
Hari berganti, seminggu sudah Tri mengajar di Sekolah Menengah Kejuruan. Banyak sekali masalah tentang anak-anak. Berawal dari banyolan hingga berujung perkelahian, sering terlambat, bolos sekolah, dan lain-lain. Harus Tri hadapi dengan bijak.
Saat istirahat ketika semua anak-anak keluar, ada salah satu anak yang murung di bangkunya. Tidak berniat bergabung dengan teman-temannya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Tri yang masih duduk di depan.
"Brina... ada apa? Saya perhatikan, sejak tadi pagi kamu murung terus, cerita sama saya, anggap saja kita bersahabat," kata Tri bijak.
"Hiks hiks hiks" gadis yang bernama Sabrina itu justru menangis.
"Brina... kok malah menangis? Ayo, cerita, sudah saya katakan tadi, anggap saja kita berteman," di usapnya punggung Brina yang sedang bergetar.
"Bu Tri... tolong Bu, jangan keluarkan saya dari sekolah ini," Brina mencium kaki Tri. Tri terkejut lalu segera membangunkan Sabrina.
"Brina... jangan begini sayang," Tri memeluk tubuh Brina. Membiarkan Brina menangis, jika bisa mengurangi bebannya. Hingga beberapa menit ketika Brina mulai tenang.Tri merenggangkan pelukanya lalu menatap lekat sambil memegangi pundaknya.
"Katakan Brina, kamu berbuat kesalahan apa? Sehingga kamu akan di keluarkan dari sekolah?" tanya Lastri lembut.
"Saya sudah enam bulan tidak membayar SPP Bu," jawab Brina pada akhirnya.
"Maaf, memang orang tua kamu bekerja apa?" tanya Tri lirih, kejadian seperti ini mengingatkan Tri ketika sekolah dulu.
"Ayah saya sebenarnya dulu seorang pemborong Bu, dan sudah beberapa bulan ini menganggur," Brina menceritakan. Ayahnya dulu seorang pemborong, bukan hanya memborong rumah. Tetapi pemborong kelas besar, maka orang tuanya berani memasukkan sekolah anaknya di sini. Yakni sekolah mahal.
"Baiklah Brina, kira-kira... berapa tunggakan spp kamu?" Tri menatap Brina sendu.
"Tiga juta, Bu," Brina menatap Tri merasa sedikit lega, gurunya yang satu ini memang luar biasa, tidak hanya memberikan pelajaran di sekolah, terlebih. Guru yang cantik ini selalu memberi pelajaran tentang arti hidup.
"Baiklah Brina, saya akan bicarakan dengan pihak yayasan, mudah-mudahan, usulan saya agar kamu tidak dikeluarkan dari sekolah ini didengarkan, saya minta kamu bersabar," kata Lastri.
"Sebaiknya... kamu istirahat,
punya uang jajan tidak?" imbuh Tri. Sabrina menggeleng seraya menunduk.
"Ini buat kamu jajan" Tri memberikan uang lembaran 50 ribu.
"Tapi Bu," Sabrina berkaca-kaca.
"Sudah... ayo terima, terus kamu jajan bersama teman-temanmu," Tri menggenggamkan uang ke telapak tangan Sabrina.
__ADS_1
"Terimakasih Bu," Sabrina kemudian keluar dari kelas menuju kantin sekolah.
Tri memandang langkah Sabrina, menarik napas berat.Tinggal 6 bulan lagi Sabrina akan menghadapi ujian, sungguh sayang jika Sabrina sampai di keluarkan dari sekolah.
Tri membuka tas mengecek saldo tabungan sisa untuk membayar kedua adiknya sekolah. "Masih cukup," gumamnya. Tri segera numpang angkutan menuju bank terdekat. Ia ambil uang tunai. Toh bulan ini sudah membayar cicilan rumah, ada hak orang lain setiap rezeki yang ia dapat. Pikir Tri.
Setelah mendapatkan uang, Tri kembali ke sekolah, kebetulan jam mengajar sudah selesai lalu bergegas mendatangi ruang TU.
"Bu Tri, ada yang bisa saya bantu?" tanya Hamzah. Ketika Tri tiba-tiba menemuinya.
"Pak Hamzah, boleh saya tahu, tunggakan SPP yang bernama Sabrina, berapa ya?" tanya Tri memastikan.
"Silahkan duduk Bu" titah Hamzah selaku TU, di sekolah Al INNAYAH.
Lastri kemudian duduk di depan Hamzah. Hamzah membuka buku tebal lalu mencari nama yang berawalan S, kemudian mencari nama Sabrina.
