Perjuangan Sulastri.

Perjuangan Sulastri.
Bab 42


__ADS_3

Arman memeluk tubuh bu Sulis dari belakang memohon agar bu Sulis merestui hubungannya dengan Lastri ke jenjang yang lebih serius.


"Tidak Ar, sampai kapanpun Ibu tidak akan merestui hubungan kalian, apa lagi sampai menikah," tandas bu Sulis.


Arman tidak melanjutkan ucapanya, jika sudah begini, bu Sulis sudah pasti tidak akan mendengar kata-kata Arman lagi.


"Sudah ya, Ibu mau temui besan dulu, ngobrol sama dia sebentar, terus kerumah kamu," pungkas bu Sulis.


Tidak ada pilihan lain bagi Arman selain mengikuti kemauan Ibu dulu. Namun Arman akan membuat hati bu Sulis luluh hingga menerima Tri.


********


Seminggu kemudian, Lastri sudah masuk kuliah, dengan semangat yang luar biasa ia hendak berangkat.


Arman pun tak kalah semangat, pagi-pagi sekali ia sudah menjemput kekasih hatinya ke rumah Lastri, hendak mengantar ke kampus barunya.


"Memang Mas hari ini, tidak mengajar?" tanya Lastri ketika sudah di dalam mobil.


"Ngajar, kebetulan hari ini ngajar jam kedua, sekarang kan mau antar calon istri dulu," ucapnya tersenyum.


Lastri hanya menjab saja. "Oh iya Mas, Ibu sudah pulang?" ingat calon istri, seketika Lastri ingat bu Sulis. Lastri sebenarnya ingin menemui bu Sulis, selagi masih di Jakarta. Tetapi rasanya tidak yakin akan disambut baik, jadi lebih baik Tri mengurungkan niatnya.


"Sudah. Ibu pulang dua hari yang lalu numpang pesawat," Arman menjawab. Tapi terasa berat sebab sudah membujuknya berhari-hari dengan berbagai macam cara agar menerima Lastri namun tidak juga luluh.


"Maaf ya Mas, aku nggak bisa temui Ibu," kata Tri menyesal.


"Nggak apa-apa, jangan dipikirkan, aku malah nggak mengizinkan jika kamu menemui Ibu sekarang, aku akan membujuknya perlahan-lahan," Arman penuh keyakinan.


"Kenapa ya Tri, kisah kita ini terlalu rumit? Padahal orang-orang itu bisa dengan mudah untuk mendapat restu orang tua mereka, yang terpenting anaknya bahagia, tapi kita?" Arman menggeleng lemah.


"Sudah... Jangan di bahas, sudah jelas kan jawabanya Mas, karena aku terlahir dari keluarga miskin," jawab Tri apa adanya.


"Yah... sebenarnya tidak juga, itu hanya karena Ibu yang pikiranya masih kolot, jika di dunia ini jodoh di tentukan kaya atau miskin, tentu banyak manusia yang gagal menikah," jawab Arman diplomatis.


"Iya sih, tapi kan kita sedang membahas kita Mas, bukan orang lain, dan kenyataannya memang kisah kita seperti itu," Lastri menjawab santai.

__ADS_1


"Sudah berapa kali aku katakan sih Mas, jangan terlalu ngebet, aku juga tidak ingin terburu-buru menikah, doakan saja aku sukses, agar jalan kita dipermudah," kata Tri optimistis.


Sambil berbincang-bincang mobil melaju lambat, jalanan agak macet.


Mereka sampai di kampus yang sudah hampir 4 tahun Tri duduki. Dan kini ia akan kembali duduk di sini, berjuang dan terus berjuang.


"Aku turun di sini saja Mas," kata Tri.


"Waah... kampus kamu luas sekali ya," Arman geleng-geleng menatap luasnya kampus berbagai macam jurusan.


"Betul Mas, aku bangga bisa kuliah di sini. Di sini aku banyak mengenal orang dari berbagai suku bangsa Indonesia," Lastri tersenyum ketika ingat di kampus yang sebelumya, di buli habis-habisan oleh wanita yang bernama Bella, tapi di sini, Lastri bisa menemukan ketentraman hatinya.


"Tahu nggak Mas, waktu aku pertama tes mau masuk kampus ini, yang daftar 100 san ribu orang, dan ternyata nama aku tercantum di situ," mengingat saat itu, Lastri tidak menyangka bisa bersaing di kampus ini, bukan diukur dari materi, tapi dengan kemampuan otak yang mereka miliki.


