
Bella menatap kepergian Lastri dengan rasa marah. Hari ini ia sudah tidak ada mood untuk mengajar. Ia hanya enak-enak kan duduk di ruang guru sambil mengorek-ngorek pojok kuku jempol sekali-kali menciumnya.
"Bu Bella, mohon maaf, anak-anak di kelas Anda gaduh sekali," pak kepsek yang sedang dari luar melihat Bella sedang santai, memperingatkan.
"Kasih saja, jadwal saya ke Guru piket Pak, saya sedang tidak mood mengajar, gara-gara Lastri," adunya sungguh tidak profesional.
"Tidak bisa begitu Bu Bella, semua Guru di sini, sudah tidak ada yang menganggur," pak kepsek menjelaskan, lalu duduk di meja kerjanya bergijabu dengan tugas.
"Malas Pak, lagi pula jika saya sedang mengajar anak-anak tidak ada yang menghormati hak saya sebagai Guru!" sahutnya dengan nada ketus.
"Bu Bella, menjadi seorang Guru, jangan hanya ingin di dengar oleh murid-murid Anda saja, tetapi Anda juga harus mendengarkan kesulitan mereka," kata pak kepsek diplomatis.
"Ah susah ya, bicara dengan Guru-guru di sini, tidak ada yang bisa mengerti," sungut Bella.
Bella segera berkemas tidak lagi perduli dengan pak kepsek yang sedang menatapnya tidak mengerti.
"Saya permisi pulang Pak," Bella bergegas keluar dari ruang guru, tanpa menunggu jawaban kepsek.
Ia menylempang tas, kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan sekolah.
10 menit kemudian, Bella sampai di rumah berlantai dua, yang berhalaman luas.
Tin... tiiinnn... tiiiinnnn..."
Suara klakson terdengar memekakkan telinga satpam, yang sedang bertugas di dalam pagar. Pria bertubuh tegap itu bergegas membuka pagar.
Mobil masda merah marun itu segara masuk halaman rumah.
"Selamat siang Non," ucap satpam seraya kembali menutup pagar.
"Siang, Mama Fatimah nya ada?" Bella bertanya tanpa menatap lawan bicara. Ia justeru memasukkan kunci mobil ke dalam tas.
"Ada Non" satpam menjawab singkat.
Bella berjalan sambil menyingkirkan kerudungnya yang Ia pakai asal. Ia sebenarnya malas mengenakan kerudung tersebut. Akan tetapi, persyaratan mengajar di pondok Al INNAYAH harus berpakaian demikian.
"Selamat siang, Ma," sapa Bella. Ia memanggil Tante Fatimah memang dengan sebutan Mama.
__ADS_1
"Waalaikumsalam..." sindir mama Fatimah yang sedang membantu bibi menata makan siang.
"Heheh, lupa Ma," alasan Bella. Padahal mama Fatimah sering menasehati calon menantunya itu, jika masuk ke dalam rumah harus mengucap salam agar tidak membawa serta makhluk halus.
"Loh memang kamu tidak mengajar? Kok sudah pulang?" tanya tante.
"Tidak ada jam Ma," bohong Bella. Tanpa di suruh, Bella ambil gelas, memencet dispenser meneguknya sambil berdiri. Membuat tante Fatimah menggeleng lemah.
********
Sementara di lantai dua. Adnan merenggangkan kedua tangan, mengecek laporan keuangan kampus yang di kirimkan anak buahnya sejak pagi membuatnya pegal.
Jika pondok pesantren Al Inayah di kelola oleh Bella. Di kampus dimana Lastri kuliah dulu sudah diserahkan kepada Adnan.
"Kruk... kruuk... kruuukk..." perut Adnan berbunyi nyaring memang sudah saatnya minta diisi. Ia mematikan komputer kemudian beranjak biasanya jam segini mamanya sudah menyiapkan makan siang.
Adnan mendorong handle pintu kemudian keluar. Namun baru beberapa langkah menapak anak tangga. Adnan memincingkan mata. Pasalnya, orang yang tidak di sukai sedang ngobrol dengan mamanya di meja makan.
Adnan balik badan kembali ke kamar kemudian menguncinya dari dalam. Rasa laparnya pun seketika hilang.
Adnan merebahkan tubuhnya di kasur. "Huh! kenapa harus ada monster itu datang kemari sih? Mengganggu saja!" gerutunya.
Beberapa menit kemudian pintu kamar Adnan diketuk.
"Den... makan siang sudah siap..." ternyata bibi yang memanggil.
