Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 35


__ADS_3

Semilir angin sore menerpa wajah wanita setengah baya yang masih cantik menginjak usia 47 tahun. Ia adalah mama Fatimah, di ballroom rumah beliau sedang merenung sendiri.


Bak makan buah simalakama itulah yang dirasakan beliau. Perjodohan yang mereka sepakati saat Adnan masih SMK dulu, membuat keluarganya menjadi tidak lagi rukun seperti dulu.


Flashback on.


6 tahun yang lalu papa Achmad menderita gagal ginjal, saat mencari donor kemanapun tidak ada yang cocok. Pada akhirnya rekan kerja papa Achmad menawarkan satu ginjal miliknya. Yakni papa Bella.


Dengan rasa syukur papa Achmad akan memberikan apa pun yang akan papa Bella minta. Karena sudah menyelamatkan nyawanya yang sudah di ujung tanduk.


Papa Bella tidak minta apa pun, yang terpenting papa Achmad rela menjodohkan Adnan pada Bella putrinya.


Papa Achmad dan mama Fatimah menyetujui, pada saat itu, papa Achmad dan mama Fatimah belum mengetahui tabiat Isabella.


Kini mama Fatimah benar-benar sedih, beliau sendiri pun tidak rela putranya menikah dengan wanita macam Isabella.


Jika boleh memilih mama pun sependapat dengan Adnan yang sudah mencintai Lastri saat masih SMK dulu.


Mama Fatimah mengenal Lastri saat, di copet dompetnya oleh penjahat, lalu dengan kemampuan silat yang Lastri kuasai mampu mengalahkan tiga penjahat sekaligus.


Flashback off.


"Ma" Adnan memegang bahu Fatimah kemudian duduk di sebelahnya.


"Kok kamu menyusul ke sini, sudah selesai bertengkar dengan Papa?" Mama Fatimah tersenyum miris.


"Siapa yang bertengkar sih, Ma. Adnan tahu kok batasanya, bagaimana harus bersikap," ujar Adnan.


"Sekarang kita ke bawah Ma, papa nyari Mama dari tadi," Adnan membantu Mama berdiri lalu mengajaknya ke lantai dasar.


*********


Hari minggu saatnya pernikahan Dina sahabat Lastri, dengan Bayu sahabat Arman, di laksanakan.


Lastri membuka lemari mencari baju yang cocok untuk acara pernikahan Dina.


"Yang mana ya? yang ini... yang itu? atau... ah, yang ini saja," Tri berbicara sendiri. Pilihanya jatuh pada batik muslim untuk acara pernikahan. Batik yang ia jahit sendiri bahan yang ia beli di daerah asal saat pulang kampung dulu.


Ia mematut diri di depan cermin tersenyum sendiri, dengan baju batik yang Tri kenakan terlihat lebih rapi dan santun.

__ADS_1


Lastri memoles wajahnya dengan sentuhan muke up tipis, perona bibir tipis pula. Ia harus tampil berbeda hari ini. Selain menghormati sahabatnya, terlebih Tri akan di jemput oleh Arman. Tri harus tampil jangan memalukan Arman.


Setelah terlihat rapi Tri berjalan ke depan ternyata Arman sudah menunggu di ruang tamu berbincang-bincang dengan Catur, pak Suryo dan bu Santi juga.


Arman menatap Tri tidak berkedip, tidak dandan saja Tri sudah cantik apa lagi di tambah dengan polesan sedikit sungguh sangat memikat hati.


"Pak, Bu, aku berangkat ya" pamitnya kepada kedua orang tuanya


"Hati-hati ya Nak" pesan bu Santi dan juga pak Suryo.


"Iya Pak, Bu." setelah salim Tri segera keluar rumah, di ikuti bu Santi.


"Jaga adik saya, Kak Arman," Catur berpesan.


"Jelas dong, adik ipar" kelakar Arman.


Arman menyusul Lastri yang sudah menunggu di depan pagar diantar bu Santi. Arman lalu membukakan pintu untuk gadis kecilnya. Kemudian Arman berputar menuju pintu kemudi setelah mengangguk sopan pada kedua orang tua Tri, mobil pun berlalu.


"Kamu cantik banget," Arman menoleh sekilas .


Tri melengos ke tepi jalan, menyembunyikan rasa malu.


"Ih nggak kucu, tahu?" Tri akhirnya menoleh.