"Ada Bu. Sabrina sudah satu semester tidak membayar SPP, total 3 juta," kata Hamzah pria berpeci berlogat betawi itu menjelaskan. "Dua minggu yang lalu sudah dirapat Bu. Bu Bella tunangan Adnan, kekeh minta Sabrina dikeluarkan dari sekolah ini," imbuh Hamzah.
"Bella? Batin Tri. Ia berpikir, dari dulu wanita yang bernama Bella itu tidak puas-puas nya membuat orang lain sengsara.
"Loh, memang kenapa Bu?" Hamzah menatap Lastri berkerut-kerut, merasa heran.
"Tidak bisa saya jelaskan di sini Pak" Tri tentu tidak ingin dicap sebagai guru yang pilih kasih. Walaupun semua guru tahu, murid yang sekolah di sini rata-rata anak orang kaya.
Tri kemudian membayar tunggakan seluruhnya. Mereka tidak tahu, jika ada sepasang mata yang memperhatikan sejak tadi.
Plok plok plok.
Ketika Tri sedang menyerahkan uang suara tepuk tangan dari belakang membuat Tri menoleh. Begitu juga Hamzah mengangkat kepala cepat. Tri dan Hamzah saling pandang.
"Hahaha... gadis miskin! mau sok-sok-an jadi pahlawan!" sarkas Bella. Melipat kedua tangannya di depan dada.
Tri dan Hamzah tidak menghiraukan caci maki Bella justru melanjutkan tujuan awal.
"Kamu budek ya! Atau tuli?!" sinis Bella, tidak mencerminkan seorang guru.
"Saya kira cukup sampai disini Pak, saya permisi," kata Tri sama sekali tidak merespons Bella.
__ADS_1
"Terimakasih Bu," kata Hamzah.
"Sama-sama Pak," Tri melewati Bella, yang sedang menatapnya nyalang.
"Tunggu!" pekik Bella. Namun Lastri tidak menghiraukannya. Ia segera kembali ke kelas karena harus mengajar. Membuat Bella mengepalkan tangan. Tak ada satu guru pun di ruangan, karena semua sudah kembali masuk ke jam pelajaran kedua.
*******
Siang hari saat pulang mengajar, Arman segera ke parkiran, kali ini ia mengendarai motor. Di tempat parkir Arman sengaja memperhatikan Tri, dimana biasa Lastri menunggu angkutan. Inilah saatnya harus bisa membujuk Tri, jika kemarin-kemarin selalu gagal. Selagi tidak ada pengganggu karena Mustofa hari ini sedang tidak ada jam mengajar, sedangkan Adnan tidak mungkin datang ke sekolah jika Bella ada jam mengajar.
Ia duduk di atas motor matanya seolah tidak berkedip seperti Elang yang sedang mengincar mangsa. Bibir nya tersenyum kala gadis yang di cintai berjalan gontai menuju tepi jalan.
Ngeeeenng.... grek. Anggap saja suara motor berhenti begitu 🤭🤭🤭.
Arman membuka kaca penutup helm ia angkat ke atas. Ketika motor sudah berhenti di depan Tri.
"Tri, ayo naik" ucapnya namun Tri melengos. Ini bukan yang pertama kali bagi Tri. Arman berniat mengantarkan pulang.
"Tri please... banyak yang ingin aku bicarakan padamu, tolong dengar penjelasan aku, kali ini... saja, setelah kamu tahu cerita aku, jika kamu tetap akan membenci aku, itu hak kamu," tutur Arman memelas.
"Bapak mau bicara apa, cepat katakan?!" tanya Tri dingin.
"Makanya ayo, jangan disini, lihat anak-anak banyak sekali, sepertinya kurang pantas jika mereka melihat kita ngobrol di pinggir jalan," tegas Arman.
Tri lalu menoleh kiri kanan, memang benar apa yang dikatakan Arman. Apa lagi jika anak-anak kelas 3 A melihatnya tentu harus jaga image.
"Ngobrol dimana?" tanya Tri pada akhirnya mengalah.
"Pakai dulu helm ini nanti kamu akan tahu," Arman menyerahkan helm, rupanya ia memang sudah menyusun rencana pertemuan ini.
"Kaya tukang ojek saja, bawa helm dua" sungut Tri tapi tak urung menerimanya. Membuat Arman terkekeh. "Memang aku tukang ojek, tapi ojek untuk kamu pribadi," Arman kembali tersenyum.
Tri hanya diam lalu naik ke atas motor.
"Pegangan yang kencang ya, aku mau ngebut soalnya," kelakar Arman kembali terkekeh. Mana mau Lastri pegangan, selama berhubungan dengan Tri. Tri sama sekali belum pernah berpegangan mesra.
.
__ADS_1