Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 63


__ADS_3

Mobil Arman melaju sedang selap selip mencari jalan yang tidak macet hingga akhirnya supir sampai di depan sekolah.


"Mang Jajang, sekarang pulang saja, nanti siang baru menjemput kami ke sini," titah Arman, ketika pasutri itu turun dari mobil.


"Baik Den" jawab mang Jajang.


Lastri berjalan lebih dulu, entah mengapa ia benar-benar malu, pasti akan di ledeki teman-teman terutama Sundusyah karena saat ini sudah menjadi istri Arman.


"Tri tunggu," Arman menahan lengan Tri. " Kenapa sih... kamu pakai malu, memang kamu hamil di luar nikah? Kan baru tadi malam aku buka segel kamu," Arman terkekeh. Kali ini mereka berjalan berduaan.


"Iiihhh Mas, percandanya keterlaluan," sungut Tri.


"Hehehe... maaf" ujar Arman. Mereka tidak tahu jika Bella sejak tadi memperhatikan mereka geram.


"Mas mendingan sekarang pesan tiket, khawatir nanti tidak kebagian," Tri mengingatkan.


"Sudah tadi," Arman menjawab singkat.


"Kapan?" tanya Tri. Sejak pagi Arman bersamanya, tapi tidak merasa jika suaminya sudah pesan tiket pesawat.


"Tadi, waktu kamu temui Ibu. Oh iya Tri, kamu sudah minta ijin Ibu, kalau nanti siang mau pulang?" Arman sampai lupa menanyakan hal ini.


"Sudah Mas," jawab Tri, yang sedang memindai sekeliling.


"Mas, lihat di depan," Lastri menghentikan langkahnya. Ia terperangah karangan bunga berjajar di lapangan. Dan yang membuatnya lebih terkejut adalah; karangan bunga itu bertuliskan nama dia dan suaminya.


"Selamat menempuh hidup baru. Pak Arman dan Bu Sulastri,"


Lastri terngaga. "Kira-kira... siapa yang memesan karangan bunga itu Mas? Tidak mungkin kan, sekolah sampai memberi surprise begini," Lastri bingung sendiri.


"Bu Lastri... selamat menempuh hidup baru, semoga Bu Lastri, dan Pak Arman, bahagia selalu," segerobalan anak-anak satu kelas tampak Sabrina yang memimpin berjalan ke arah wali kelasnya.


"Jadi... kalian yang mempersiapkan ini?" Tri menunjuk karangan bunga.


"Iya Bu, tapi kami sudah minta ijin sekolah," jawab Sabrina, sembari menyerahkan kado entah apa isinya.


"Terimakasih... kalian perhatian," Tri menerima kado itu.


"Kenapa kalian sampai repot-repot begini?" tanya Arman. Arman heran selama ia mengajar banyak guru yang menikah tapi tidak seheboh ini.


"Karena kami senang, Pak Arman dan Bu Sulastri adalah guru terbaik kami, teladan kami," tutur Sabrina mewakili teman-teman.


"Terimakasih, sukses untuk kalian semua," siswa siswi mencium punggung tangan Lastri dan Arman sebelum akhirnya membubarkan diri.


"Ya ampun Mas... terharu aku," Tri tersenyum menatap kepergian siswa siswi.


"Aku juga sayang... sekarang kita ke ruang guru dulu, sebentar lagi masuk,"

__ADS_1


*********


"Cieee... cieee... pengantin baru..." benar saja, Sundusyah sudah menodong candaan. "Sudah mp belum?" bisik Sundusyah terkikik.


Tri hanya menggelengkan kepala sambil meletakan tas di meja sebelum bel masuk mereka beristirahat sejenak.


"Tri sudah belum?" Sundus mengulangi.


"Hus! kamu masih bau kencur Sun, tidak boleh tanya yang kaya begituan," Tri bergurau padahal Sundus seusia dengan nya.


""Kalian bicara apa bisik?" sambar bu Dedeh.


"Hehehe... pembicaraan anak muda Bu," Sundus terkikik.


Arman yang duduk tidak jauh dari kursi Tri sedang berbincang-bincang dengan Mustofa pun menoleh.


"Di sini tuh! Kantor sekolah, bukan panggung lawakan!" Bella yang baru datang berkata sinis.


Melihat kedatangan Bella, semua guru membubarkan diri masuk kelas masing-masing, sebenarnya belum bel, tapi mereka malas mendengar ocehan Bella pasti akan berbuntut panjang.


********


Prang


Prang


"Aaahhhh..."


"Brengsek! Kalian semua! Breengsseeekkk...!!" Sulis memekik hingga terdengar simbok yang sedang menyetrika pakaian.


Tok tok tok.