"Sabuk pengamannya di pakai dong... atau... aku pasangkan seperti di novel-novel itu..." Arman melirik pinggang Tri yang belum di pasang, sabuk.


"Lupa, maklum... biasanya kan numpang angkutan umum, begitu numpang mobil mewah jadi norak," sindir Tri tanpa menatap pria di sebelahnya justeru sibuk memasang sabuk.


"Kata siapa, kamu selalu numpang angkutan umum? Perasaan aku sering melihat kamu di antar Adnan," sindir Arman.


"Nggak sering juga sih... tapi kadang-kadang," keduanya lantas diam hingga beberapa saat.


"Oh iya Mas, sahabat-sahabat aku yang di kampung di undang, sama Dina nggak?" Tri mengalihkan. Sudah lima tahun, Lastri tidak bertemu dengan ketiga sahabatnya alangkah bahagianya, jika hari ini bisa bertemu.


"Nggak tahu juga sih, kita lihat saja nanti," jawab Arman.


Mereka sampai di salah satu hotel bintang lima. Di situlah resepsi pernikahan Dina di selenggarakan.


"Gandengan dong, biar romantis sedikit," goda Arman terkekeh.

__ADS_1


"Ngarep" Lastri tersenyum miring. Mereka sudah turun dari mobil berjalan menuju lift.


"Lastri..." panggil seorang wanita saat sedang menunggu lift terbuka, wanita itu berjalan cepat kearahnya bersama seorang pria menggendong anak kecil, mengejutkan Lastri dan Arman.


"Kak Rini, Kak Dimas..." pekik Lastri. Mereka lantas berpelukan.


"Bagaimana kabar kamu Tri?" tanya Rini menatap Tri dan Arman bergantian. Rini senang sekali rupanya Tri sudah kembali pada kakaknya.


"Baik Kak Rini. Kak, kenapa Kak Rini bisa bersama Kak Dimas? Lalu yang Kak Dimas gendong itu anak siapa?" cecar Lastri.


"Ini keponakan aku Tri, kamu sih... nggak mau cepat aku ajak menikah, jadi di langkah deh sama Rini," Arman menyahut. Seraya ambil alih keponakannya dari gendongan Dimas.


"Kalian cepat menikah dong, jangan bolak balik kaya gosokkan," Dimas geleng-geleng kepala.


"Oh ya Allah... Jadi Kak Rini, menikah dengan Kak Dimas?" Tri melebarkan mata seraya mulut menganga tidak menghiraukan candaan Dimas.


"Iya Tri, satu tahun kami menikah, terus brojol ini," kelakar Rini menyentuh kepala putranya di sambut tawa oleh mereka.


Hingga akhirnya lift terbuka mereka masuk bersama. Di dalam lift pun masih melanjutkan obrolan, tidak terasa lift terbuka diangka tiga, mereka kemudian keluar.


Gemerlap pesta di ballroom hotel tamu silih berganti. Antrian mengular yang hendak memberi ucapan kedua mempelai, rombongan Arman terpaksa duduk dulu.


"Mas, aku ke toilet bentar ya" Tri berkata pada Arman.


"Okay... aku antar ya" Arman menjawab. Tetapi rupanya Tri sudah menjauh hanya memberi tanda penolakan dengan telapak tangan.


"Kak, sudah lama, Kakak jadian?" Rini memegang punggung tangan Arman di atas meja.


"Baru beberapa hari," Arman menjawa singkat.


"Mendingan cepat lamar deh Kak, mumpung kalian akur," Dimas memberi usul kali ini berkata serius.


"Iya Kak aku setuju, tapi... bagaimana caranya untuk meyakinkan Ibu, sampai saat ini, Ibu masih tidak merestui Kakak," kata Rini menatap sendu wajah Arman. Nasip kakaknya tidak beruntung seperti dirinya ketika dilamar Dimas langsung disambut bu Sulis, dengan tangan terbuka. Wajar, karena Dimas berasal dari keluarga kaya.


"Aku ada ide Rin, dan ideku ini sudah di dukung oleh Ayah," Arman bersemangat.


"Oh gemana Kak?" Rini seperti tidak sabar mendengar cerita kakaknya.


"Aku akan menikah dengan Lastri di sini, tanpa sepengetahuan Ibu," Arman bertekat dan sudah bulat.

__ADS_1


.


__ADS_2