
Adnan menjauh dari tempat itu, saat ini gadis pujaan hatinya sudah menerima lamaran Arman. Adnan harusnya senang, tapi yang menjadi pertanyaan adalah; mengapa hatinya merasa tidak rela? Bukankah Adnan sendiri yang selalu mendukung Lastri agar cepat menjadi jodoh Arman. Namun ternyata di mulut dan di hati berbeda.
Adnan menepikan mobilnya di pinggir jalan kemudian turun, berjalan menuju kali. Tidak banyak yang bisa Adnan lakukan selain mendatangi tempat favorit Lastri. Ia duduk di pinggir kali. Kali yang berair jernih di kawasan salah satu wisata namun sepi, jarang ada yang menyaba cocok untuk menyendiri.
Adnan tahu tempat ini, tempat dimana Lastri, selalu menenangkan diri kala sedang ada masalah. Tidak jarang Adnan menemani Lastri disini.
"Semoga kamu bahagia Tri," gumamnya ia bersandar di pohon jati, sambil melempar batu kecil ke arah air yang jernih.
*******
"Papa... Adnan kemana?" tanya mama Fatimah, dari tadi mencari sosok putranya tidak bertemu, telepon pun rupanya tidak diangkat.
"Coba tanya sama Bella," usul papa Rachmad.
Beliau menemui Bella, yang sedang duduk sendiri, sibuk dengan hp.
"Bella, kamu lihat Adnan tidak?" walaupun tidak yakin mama Fatimah menanyakan kepada Bella.
"Tidak Ma," Bella menggeleng.
"Mencari siapa Tan?" Lastri bersama Arman, mendekati mama Fatimah.
"Adnan Tri, mungin menunggu di mobil, kami pamit ya Nak," Tante Fatimah pamit pulang.
"Baiklah Tan, Om Rachmad, terimakasih," jawab Lastri kemudian. Tante Fatimah pun ke tempat Parkir.
"Bella, Adnan rupanya sudah pulang, kamu pulang bareng Tante saja", titah tante Fatimah. Saat berangkat tadi Rachmad satu mobil dengan Fatimah. Sedangkan Adnan satu mobil dengan Bella.
"Baiklah Ma" mereka pun akhirnya pulang.
******
"Mbak, saya mau beli gamis, tapi yang tidak terlihat terlalu gemuk, kira-kira yang mana ya?" tanya salah satu Ibu bertubuh gemuk sedang memilih baju muslim.
"Oh... menurut saya Ibu cocok dengan gamis yang ini, ini kan motipnya bergaris... jadi jika Ibu pakai, tidak terlihat gemuk," Tri membuka gamis dari hanger, kemudian menempelkan di badan ibu gemuk itu.
"Boleh saya pas?" Ibu gemuk mengambil alih gamis dari tangan Tri.
"Silahkan Bu," Tri tersenyum menatap kepergian ibu masuk ke kamar pas.
"Kamu pinter sekali rupanya, meyakinkan pembeli," puji Arman.
"Meyakinkan juga tidak hanya agar dagangan kita laku Mas, tapi bagaiamana supaya tidak mengecewakan pelanggan," jawab Tri sambil membantu karyawan melayani pembeli.
"Waah... selamat ya Tri, butik kamu ternyata besar juga," Dina bersama Bayu yang baru datang mengejutkan Lastri dan juga Arman. Dina mengedarkan pandanganya ke sekeliling butik, masih banyak para remaja dan Ibu-ibu yang ingin mendapatkan promo.
"Terimakasih Din, kamu datangnya terlambat," mereka berpelukan.
__ADS_1
"Adik ipar, sukses selalu ya," Rini mencium pipi Tri kanan kiri, sedangkan Dimas menjabat tangan Arman.
"Kapan ya, aku bisa buka usaha seperti calon adik ipar," Rini berharap suaminya membolehkan ia usaha.
"Mbak Rini masih kurang memang," Tri geleng kepala.
"Bukan masalah kurang, nggak kurang Tri, tapi kita sebagai perempuan kadang ingin berkembang juga," Dina menyambung kata Rini kakak Iparnya itu. Sudah dua tahun menikah, Dina belum di beri momongan kadang merasa jenuh, kerjanya hanya menunggu suaminya pulang kerja.
"Memang... kamu sendiri, sekarang kesibukanya apa Din?" tanya Tri, semenjak Dina menikah mereka belum pernah bertemu lagi.
"Nggak ngapa-ngapain, bosan juga sih di rumah, tapi dilarang sama orang di sebelah aku ini," Dina mencubit pinggang suaminya.
"Aku ingin, istriku fokus mengurus aku Tri," jawab Bayu.
"Halah... pria berpikiran dangkal loe," sergah Arman berseloroh. Bayu hanya terkekeh.
"Memang dasar Bayu, otaknya cetek," Dimas menimpali.
"Jangan suka ngomong Mas, kamu sendiri apa? Memang kamu ngebolehin istrimu kerja," todong Rini pada suaminya.