"Nyonya... ada apa nyonya?" simbok mengetuk-ketuk pintu dari luar. Namun tidak di jawab maupun di buka.


"Nyonya... Nyonya baik-baik saja?" simbok semakin panik. Tetap saja tidak ada jawaban, mbok yang merasa khwatir, bingung apa yang harus dilakukan, kemudian mendorong pintu tapi di kunci dari dalam.


"Brengseeekkk..."


Praaaannnngggg!"


Suara benda nembentur pintu di depannya membuat simbok terlonjak kaget. "Astagfirrullah..." mbok istighfar lalu menuruni tangga berlari ke perkebunan tidak ada jalan lain selain memanggil salah satu pekerja agar mendobrak pintu.


"Ada apa Mbok?" tanya pak Tono. Ia sahabat Suryo sesama pekerja di perkebunan yang sudah bertahun-tahun, ketika Suryo masih bekerja di perkebunan ini.


"Pak Tono, tolong Pak, Nyonya kesurupan," tutur simbok terengah-engah.


"Kesurupan? Yang benar Mbok?" Tono menghampiri.

__ADS_1


"Cepetan Pak, beliau mengunci pintu kamarnya khawatir kenapa-kenapa," panik simbok sambil berlalu di susul Tono.


"Nyonya... buka pintunya Nyonya..." kali ini Tono yang mengetuk pintu. "Kok sepi Mbok, jangan-jangan Nyonya sedang tidur, sudah ah, lebik baik, kita pergi saja khawatir kita malah mengganggu" kata Tono hendak kembali turun namun lenganya di tarik simbok.


"Jangan pergi Pak Tono, cepat dobrak pintunya," tukas mbok.


********


Jam dua siang Arman dan Lastri sudah berada di pesawat. Pulang dari sekolah mereka langsung berangkat karena jam tiga nanti pesawat lepas landas.


"Mas... rasanya aku ingin cepat sampai di rumah. Ayah sebenarnya sakit apa ya," itulah yang mengganjal di benak Tri.


"Kita lihat saja nanti sayang..." jawab Arman. Ia bersandar di jok melipat satu kaki menumpang ke paha. Kaca mata hitam bertengger di hidung membuatnya semakin tampan.


Lastri bersandar di pundak suaminya, 45 menit kemudian sampai di depan bandara internasional kota Y. Supir utusan pak Burhan sudah menunggu di luar.


"Selamat sore Den Arman," sapa supir pak Burhan menganggukan kepala sopan.


"Sore Pak," Arman menjawab singkat kemudian mempersilahkan istri nya masuk kedalam mobil dulu, baru kemudian Arman menyusul.


Di dalam mobil saling diam pikiran Arman melayang kemana-mana. Tentu memikirkan bagaimana keadaan ayahnya.


Sementara Lastri menatap sawah-sawah, sebentar lagi ia akan bertemu mertuanya lalu bagaimana sikapnya setelah sekarang Arman sudah menjadi suaminya? Apakah bu Sulis akan berubah?


Lastri tidak tahu jika dibalik ke angkuhan bu Sulis kepadaannya ternyata menyimpan dendam kepada kedua orang tuanya.


Tring


Tring


Arman ambil hp dari saku kemeja kemudian mengangkat.


"Hallo Mbok," Arman menjawab telepon.


"Den Arman... Nyonya Den?" terdengar kepanikan simbok di seberang telepon.


"Ada apa Mbok?!" tanya Arman intonasi suaranya naik. Tri yang duduk di sebelah Arman memandangi suaminya lekat.


"Iya Mbok," Arman menutup handphone. Wajahnya terlihat tegang.


"Pak Parno, keadaan Ayah bagaimana?" tanya Arman kemudian.


"Itulah Den, badanya demam sejak tadi malam mau saya antar ke dokter, beliau tidak mau," tutur supir.


Tidak banyak bicara lagi Arman segera telepon dokter yang biasa menangani keluarganya.


"Pak Parno, sebaiknya kita kerumah Ibu dulu, sebelum menjenguk Ayah," titah Arman.

__ADS_1


"Loh memang Ayah tidak sedang bersama Ibu, Mas, terus... Ayah tinggal dimana?" tanya Tri kaget. Ia belum tahu jika keluarga Arman mempunyai tempat tinggal yang lain.


"Nanti aku ceritakan;" pungkas Arman. Arman menarik nafas berat. Ayah sakit, sedangkan ibunya juga sedang tidak baik-baik saja. Arman yakin jika kedua orangnya pasti sedang bertengkar lagi. Arman tahu, jika Ayah sudah terlalu sakit hati dengan ibunya pasti akan menyendiri seperti sekarang.


__ADS_2