Di sini Lastri bisa merasakan duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.


"Aku turun Mas, kenapa malah ngobrol disini sih," Tri kemudian membuka pintu mobil.


"Nggak sun dulu," Arman terkekeh.


"Okay... sun dulu nih," Tri menempelkan buku tebal ke wajah Arman. Keduanya lantas tertawa.


"Terimakasih Pak Guru, semangat juga," Tri melambaikan tangan sebelum akhirnya masuk ke dalam kampus.


Tri berjalan lurus ke depan tidak berhenti walaupun kanan kiri beberapa pria bersiul minta perhatian Tri. Seperti tujuanya untuk menuntut ilmu tidak akan menoleh jika belum menggenggamnya.


Sampai di kelas Tri memindai sekeliling hanya ada beberapa siswa siswi yang masuk. Ia segera duduk di bangku paling depan membuka buku tebal, menunggu dosen datang ia membaca buku.


Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia bagi Lastri, disela-sela aktifitas belajar juga harus ia prioritaskan.


"Selamat pagi," sapa Pria bertubuh jangkung menghampiri Lastri.


"Selamat pagi," Lastri mendongak, menatap pria itu, jika di lihat sepertinya tidak asing.


"Kamu," Tri menunjuk wajah pria yang dulu hitam dan dekil itu, kini berubah menjadi tampan.

__ADS_1


"Kamu lupa dengan sahabat kamu sendiri? Huh sombong!" pria itu tolak pinggang di depan Lastri.


"Widodo?" Tri berbinar-binar. "Benar kamu Widodo? sahabat aku yang dekil itu, heh! Kamu operasi plastik ya?" kelakar Lastri.


Widodo sahabat Tri ketika SMP, saat itu mereka selalu bersaing secara akademik. Mereka selalu berbeda satu peringkat yaknTri lebih unggul dari Widodo.


"Oh my god... Jangan sampai lah... idih, wajahku ini titisan Ayah Ibuku yang sudah tampan dan cantik dari orok, kalau aku jelek nanti dikira anak tetangga dong! Hahaha..." Widodo terbahak-terbahak.


Widodo kemudian duduk di bangku bersebelahan dengan Lastri.


"Wid kamu S1 nya kuliah dimana?" tanya Tri.


"Di kampus Daerah kita lah, tapi saat S2 aku ingin keluar dari daerah, dan mencoba ikut tes, eh ternyata justru ketemu kamu disini," Widodo tampak senang.


"Tri kamu semakin cantik saja, bagaimana kabar kamu?" Widodo memutar kursi duduk berhadapan dengan Lastri.


"Ya jelas cantik lah, Bapak sama Ibu aku kan, sudah tampan dan cantik dari orok, jika aku jelek nanti dikira anak tetangga dong," Tri menirukan ucapan Widodo. Keduanya lantas tertawa.


"Oh iya Wid, bagaimana kabar Resty sama Yanti?" kali ini Tri serius.


"Mereka langsung pada menikah,Tri, Resty anaknya sudah dua tahun, terus Yanti sudah tiga tahun," tutur Widodo.


"Yah... kenapa nggak ada yang undang aku sih?" sesal Tri.


"Mau undang kamu kemana? Kamu saja kabur, kami tanyakan Mas Eko. Malah Mas Eko sengaja menutupi." jawab Widodo memang benar adanya.


Di daerah Tri masih jarang yang kuliah, biasanya jika tidak merantau mencari kerja, di Jakarta. Teman-teman Tri langsung menikah.


Tidak lama kemudian dosen wanita datang berkenalan sebelum menyampaikan materi.


******


Hingga siang hari saatnya pulang kuliah, Tri segera berkemas karena ia ingin lanjut mengajar.


"Tri, kamu tinggal dimana? Aku minta alamat" Widodo mengantar Tri sampai di tepi jalan, karena Widodo tinggal di asrama. Tidak banyak bicara Lastri memberikan secarik kertas berisi alamat.

__ADS_1


"Terimakasih," jawab Widodo lalu memasukan alamat ke dalam tas.


"Wid, aku pulang ya, sampai bertemu besok," Tri segera naik mobil Arman karena sudah di jemput.


__ADS_2