"Wle," Bayu melet merasa ada bolo.
"Hihihi..." Tri cekikikan.
"Nanti sayang... kalau anak kita sudah besar, tahu sendiri kan? Aksa nggak mau dipegang sama orang lain," Dimas meyakinkan istrinya. Aksa saat ini baru tiga tahun tentu sedang minta perhatian Rini sebagai ibu kandungnya.
"Dina... kalau kamu suntuk, kesini saja, kalau aku sedang mengajar, bisa membantu aku mengurus butik ini, biar kak Bayu, menjemput kamu kesini," saran Lastri.
Dina menoleh Bayu, minta persetujuan.
"Boleh... yang penting jangan terlalu capek, biar kita cepat punya momongan," Bayu pun tahu maksud istrinya.
"Horee..." Dina memeluk suaminya, kegirangan seperti anak kecil.
Mereka bercanda ria kemudian Lastri mengajaknya duduk yang agak jauh dari pembeli.
"Tadi kata Ayah, Kakak sudah lamaran, terus kapan rencana kalian menikah?" tanya Rini membicarakan masalah lain.
"Rencana aku sih... dua bulan lagi. Tetapi aku akan mempersiapkan acara pernikahan nya di hotel, jadi mulai besok aku akan mulai mengurus, menurutmu bagaimana Tri?" Arman minta persetujuan Lastri.
"Aku setuju, tapi sebaiknya kita pulang dulu Mas, biar bagaimana... kita harus minta doa restu Ibu," Tri tentu ingin pernikahannya lancar.
Arman menatap Tri lekat, minta ijin Ibu? lalu bagaimana jika Ibunya masih kukuh dengan pendiriannya, menentang pernikahannya dengan Lastri? Oh ya Allah... Arman benar-benar bingung. Walaupun bu Sulis sudah tidak seantusias dulu ingin menjodohkan Arman dengan wanita lain, tapi yang Arman tahu, setiap membujuk ibunya. Bu Sulis tidak menerima Lastri, tapi juga tidak menolak.
"Mas kok malah diam sih..." Tri membuyarkan lamunan Arman.
"Kesambet kali? Orang diajak bicara serius kok malah bengong," kelakar Bayu.
__ADS_1
"Ah! Diam loe," Arman melempar tatapan kesal terhadap sahabatnya itu.
"Benar apa kata Tri Mas, sebaiknya memang Mas pulang dulu, temui Ibu," Rini menengahi.
"Menurut aku, besok kita pulang, sekalian aku mau mengabari Mbak Dwi sama Mas Eko," pungas Tri.
"Ok, tapi... apapun keputusan ibu nanti, seberapa besar beliau menentang kita, aku tidak ingin kamu merubah lagi keputusan kamu Tri," ucap Arman, seperti yang sudah disepakati bersama ayahnya.
"Iya Mas, aku mengerti," Lastri mengakhiri obrolan.
*******
Pagi hari setelah subuh, Lastri sudah berkemas menyiapkan beberapa pakaian memasukkan kedalam tas. Jam 6 nanti ia harus sudah berangkat ke bandara.
"Kamu jadi berangkat hari ini Nduk?" bu Santi tiba-tiba masuk ke dalam kamar Tri, yang tidak di kunci kemudian duduk di tepi ranjang yang berukuran size.
"Jadi Bu, doakan ya, agar bu Sulistyanengseh, merestui pernikahan kami," jawab Tri penuh harap.
"Aamiin..." bu Santi meraup wajahnya.
"Cuma Ibu pesan sama kamu Nduk, apapun yang dikatakan calon mertua kamu, jangan melawan ya Nduk," pesan bu Santi.
"Tentu tidak Bu, Ibu seperti tidak mengenal putri ibu sendiri," Tri tersenyum.
"Mbak Tri, Kak Arman sudah menunggu," Catur memanggil dari luar.
"Baik Tur, bilang saja suruh tunggu sebentar, aku salin baju dulu," ucapnya.
"Ya Mbak," Catur kemudian kembali keluar.
Lastri segera menutup pintu kemudian ganti baju, ia sudah mandi sebelum subuh tadi.
"Pesawatnya berangkat jam berapa Nduk?" tanya bu Santi, kemudian membantu putrinya menyisir rambut panjanganya lalu mengikat sebelum di pasang jilbab.
"Jam delapan Bu, tapi jam tujuh harus check in," jawab Lastri menatap bu Santi, dari pantulan cermin.
"Hati-hati ya Nak, salam buat Dwi sama Mas Eko ya," pesan bu Santi.
"Baik Bu,"
Lastri bersama Arman kemudian berangkat ke bandara numpang taksi.
*****
Apakah yang akan dihadapi saat Lastri dan Arman di kampung nanti??
Mohon dukung terus ya gaes, beri like, comment agar yang nulis semangat," 💪💪💪❤❤❤.
__ADS_1
.