Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 57


__ADS_3

Di ballroom hotel tampak pesta meriah Arman tidak tanggung-tanggung mengeluarkan dana yang cukup besar demi merayakan pernikahannya dengan gadis pujaan hatinya. Tamu undangan silih berganti Arman mengundang partner bisnis restoran, maupun Cafe, guru-guru, dosen dan juga sahabat-sahabat nya.


"Selamat Ar semoga cepat dapat momongan," ucap pria yang menggandeng pasangan juga.


"Terimakasih Boy"


"Selamat Mbak" ucap istri Boy kepada Lastri.


"Sama-sama Mbak,"


Ucapan selamat bergantian hingga mengular, Tri dan Arman tersenyum menyambut tamu-tamu nya satu persatu. Tidak jauh dari pelaminan pria tampan memandangi sepasang pengantin walaupun berusaha untuk ikhlas ternyata hanya di mulut. Ia adalah Adnan berkali-kali menarik napas berat untuk melegakan dadanya nya yang terasa sesak.


"Nan, kapan sih?! Kamu akan segera menikahi aku, seperti Pak Arman dan cewek kampung itu?" Bella menoleh ke pelaminan merengut kesal.


Adnan tidak menjawab justeru terus menatap guru dan wanita yang di cintai hingga kini. Adnan berandai-andai jika pengantin pria yang berada di sebelah Lastri adalah dirinya betapa bahagianya. Senyum tipis terukhir di bibir Adnan, tanpa Adnan sadari Bella memperhatikan pria yang di dijodohkan dengannya itu.


"Nan, aku ini bicara serius, tapi kenapa kamu malah memperhatikan pengantin kampung itu sih?!" sungut Bella.


Mendengar Bella mengatai Tri, seketika Adnan menghujamkan pandangan marah seperti pisau. "Hentikan menghina orang lain Bella!" Dengusnya.


"Bella, jika kamu mau menjadi istri saya, perbaiki kelakuan buruk kamu! Jika tidak, saya akan menemui Papa kamu agar membatalkan perjodohan ini!" tegas Adnan.


"Lakukan saja jika berani, bukankah Papa Rochmat bisa bertahan sam-..."


"Cukup Bella!" Adnan memotong ucapan Bella dengan tatapan nyalang. "Pasti kamu akan berkata jika Papa saya bisa bertahan sampai sekarang itu karena Papa kamu gitu Kan?! Hidup dan mati seseorang sudah di atur Bella!" tandas Adnan. Keduanya lantas saling diam, larut dalam pikiran masing-masing.


Jika aku tidak memikirkan perasaan orang tua saya, segala sesuatu tidak hanya di ukur dengan uang, saya akan tebus dengan uang kok Bella,"


Adnan kemudian beranjak ke pelaminan berniat mengucapkan selamat. Bella pun segera menyusul.


"Selamat Pak Arman," Adnan tersenyum menyembunyikan perasaan galaunya.


Terimakasih Nan, semoga kalian segera menyusul," Arman menatap Adnan dan Bella bergantian.

__ADS_1


Adnan tersenyum kecut. "Selamat Tri, samawa ya," di depan Tri pun Adnan pandai berakting pura-pura baik-baik saja.


"Terimakasih Kak," Lastri menangkupkan telapak tangan.


Dengan wajah yang dilipat Bella berdiri di belakang Adnan. Namun sama sekali tidak berucap justru melewati Lastri begitu saja.


********


PoV Sulastri.


Jam tujuh malam pesta selesai di gelar, badanku rasanya lelah sekali. Wajar selama seminggu banyak sekali yang aku urus, sehingga kurang tidur dan kurang beristirahat.


"Capek?" tanya suamiku kami duduk di ranjang hotel ukuran size. Aku hanya tersenyum kami masih sama-sama canggung hingga duduk berjauhan.


"Mas Arman mandi dulu gih, nanti terus gantian," jika aku sudah merasa lelah suamiku masih tampak segar.


"Mandi bareng sama kamu?" suamiku terkekeh.


"Jangan bercanda, cepat mandi!" kilah ku.


"Ok! Ok! Tapi aku minta upah dulu," Arman mendekati aku.