Adnan menutup telinganya dengan bantal, lebih baik ia pura-pura tidur. Adnan benar-benar malas bertemu dengan Isabella.
Bibi terpaksa kembali ke lantai bawah dengan tangan kosong. "Nyonya, Den Adnan rupanya sedang tidur," ucapnya.
"Ya sudah Bi, biar saja, mungkin Dia terlalu capek," tante Fatimah menjawab santai.
"Biar Bella yang bangunin ya Ma," Bella ingin beranjak dari duduk nya.
"Tidak usah Bella, biarkan saja kita tunggu Papa saja sebentar, Adnan biar nanti makan belakangan," mama Fatimah beralasan. Beliau tidak membiarkan Bella masuk ke kamar putranya yang jelas bukan muhrim nya.
"Adnan kemana?" tanya Papa Rachmad yang baru keluar dari ruang kerja.
__ADS_1
"Dia sedang istirahat Pa, biarkan saja," pungkas Fatimah. Di meja makan tampak hening, hanya terdengar dentingan sendok. Selesai makan papa Rachmad dan Bella ngobrol di ruang keluarga.
"Bella, bagaimana perkembangan sekolah, kenapa kamu tidak pernah melaporkan kepada kami," Papa Rochmad tampak serius.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan Pa, tapi saya mau usul, bagaimana jika ada guru yang tidak mematuhi peraturan sekolah, kita langsung pecat saja," Bella berkata seenaknya.
"Maksudnya tidak patuh itu, menurutmu yang seperti apa Bella?" papa Rachmad ingin tahu dari mulut Bella sendiri, tidak percaya begitu saja, dengan laporan putranya tentang kinerja Bella yang kadang tidak manusia terhadap guru maupun siswa.
"Yah... misalnya saja ada Guru yang melangkahi wewenang yayasan, sok-sok-an membantu Siswa dengan dalih kurang mampu," tegas Bella, yang dimaksud adalah; Tri.
"Papa Rochmat kan tahu, sudah menjadi konsekuensinya, para orang tua harus mematuhi peraturan sekolah. Jika tiap orang tua yang tidak mampu membayar lantas ada guru yang membantu, bisa keras kepala mereka, dan ikut-ikutan minta dibantu." Bella berpendapat.
"Nah ini, seharusnya tugas kita untuk membantu mereka Bella, bukankah dana yang harusnya, untuk anak berprestasi masih banyak. Kita alokasikan saja untuk mereka," jawab papa Rachmad bijak.
"Betul kata Papa Bella, seharusnya kita malu dengan guru yang baik hati itu, bukan justeru memecatnya," Mama Fatimah yang baru keluar dari dapur menambahkan.
Bella menoleh ke arah mama Fatimah tidak percaya beliau akan berbicara seperti itu.
Semua lantas terdiam. "Bella, jika saya mempercayakan yayasan itu kepadamu.Tetapi bukan berarti kamu bisa dengan mudah memecat guru dan mengeluarkan siswa," papa Rachmad menatap Bella tidak percaya akan jawaban Bella yang tidak memuaskan.
"Tapi Pa," potong Bella.
"Bella, Papa mendirikan yayasan itu, tidak hanya semata-mata mencari uang. Tetapi tujuanya untuk kemanusian, menolong sesama, dan juga untuk ladang beribadah, jadi kami mohon kamu jangan salah artikan." tukas papa Rachmad.
******
Sementara di tempat yang berbeda, waktu sudah sore, Arman pulang mengajar bersama kekasihnya.
"Loh kita mau kemana Mas?" Lastri menatap jalanan tetapi mobil Arman bukan ke arah rumahnya.
"Nanti kamu juga tahu, sekali-kali dong kita jalan-jalan Tri, jangan kerja terus, lama-lama kepala kamu bisa botak sebelum waktunya. Ahahaha..." kelakar Arman.
Lastri menoleh Arman yang sedang fokus menyetir. "Iya, orang kaya bisa bicara begitu, karena tidak pernah merasakan bagaimana, rasanya perut sakit karena kelaparan," Tri berbicara serius.
"Tri..." Arman merasa bersalah karena bercandanya telah menyinggung perasaan Tri.
"Jika hanya satu perut yang lapar bisa di ikat dengan stagen agar terasa kenyang, tapi kalau sudah menyangkut anak-anak yang masih kecil. Mana bisa mereka berpikir, yang mereka tahu harus ada makanan saat itu juga," Lastri seketika ingat adik-adik ketika kelaparan dulu.
__ADS_1
.