Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 56


__ADS_3

Tok tok tok


Pintu kamar pengantin ada yang mengetuk namun Tri malas membuka nya. Saat ini ia rasanya ingin sendiri.


"Tri... buka pintunya, ini aku," suara berat terdengar dari luar pintu kamar.


"Tri buka dong... kamu kenapa? Di luar sana orang-orang mencarimu," kata Arman lembut.


Ceklak


Setelah membuka pintu Lastri kembali balik badan, tanpa menatap suaminya yang baru sah itu.


"Tri" Arman berjalan cepat menyandak tubuh tinggi semampai itu lalu memeluknya dari belakang. Inilah pelukan yang pertama kali selama bertahun-tahun menjadi kekasihnya.


Dada Tri terasa berdebar kencang berkolaborasi dengan dada Arman. Kedua nya sama-sama merasakan gelora cinta yang membara.


Sesaat Tri lupa akan kisahnya seorang menantu yang tidak di akui oleh mertua. Pelukan hangat Arman selayaknya obat mujarab penyembuh hati Tri.


Namun Tri kembali sesak saat tersadar dari ingatan kemudian melepas tangan Arman yang masih merangkul perutnya.


Tri kemudian duduk lemas di kursi meja rias menopang dagu seraya berkaca ada apa dengan wajah nya, hingga mertuanya selalu membencinya?


"Tri... ini kan hari bahagia kita, masa kamu sedih begini sih..." Arman kembali memeluk pundak Tri lalu memandangi wajah Tri di cermin.


"Sayang..." panggilan Arman membuat Tri terkejut lalu memandangi bayangan wajah Arman di kaca yang masih betah memeluk pundaknya.


"Pasti kamu memikirkan Ibu kan? Aku tahu Kok bagaimana perasaan kamu, karena aku pun merasakan hal yang sama" wajah Arman berubah sedih.


"Aku juga sedih Tri, pernikahan kita yang sudah aku tunggu bertahun-tahun dengan harapan bisa ditunggui orang yang kita sayang terutama Ibu," tersirat pendar kekecewaan di mata Arman.


"Aku ingin dukungan orang-orang yang aku kasihi terutama Ibu," mata Arman berair.


"Tapi... aku harus terima kenyataan bahwa ibu yang melahirkan aku jangankan mendukung, datang pun tidak," lirih Arman. Di balik ketegaran Arman ternyata menyimpan luka di hati nya.


"Tapi... mau apa lagi? Jika aku larut dalam kesedihan dan terus menerus memikirkan ibu yang ada justeru membuat hati aku makin sedih" Arman menempel kan dagunya di kepala Tri.


"Mas" Tri seketika berdiri balik badan memegangi dua sisi tangan suaminya. Tri menatap lekat wajah suaminya ternyata selama ini Arman pun pura-pura bahagia.


Membuat Tri merasa iba, ternyata bukan hanya dirinya yang merasa tidak di anggap.


Tri menatap mata Arman yang teduh membuat hatinya merasa bersalah seharusnya ia hadapi sama-sama bukan justeru membuat hati suaminya bertambah sedih.

__ADS_1


"Kita memang tidak di hadiri Ibu Tri, tapi kita harus senang karena semua keluarga kamu mendukung kita, tidak hanya itu, Ayah dan Rini juga datang kan," Arman berkata panjang lebar.


"Maaf Mas" lirih Tri mencium punggung tangan kekar itu.


"Kenapa kamu justeru yang minta maaf, aku lah yang seharusnya minta maaf sama kamu, karena Ibu selalu melukai hati, dan perasaan kamu," Arman kemudian memeluk tubuh istrinya dan menenggelamkan wajah Tri di dadanya. Kedua dada pasutri itu berdentam-dentam berkaraoke bersama.


Arman merasakan ada hasrat yang lain, jiwa laki-laki-nya bergejolak. Seketika ia tersadar saat ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan itu. Arman kemudian merenggangkan pelukanya. "Kita keluar yuk, kalau kita di kamar terus nanti dikira..." Arman tersenyum tidak melanjutkan ucapanya.


"Iihh..." Tri pun tahu maksud suaminya menunduk malu.


Arman mengangkat dagu wanita cantik di depannya kemudian mencuri bibir yang berwarna merah.


