibu tidak menjawab, untuk apa kamu dekati lagi gadis miskin itu?!" pekik bu Sulis, berjalan mengejar Arman.


"Bu?!" Bentak pak Burhan kemudian berdiri mendekati istrinya menarik pundak bu Sulis dengan kasar. Pak Burhan marah setiap mendengar istrinya selalu mengatahi Lastri miskin.


Ketegangan terjadi, melihat situasi seperti itu Rini segera masuk ke dalam kamar. Begitu juga dengan Kinar.


Sedangkan Arman bergeming, melawan sikap ibunya yang mau menang sendiri. Yang ada hanya menambah dosa. Tetapi jika tidak di tegur akan kesalahanya, tingkah ibunya semakin menjadi-jadi.


"Arman atau Ibu, yang tidak sopan... ibu tadi menyuruh Lastri apa?! ibu kelewatan, apa salah Lastri sama Ibu? sampai Ibu, terus menghinanya. Jika Ibu tidak bisa berubah, lebih baik Arman tidak usah pulang ke rumah ini lagi Bu" ancam Arman tidak main-main.


Setiap pulang ke rumah bukanya kangen-kangenan seperti orang tua dan anak kebanyakan, ketika sudah lama berpisah. Namun keluarganya berbeda, pertengkaran ini sering terjadi.


"Arman" pak Burhan mengusap pundak anaknya agar tenang.


"Biar Yah, biar Ibu tahu, selama ini Arman diam bukan berarti menerima sikap ibu yang selalu semena-mena kepada Lastri. Tapi Arman masih menghormati ibu, karena ibu yang melahirkan Arman." Arman kadang iri dengan keluarga kebanyakan orang, meskipun hidup sederhana, makan seadanya, tetapi mereka saling sayang.


"Tapi mulai saat ini, Arman tidak akan biarkan, Ibu selalu menghina Lastri" Arman berkata pelan walaupun bagaimana beliau adalah; ibu kandung nya.


"Lastri itu punya perasaan Bu, seperti aku, Ayah, Ibu, bagaimana perasaan Ibu jika di posisi Lastri yang selalu ibu sudutkan."


"Hah! tidak kamu, Ayahmu, Rini! semua membela gadis miskin itu!" bu Sulis bukan berpikir justeru semakin marah.


"Ibu?!" bentak pak Burhan. "Sekali lagi, ibu mengatai Lastri seperti itu, saya lebih baik meninggalkan rumah ini!" tegas pak Burhan. Sama seperti yang dikatakan Arman.


Pak Burhan malu dengan para pekerjanya, terlebih kepada Suryo, Eko, dan juga Lastri. Mereka sudah bekerja selama puluhan tahun, tetapi ketika ingin membantu selalu di halangi istrinya yang tamak.


"Pergi saja, pergi semua! aku tidak perduli dengan kalian semua. Bela saja terus, wanita miskin itu, bela terus!" bu Sulis balik membentak.


Sedangkan Arman lebih baik masuk ke ruang di mana ia selalu menumpahkan segala kekesalannya. Ia mengambil sarung tinju dalam lemari untuk peralatan olah raga. Ia meninju samsak, menendang dengan kaki kiri, bergantian kaki kanan.


Sementara di luar tinggal pak Burhan dan bu Sulis keduanya masih adu mulut.

__ADS_1


"Sini!" pak Burhan menarik tangan istrinya dengan kasar kemudian masuk ke dalam kamar. Pak Burhan mendorong tubuh bu Sulis hingga jatuh ke tempat tidur.


"Jangan sombong kamu Lis! kamu pikir, siapa kamu dulu sebelum menikah dengan aku hah?!"


Pak Burhan benar-benar mengeluarkan taring, sebenarnya tidak ingin mengungkit masalalu istrinya, bahwa dulu juga orang susah, tapi sikapnya sudah keterlaluan.


Bu Sulis kemudian tidak berkutik jika di singgung masa lalunya.


"Terus, apa maksud ibu mau menjodohkan Arman dengan Kinar?!" pak Burhan menatap tajam istrinya yang sedang menunduk. Lalu mengangkat dagunya.


"Sudah gitu, ibu pakai bohong, bilang sama aku dan Rini, kalau kamu mau melanjutkan pernikahan Arman dengan Lastri!"