"Upah? Upah apa?" sungguh aku tidak mengerti apa maksudnya.


Tanpa permisi ia mengalungkan lengan kekarnya ke tengkuk. Aku terkesiap rasa di dadaku campur aduk. Ia segera mencium bibirku lembut dan anehnya aku merasa senang Arman melakukan itu.


"Mas," aku dorong tubuh kekarnya ketika ia menyudahi aksinya. Lagi-lagi ia tersenyum. Ya Allah... senyumnya itu selalu membuat aku betah memandang nya.


"Aku mandi dulu, setelah mandi nanti aku minta upah lagi loh, tapi lebih dari itu,"


"Mas... Cek!" aku memalingkan wajah.


Arman kemudian membuka blangkon, dan bunga melati yang masih melingkar di leher, meletakan di ranjang. Aku hanya mengamati saja. Yang terakhir ia melucuti baju pengantin adat jawa yang aku buat sendiri, baju berbahan tebal dengan warna hitam ada kerah namun tidak di lipat suamiku tampak gagah dan tampan. Hingga baju selesai di buka, menampilkan kaos berwarna putih dan celana boxer bewarna cream.

__ADS_1


"Mas..." aku tutup wajahku dengan telapak tangan takut ia akan membuka semua pakaianya.


"Hehehe... aku ini sekarang suami kamu, kenapa kamu masih malu? Nanti malam juga kamu akan melihat semua," kelakarnya.


"Mas... cepat mandi," aku sedikit menyentak.


"Okay..."


Aku dengar langkahnya yang menjauh dariku, seketika aku membuka telapak tangan perlahan mengintip sedikit jangan-jangan ia sudah membuka pakaianya. Tapi ternyata tidak, sebab ketika membuka pintu baju dan celana masih menempel di badan.


Mendengar air gemericik aku segera membuka baju pengantin yang aku kenakan dan mengganti dengan kaos. Aku satukan baju pengantin tersebut miliku dan juga miliknya. Namun, aku cium dulu baju adat jawa milik Arman yang sudah kotor, baunya wangi walaupun sudah ia kenakan beberapa jam yang lalu. Ah aku merasa munafik sekali jika tidak mendambakan pria sepertinya.


Aku membuka koper milik suamiku, mencari baju ganti miliknya. Lagi-lagi koper nya bau wangi.


"Hehehe jangan mencium bajunya orangnya saja ini,"


Brak


Aku menjatuhkan koper karena terkejut Arman memergoki aksi ku, sumpah rasanya aku ingin bersembunyi karena malu. "Ini baju gantinya," aku serahkan kaos dan celana bahan miliknya aku tidak ingin ia memakai boxer. Ingat boxer seketika aku menatap Arman ternyata ia hanya mengenakan handuk.


"Aaahh..." aku memekik kemudian berlari meninggalkan suamiku ke kamar mandi. Aku tidak menghiraukan tawanya yang geli.


Aku buka kembali kaos yang baru saja aku kenakan, segera membasuh wajahku dengan air, membersihkan muke up dengan susu pembersih. Hingga muke up yang terasa berat di wajahku bersih dan terasa plong, mungkin karena aku tidak biasa memakai alat yang sebagian besar di buru para wanita itu.


20 puluh menit kemudian selesai mandi aku kenakan kembali kaos yang masih bersih, membuka pintu kamar mandi mengintip sedikit apa yang di lakukan suamiku di dalam? Jangan-jangan ia sengaja tidak memakai baju. Pikiranku traveling seketika. Aku berjalan jinjit agar tidak meninggalkan suara. Oh ternyata ia tertidur terdengar suara dengkuran nafas halus. Aku memandangi wajahnya yang hanya terlihat bibinya sebab tanganya tertumpu di dahinya. Subhanallah... sedang tidur pun ia masih telihat tampan. Tidak menyangka pria yang selalu kupuja kini berada satu kamar denganku. Aku tepuk pipiku. Mimpikah aku? Oh terasa sakit, itu artinya ini nyata.


Bruk.


"Aahh...Mas..."


Tidak aku sangka ia akan menarik tanganku hingga aku jatuh menimpa dadanya.


.

__ADS_1


__ADS_2