Tri menggerak-gerakkan kepala ingin lepas dari serangan Arman yang tiba-tiba. Namun tenaga Arman lebih kuat dan melanjutkan permainannya yang terasa menyenangkan.


Tri pun merasakan sesuatu nikmat yang belum pernah ia rasakan, justru mengalungkan lengan di tengkuk suaminya ada rasa berbeda, namun Tri tak ingin kebablasan kemudian melepas tangannya.


"Uaum... uaum..." suara Tri tidak jelas ingin Arman segera menyudahi pagutan.


"Hooss... hoooss..." Keduanya tampak ngos ngosan.


"Kita kembali ke masjid yuk," kata Arman.


Tri hanya mengangguk kemudian bergandengan tangan hendak ke masjid. Namun ternyata semua keluarga dekat sudah kembali.


"Sudah ayo," Arman mengaitkan jari.


"Mas... bagaimana ini? Aku malu, mataku bengkak," rengek Tri.


"Nggak ngapa-ngapa Tri, mereka pasti mengerti," Arman menarik jemari istrinya menuju ruang tamu.


"Waah... pengantin baru ngumpet di kamar terus, nggak sabar menunggu malam ya?" kelakar Dimas terkekeh.


"Jangan bawel!" ucap Arman singkat.


Tri tersenyum kecut tidak sepatah kata pun berbicara.


"Aska..." sapa Tri mencolek pipi bocah montok itu gemas. Ia di gendong Dimas karena Rini sedang menyiapkan perlengkapan anaknya karena jam 11 nanti akan berangkat ke hotel.


"Tri, kamu kemana aja sih? Di cari-cari perias pengantin sudah menunggu," kata Dina bersama Bayu, menghampiri sahabatnya.


"Kamu Din, kaya nggak tahu saja, pasti sahabatmu ini sedang di icipin sama Arman," seloroh Bayu langsung kena jitak oleh Arman.

__ADS_1


"Oh iya," Lastri segera menarik tangan Dina, cepat-cepat pergi dari ruang tamu, malu mendengar candaan Bayu yang tidak di saring dulu.


Tri meninggalkan para pria melewati sanak saudara yang sedang bersiap-siap ke hotel nanti.


Ia ke kamar rias disana MUA sudah menunggu.


"Tadi kemana Non, kok baru datang?" tanya MUA.


"Sedang istirahat Mbak," jawab Tri, kemudian duduk akan segera di rias.


MUA menatap Tri seksama. "Non, baru habis menangis?" MUA tahu sebab mata Tri masih sembab.


"Iya Mbak, waktu sungkeman tadi," jawab Tri tidak seluruhnya berbohong.


"Nanti kentara banget Ngak Mbak?" tanya Dina.


"Tenang saja Non, nanti saya sulap sembabnya hilang," ketiganya terkikik.


Lastri segera di rias, riasan yang awal di hapus karena sudah belang terkena air mata.


Sementara Dina di rias oleh perias lain bersama Yuyun, Fera dan Sundusyah.


"Tri tadi kemana, Din? tanya Fera yang selesai dirias lebih dulu.


"Nggak tahu, tadi aku lihat, sedang bersama Pak Arman, kamu nggak lihat sih, kasihan banget ia sepertinya kacau sekali," kata Dina.


"Memang ada masalah apa sih Din? Tadi juga waktu akad nikah ada yang berbisik mertuanya tidak datang," selidik Yuyun.


"Nggak tahu lah, itu sih urusan intern keluarga mereka kita tidak usah tahu," walaupun Dina tahu bagaimana hubungan Tri dengan mertuanya. Dina tidak ingin memberi tahu reman-teman nya.


"Sekarang siapa dulu nih?" tanya MUA, setelah Yuyun dan Fera sudah tampil cantik.


"Kak Sundus saja dulu saya belakangan," usul Dina.


"Terimakasih ya Din," akhirnya Sundus gadis kurus kering mendapat giliran.


"Biarin saja, Dina kan belakangan, kalau nggak kebagian waktu, pasti Dia mewek," kelakar Fera lantas semua tertawa.


"Nggak ngapa-ngapa nggak kebagian, toh gw sudah cantik dari sananya," pungkas Dina.


*******

__ADS_1


Tibalah saatnya mobil yang mengantar pengantin melaju lebih dulu menuju hotel, di iring mobil yang lain.


.


__ADS_2