"Keterlaluan kamu Lis! kamu sudah bertindak semaunya sendiri, bahkan nekat ingin menjodohkan Arman tanpa minta izin aku maupun Arman!"


"Jika terus-terusan sikap kamu begini, aku capek Lis! aku capek!" pak Burhan kemudian keluar dari kamar meninggalkan bu Sulis.


Tok tok tok.


"Arman... buka pintunya Nak" Pak Burhan mengetuk pintu kamar Arman tidak ada jawaban. beliau kemudian masuk ke dalam kamar. Namun tidak ada juga. Pak Burhan kembali keluar mendatangi sarana olah raga.


Pak Burhan tidak berbicara apapun kemudian melipat kaos panjanganya mengenakan sarung tinju seperti Arman.


"Ayo kita tanding" kata pak Burhan bersemangat.


"Siapa takut?" ayah dan anak itupun melakukan jab. Yakni pukulan pendek melindungi wajah keduanya.


"Buk" pak Burhan melayangkan pukulan silang kearah putranya mengenai wajah.


"Buk. Buk. Buk" pak Burhan menyerang dengan pukulan hook. Bagian-bagian tubuh Arman yang tidak ia lindungi.


"Buk" Arman melakukan pukulan uppercut. Dengan sigap menyerang bagian atas. Pertarungan terjadi. Begitulah cara keduanya jika sedang emosi.


"Auw..." Arman terjungkal terkena tendangan pak Burhan.


"Huh! payah, anak muda kok leto'e" pak Burhan melepas sarung tangan. Kemudian membangunkan Arman yang sudah bonyok-bonyok.

__ADS_1


"Arman mengalah Yah, kalau Ayah kesakitan kan kasihan" Arman meringis menahan sakit.


"Hais... jangan alasan!" pak Burhan beranjak ambil kotak P3K lalu mengobati luka Arman.


"Kamu itu tidak hanya kalah dalam teknik meninju Ar, tapi kalah dalam teknik menundukan wanita!" ketus pak Burhan.


"Auw" Arman meringis. Pak Burhan menekan pipi Arman yang luka terlalu kencang.


"Kamu ini jadi laki-laki harus tegas Ar, katanya kamu di Jakarta sukses, bisa memimpin anak buahmu.Tapi kenapa kamu tidak bisa memimpin hatimu sendiri"


"Maksud Ayah?" Arman mengerutkan dahi.


"Kamu tahu, kalau kamu akan di jodohkan dengan anak gadis tadi?" tanya pak Burhan yang dimaksud adalah; Kinar.


"Tahu dari Mbok, Yah"


"Terus kamu mau?" pak Burhan menyudahi mengobati luka Arman.


"Ayah! ya jelas tidak mau!" tegas Arman.


"Heeemmm... tidak mau, kamu bilang?! terus kenapa lenganmu di pegangi gadis itu diam saja?!" pak Burhan bersedekap dada.


"Arman... Arman! sebenarnya tidak hanya Ibumu yang menyakiti Lastri, tapi kamu juga sama" pak Burhan geleng-geleng menatap Arman yang masih menggerak-gerakkan bibirnya akibat pukulan uppercut.


"Kok Arman sih, Yah?" Arman mendongak ke atas menatap pak Burhan.


"Kamu ini pura-pura bodoh, atau memang bodoh Ar, jangankan Lastri yang melihat tanganmu di pegangi gadis itu, sudah pasti dia marah, Ayah saja yang lihat gregetan pengkel pukul kamu!" Ayah mendorong dahi Arman dengan telunjuk.


"Nggak tahu Yah, ketika Arman melihat Lastri ingin membantu membawa belanjaan, Kinar menggandeng Arman ikut keluar, ketika mau Arman lepas. Lastri sudah terlanjur melihatnya," tutur Arman.


"Alasan kamu! dengan sikap kamu begitu jangan harap Lastri bisa lagi kamu dekati!" pak Burhan menyudahi pembicaraannya kemudian keluar dari kamar olah raga.


Arman bersandar di tembok kenapa permasalahan menjadi semakin rumit? pikirnya lalu merebahkan tubuhnya di lantai tanpa alas.


.

__ADS_1


__ADS_2